Karir

Selamet Wuryadi, Sosok Peternak Puyuh yang Tak Ingin Sukses Sendirian

16 Mei 2019   06:29 Diperbarui: 16 Mei 2019   07:45 9 0 0
Selamet Wuryadi, Sosok Peternak Puyuh yang Tak Ingin Sukses Sendirian
Gambar 1. Selamet Wuryadi, seorang peternak puyuh sukses inspirasi banyak orang.| Sumber Trubus

Sukabumi- Selamet Wuryadi, nama yang sudah tidak asing lagi dikalangan para peternak Indonesia. Pria kelahiran Jepara 1971 ini, telah menikmati hasil kerja keras dari usaha agibisnis yakni sebuah bisnis peternakan burung puyuh yang telah mengantarkannya ke puncak kesuksesan. Selamet mulai beternak puyuh sejak tahun 1992 dan kota pertama yang ia tuju adalah Sukabumi. Hal tersebut karena ia percaya, bahwa Sukabumi adalah daerah potensial untuk dijadikan lahan usaha agribisnis.

Dengan hanya bermodalkan bibit telur puyuh sebanyak 600 butir, Selamet memulai kisahnya dalam merintis usaha ini bersama sang istri dan sekarang terbukti puyuh Selamet sudah mencapai 30-40 ribu ekor puyuh. Kala itu area peternakan Selamet masih menjadi satu dengan rumah tempat tinggal mereka. Namun kini berubah menjadi peternakan seluas 3000 meter yang sudah terpisah dari tempat tinggalnya.

Selamet dikenal sebagai pria yang pekerja keras dan tidak ingin sukses sendiri, ia mengajak orang-orang untuk berbisnis ternak puyuh yaitu dengan memberikan jasa pelatihan beternak puyuh gratis bagi para pemula. Untuk menunjang hal tersebut, Selamet menyediakan tempat tinggal dan makan gratis bagi pelaku UKM yang menimba ilmu disana. Hingga kini dirinya sudah memiliki kemitraan yang tersebar di 19 kecamatan yang ada di sukabumi dan sudah memiliki tiga cabang perusahaan yakni; CV. Selamet Quail Farm, PT. Pondok Puyuh Indonesia, Pondok Wirausaha CFE-SQF yang tersebar di empat kota seperti Bandung, Bogor, Semarang dan Kediri. Central perusahaan puyuh ini adalah CV. Selamet Quail Farm, sebuah perusahaan yang didirikan pada tahun 2002 di sekitar kediaman Selamet yaitu di desa Cilangkap Kecamatan Cikembar Kabupaten Sukabumi. Kini Selamet memiliki lebih dari 100 karyawan  dan memiliki asset sekitar 36,5 milyar.

Alasan Selamet memilih beternak puyuh dibandingkan unggas lainnya adalah prospek bisnis puyuh di indonesia sangat menjanjikan. Menurut data kebutuhan telur puyuh secara  nasional mencapai 7 juta butir per hari, sedangkan produksi hanya mampu mencukupi sekitar 4 juta butir per hari. 

Walaupun setiap butir telur puyuh hanya memiliki keuntungan 100 rupiah, tapi kini  Selamet sudah menghasilkan 300.000 butir telur puyuh. Selain itu tidak perlu memerlukamn modal yang besar dengan nilai investasi sebanyak Rp2.250.000 berupa 750 ekor indukan puyuh, dalam waktu 18 bulan para peternak dapat meraup omzet sekitar Rp22.056.000.

Perjalanan bisnis Selamet telah mendatangkan banyak penghargaan, selain menjadi ketua asosiasi puyuh Indonesia dia juga dinobatkan sebagai profesor puyuh satu-satunya yang ada di Indonesia. Penghargaan yang pernah diterima diantaranya sebagai wirausaha termuda di Jawa Barat, Pelopor ketahanan pangan pada tahun 2013, Nastiti Budaya Satwa 2014 hingga Adikarya Pangan Nusantara 2015. 

Selain itu selamet terus berinovasi dalam menjalankan usahanya seperti menemukan talang pakan yang akan memperhemat pakan, sistem air minum yang efektif dan trail yang digantikan oleh adaton, menariknya Selamet juga mampu membuat telur puyuh beromega yang sudah teruji di lab IPB dan UGM, sehingga dirinya mampu menepis anggapan masyarakat tentang telur puyuh yg memiliki kolestrol tinggi.

Selain mempromosikan puyuh di negeri sendiri, selamet sudah mempromosikan puyuh dengan mengisi seminar di berbagai negara seperti Belanda, Brunei, Malaysia, dan Singapura. Selamet Wuryadi adalah salah satu contoh sosok yang menginspirasi kita semua sekaligus menerangkan bahwa usaha dan kerja cerdas adalah jargon yang harus dimiliki pengusaha. (SK)