Mohon tunggu...
Syekh Muchammad Arif
Syekh Muchammad Arif Mohon Tunggu... Konsultan - Menawarkan Wacana dan Gagasan Segar sertaUniversal

syekh muhammad arif adalah motivator dan bergerak di bidang konsultasi pendidikan dan pemerhati sosial dan keagamaan universal

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Ego dan Relasinya dengan Prahara Rumah Tangga (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

1 Agustus 2021   21:58 Diperbarui: 1 Agustus 2021   22:05 912
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
www.verywellmind.com

Dalam kamus besar bahasa Indonesia ego dimaknai sebagai rasa sadar akan diri sendiri dan konsepsi individu tentang dirinya sendiri. Saya memaknai ego sebagai "silau" terhadap diri sendiri, buta terhadap pengawasan Tuhan dan watak setan yang selalu mengkampanyekan "ana khairun minhu" (aku lebih baik daripadanya).

Biang kerok masalah kehidupan kita karena kita menganggap ego sebagai jati diri kita dan kita berupaya untuk membela ego ini. Dan setiap kekurangan dan mudarat yang kita peroleh, semuanya dipicu oleh ego ini. Tidak ada yang lebih mujarab untuk mengatasi dan mengelola ego ini daripada cinta. Cinta memiliki kekuatan untuk melupakan dirimu dan memikirkan sesuatu yang bersifat umum/universal.

Kaum sufi mengatakan bahwa saat seseorang 'asyiq ( jatuh cinta), maka untuk pertama kali  ia mampu "melewati" dirinya dan bila selama ini ia hanya memandang dirinya maka sekarang ia memperhatikan selainnya. Jalaluddin Rumi mengatakan bahwa cinta majazi (cinta kepada selain Allah yang merupakan jembatan menuju cinta Ilahi) pun akan mengantarkan insan pada cinta hakiki. Mengapa? Karena pada cinta erotis pun pada tahap tertentu  mampu mengurangi egoisme.

Saat ego berkurang dan melemah, perhatian yang terpusat pada diri sendiri pun akan beralih ke pandangan kepada orang lain. Menurut 'urafa, cinta adalah eleksir (obat serbaguna/ramuan) dan kibrit ahmar (korek api yang paling merah). 

Cinta mampu membuat apapun yang dipegang oleh pencinta berubah menjadi emas. Sebab, selama kita belum menjadi pencinta maka kita menilai diri kita sebagai ego dan kita hanya berpikir untuk kepentingan ego. 

Bila kita telah menjadi pencinta maka ego ini akan binasa dan kita berubah menjadi pribadi yang berbeda. Dalam hal ini, Maulana Jalaluddin Rumi mengatakan,

Setiap orang yang dadanya lapang cinta

Ia tersucikan dari segala bentuk kekurangan dan kekotoran jiwa

Dan pada kesempatan lain, Rumi berkata,

Kata-kata-apapun adanya-hanya dalih untuk mengekspresikan cinta

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun