Mohon tunggu...
Syarif Enha
Syarif Enha Mohon Tunggu... Manusia yang selalu terbangun ketika tidak tidur

Manusia hidup harus dengan kemanusiaannya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Fakta dan Kebenaran

18 Juni 2020   06:16 Diperbarui: 18 Juni 2020   06:20 110 1 0 Mohon Tunggu...

Fakta tidak selalu keluar berjalan dengan kebenaran. Fakta sesuatu dan kebenaran adalah sesuatu. Sesuai dengan fakta bukan sama dengan benar. Jadi tidak ada hubungan antara fakta dan benar. Fakta adalah peristiwa, sementara benar adalah nilai. Jadi jika menyandingkan barisan fakta kemudian menyebut itu sebagai tumpukan kebenaran, itu tidak tepat sama sekali. Benar dan salah, baik dan buruk, itu ditemukan dengan basis nilai tertentu. Sementara fakta itu tidak beridiologi. Apapun agama dan idiologi anda, tidak akan mempu merubah fakta yang telah terjadi.

Seringkali kita salah membaca, fakta sebagai kebenaran, dan kebenaran harus berdasarkan fakta. Kita akan lihat bahwa kedua postulat tersebut sama lemahnya.

Fakta sebagai kebenaran sudah disampaikan di awal. Bahwa fakta adalah bebas nilai. Daun berwarna hijau, garam berasa asin, kepala dipukul terasa sakit, kopi campur air panas menjadi sedap, Indonesia beribukota Jakarta, presidennya adalah si anu, pengusaha kaya-kaya, buruh banyak yang miskin, harga tidak stabil, dan seterusnya. 

Sederetan fakta dapat dijajarkan begitu rupa tanpa memiliki nilai apapun. Fakta bahwa ada jembatan yang menghubungkan dua daerah berseberangan sungai, ketika ada yang mengatakan bahwa jembatan tersebut ambruk, maka kita akan skeptis, benarkah pernyataan tersebut? 

Ketika dikonfirmasi dan disaksikan, bahwa jembatan tersebut benar-benar ambruk, maka berita tersebut dapat dikatakan benar. Benar karena sesuai dengan fakta. Jadi yang dilekati kebenaran adalah informasinya, bukan faktanya. Faktanya tetap fakta, bahwa jembatan ambruk. Jadi, tidak ada fakta bohong, fakta palsu dan seterusnya. Fakta ya fakta. Yang ada adalah informasi palsu, bohong atau benar, yang didasarkan pada kesesuaian informasi tersebut terhadap fakta. Jadi, anggapan fakta adalah kebenaran, tidak bisa diterima.

Kedua, bahwa kebenaran harus berdasarkan fakta. Ini seolah konfirmasi atas penjelasan di atas. Bahwa disebut benar jika terkonfirmasi sesuai dengan fakta. Tetapi jika tidak hati-hati maka kita akan jatuh pada paham materialism. Bahwa semua ada dan eksis jika dapat dilihat diraba dan dirasa. Itulah fakta. Karena selain itu, fakta tidak bisa dibuktikan. Misalnya, saya minum air gula, kemudian saya mengatakan asin, tidak ada yang tahu benar, apakah saya berkata bohong atau jujur, karena rasa itu tidak tampak. 

Kebenaran yang saya sampaikan, akan diuji dengan model korespondensi, orang lain akan mencicipi air gula tersebut, ternyata manis. Kemudian orang lain akan mencicipi lagi, dan merasakan manis. Maka berdasarkan korespondensi dengan lidah dua orang lain, saya dikatakan bohong, salah dan tidak jujur. Bukan karena tidak sesuai dengan fakta, karena rasa tidak pernah dapat dibuktikan, namun kesalahan saya dibuktikan dengan korespondensi, bahwa ada lebih banyak orang lain yang merasakan berbeda dari apa yang saya nyatakan. 

Begitu juga jika tiga orang mengatakan ada benua Amerika padahal sama-sama belum pernah ke Amerika. Ketika saya mengatakan Amerika tidak ada, saya akan dikatakan bohong, bukan karena faktanya Amerika ada, tetapi karena secara korespondensi, pernyataan saya menyelisihi kebenaran lain yang sudah lebih dulu ada.

Belum lagi jika kita bicara tentang kebenaran agama. Dimana kebenaran itu diimani, bukan dibuktikan berdasarkan fakta. Bagaimana membuktikan fakta adanya surga dan neraka. Sebuah lokasi yang begitu dahsyat. Tidak ada yang mampu membuktikannya dalam bentuk fakta. Tetapi hampir semua manusia di muka bumi meyakini adanya surga dan neraka dan gambaran persepsi masing-masing yang tidak sama.

Syarif_Enha@Sorogenen 23, Sabtu, 25 Pebruari 2017 + 10/4/2020.

VIDEO PILIHAN