Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Dosen - Penulis - Pegiat Literasi - Konsultan

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK - Edukator Dana Pensiun. Pendiri TBM Lentera Pustaka Bogor. Kandidat Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak. Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis dan Editor dari 39 buku dan buku JURNALISTIK TERAPAN; Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis" sudah dicetak ulang. Sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bacaan Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor serta penasehat Forum TBM Kab. Bogor. Education Specialist GEMA DIDAKTIKA dan Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop

Pak Polisi Harus Lebih Literat

4 Agustus 2022   22:45 Diperbarui: 4 Agustus 2022   22:45 115
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Buntut kematian Brigadir Yoshua begitu menghebihkan. Belum tahu apa ujungnya dan siapa dalangnya? Berbagai spekulasi pun muncul di publik. Ada dugaan pembunuhan berencana, secara bersama-sama hingga motif iri di balik tembak-menembak antarpolisi di rumah dinas polisi.

Pak Polisi, harus lebih literat.

Bahwa mati itu pasti terjadi pada setiap manusia. Tapi memaksa untuk "mematikan" manusia itu perbuatan jahat. Seperti institusi Polri yang diporak-poranda oleh segelintir oknum. Akibat baku tembak antarpolisi di rumah polisi. Entah, kebencian dan amarah apa yang merasuki mereka? Hingga kehilangan akal sehat, bahkan hati nurani.

 

Ambisi, obsesi, dan apalah namanya. Kok bisa-bisanya oknum polisi itu menjatuhkan institusinya sendiri. Belum lagi soal "persekongkolan jahat" yang di-create sendiri. Untuk mengelabui orang banyak. Hingga kesulitan sendiri menemukan akhir cerita. Pak Polisi dan manusia lainnya kadang lupa, tanpa dibuat pun. Tuhan sudah mengizinkan badai melintas di tiap anak manusia. Lalu, kenapa harus mematikan?

Faktanya hari ini, kematian seorang brigadir harus dibayar dengan mutasi 25 oknum polisi, 3 diantaranya jenderal (baca: news.detik.com). Harga yang terlalu "mahal" harus dibayar Polri dari persekongkolan jahat oknumnya. Apa sih yang di-mau? Maka sungguh, siapa pun yang bersekongkol untuk jahat, suatu hari nanti pasti akan terkena tumbalnya sendiri.

Kasus kematian Brigadir J ini membuktikan. Pentingnya budaya literasi di kalangan Pak Polisi. Agar polisi di Indonesia menjadi manusia yang literat. Polisi yang tidak cukup mampu memunculkan dendam. Tanpa bisa memaafkan. Pak Polisi yang tidak terbuai oleh jabatan, pangkat atau apa pun yang sifatnya sementara di dunia ini.

Pak Polisi hanya butuh lebih literat. Agar mampu memahami realitas dalam hidup. Agar mampu mennggalkan benci, dendam, atau ambisi atas alasan apa pun. Pak Polisi yang literat sangat dibutuhkan bangsa ini. Agar seimbang akal sehat dan hati nurani. Karena sejatinya, hidup itu hanya butuh keseimbangan, bukan lainnya. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

Mohon tunggu...

Lihat Konten Vox Pop Selengkapnya
Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun