Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Dosen - Penulis - Pegiat Literasi - Konsultan

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK - Edukator Dana Pensiun. Pendiri TBM Lentera Pustaka Bogor. Kandidat Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak. Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis dan Editor dari 34 buku dan buku JURNALISTIK TERAPAN; Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis" sudah dicetak ulang. Sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bacaan Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor serta penasehat Forum TBM Kab. Bogor. Education Specialist GEMA DIDAKTIKA dan Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Taman Bacaan adalah Panggilan, Kenapa Harus Tanya?

5 Desember 2021   08:13 Diperbarui: 5 Desember 2021   08:20 130 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber: TBM Lentera Pustaka

Saat ditanya, "Kenapa rumah Bapak dijadikan taman bacaan?" Jujur, agak sulit menjawabnya. Karena terlalu utopis atau idealis. Lagi pula tidak semua perbuatan harus ada alasannya. Tapi bila dipaksa untuk menjawab, maka jawabnya "karena taman bacaan adalah sebuah panggilan".

Kok bisa, rumah dijadikan taman bacaan. Bukankah sebaiknya rumah ditinggali, jadi tempat bermukim. Atau bila jauh lokasinya, ya minimal dijual saja agar bisa jadi uang yang nilainya tidak kecil. Jadi rumah dijadikan taman bacaan atau tidak, itu hanya soal cara pandang atau orientasi hidup. Mau untuk diri sendiri atau untuk orang lain?

Taman bacaan adalah sebuah panggilan.

Karena taman bacaan sifatnya sosial. Tidak ada uangnya, menyita waktu. Bahkan menguras tenaga, maklum kan kegiatan membaca. Apalagi ditambah membangun tradisi baca pada anak-anak yang bukan anaknya. Membangun peradaban pada masyarakat yang bukan tanah kelahirannya. Belum lagi soal kultur masyarakat yang apatis, alias cuek. Buku-buku bacaan mau dari mana? Biaya operasional taman bacaan-nya, bagaimana? Maka paripurna, taman bacaan memang tidak ada untungnya. Mungkin sebagian orang menganggap perbuatan sia-sia. Taman bacaan memang sebuah panggilan jiwa.

Rumah sendiri dijadikan taman bacaan saja masih ada yang memusuhi. Bikin program kegiatan membaca setahun, mengelola relawan, mengajak orang mengisi acara di taman bacaan. Sungguh tidak mudah melakukannya. Fitnah, gosip, dan hal lain yang buruk pun menghadang. Di taman bacaan, orang banyak lebih doyan ngomongi daripada bantuin. Itu fakta yang terjadi di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor yang kini punya 160-an anak pembaca aktif.

Kalau semua anak rajin membaca dan punya adab sopan-santun, mungkin masih bisa dibanggakan. Tapi kalau anak-anaknya pasang-surut, kadang datang baca kadang tidak baca. Langsung kepala jadi pusing. Apa taman bacaan masih perlu ada? Mumpung  baru 5 tahun beroperasi, apa tidak sebaiknya taman bacaaan ditutup saja? Lalu, jual rumahnya kan bisa jadi uang. Ditambah sikap apatis masyarakat sekitar, makin frustrasi saja mengelola taman bacaan. Tapi lagi-lagi, memang taman bacaan itu sebuah panggilan.

Di era digital yang serba pragmatis begini. Siapapun tahu. Kalau ingin kaya, ya kerja yang keras. Pergi gelap pulang gelap. Kumpulkan harta sebanyak-banyaknya biar bisa pamer dan dibilang orang kaya. Kalau ingin banyak pahala pun sedekah atau sumbang uang yang banyak ke masjid. Tidak usah membuka taman bacaan. Jadi pengelola atau pegiat literasi pun bukan profesi. Tidak ada uangnya, tidak ada untungnya. Lalu, ngapain urus taman bacaan? 

Selain panggilan jiwa, taman bacaan itu pengabdian. Pegiat literasi pun kerja sosial, atas nama kemanusiaaan. Masih ada wali baca, relawan, dan anak-anak yang mau membaca saja sudah patut disyukuri. Jangan berharap diberi imbalan apalagi gaji di taman bacaan. Tapi bila ada daerah yang tadinya tidak punya akses bacaan akhirnya tergerak membaca buku. Anak-anak yang gampang putus sekolah akhirnya bisa tetap lanjut sekolah. Ada ibu-ibu yang buta huruf akhirnya bisa membaca dan menulis. Sungguh itu semua jadi "warisan" yang luar biasa. Dan akhirnya di taman bacaan, ada kepuasan batin sendiri. Bersyukur dan hati pun bangga tiada kepalang. Taman bacaan akhirnya mampu melewati masa-masa penuh tantangan, periode kritis eksistensi taman bacaan.

Jadi, taman bacaan itu murni panggilan!

Bukan soal apa untungnya? Bukan pula soal dapat apa di taman bacaan. Soal popularitas apalagi kekayaan sama sekali bukan. Tapi taman bacaan soal tanggung jawab di hadapan Allah SWT. Ini soal masa depan anak-anak di era digital yang harus tetap seimbang membaca buku. Ini soal warisan apa yang mau ditinggalkan di dunia. Seberapa manfaat manusia di dunia untuk manusia lainnya? Maka taman bacaan adalah soal hati, bukan materi. Soal panggilan jiwa, bukan soal logika semata. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan