Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis - Dosen

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK - Konsultan di DSS Consulting sekaligus Edukator Dana Pensiun. Pendiri TBM Lentera Pustaka Bogor. Kandidat Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak. Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis dan Editor dari 31 buku dan buku JURNALISTIK TERAPAN; Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis" sudah dicetak ulang. Sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bcaaan Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor. Education Specialist GEMA DIDAKTIKA dan Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kado Ultah 494 Tahun Jakarta, Hari Ini Tidak Baik-baik Saja tapi Butuh Pengertian

22 Juni 2021   08:34 Diperbarui: 22 Juni 2021   10:29 43 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kado Ultah 494 Tahun Jakarta, Hari Ini Tidak Baik-baik Saja tapi Butuh Pengertian
Sumber: Britannica.com

JAKARTA TIDAK BAIK-BAIK SAJA DAN BUTUH PENGERTIAN

Hari ini Jakarta, kota kelahiran saya merayakan ulang tahunnya yang ke-494. Tapia pa mau dikata, Jakarta hari ini pun dilanda lonjakan kasus Covid-19 yang luar biasa. Tanggal 20 Juni kemarin, Jakarta kembali mencatat rekor baru dengan 5.582 penambahan kasus harian. 

Di hari ulang tahunnya, tentu Jakarta tidak sedang baik-baik saja. Efek pandemi Covid-19, membuat Jakarta berubah. Dan jangan sampai, prediksi kasus aktif Covid-19 di Jakarta dapat mencapai 218 ribu pada Agustus 2021benar-benar terjadi.

Kenapa bisa begitu?

Jakarta memang kota sibuk. Kota yang mahaberpendidikan. Tapi di saat yang sama banyak orang Jakarta tidak punya sikap pengertian. Terlalu percaya diri dan egois. Saat pandemi Covid-19, perilakunya tidakterlalu berubah. Seperti biasa-biasa saja, bahkan menganggap baik-baik saja. Mungkin, akibat doktrin yang ditanamkan sejak dulu. Bahwa hidup di Jakarta itu keras. Doktrin itu dulu, mungki hari ini tidak tepat lagi.

Sebagai kota megapolitan, Jakarta memang surganya penyembah status sosial. Mobilitas yang tinggi lagi padat, jadi sebab pentingnya status itu. Pergi pagi pulang malam, menghabiskan waktu di kafe-kafe atau tempat kesenangan sesaat. 

Lebih dari itu, tidak sedikit dari mereka berjuang untuk mempertontonkan nafsu konsumtif bahkan hedonisme. Gaya hidup jadi segalanya. Semuanya tergantung uang di kantong. 

Orang-orangnya berteknologi canggih. Hingga handphone di tangan pun berlomba-lomba yang paling hebat. Suka tidak suka, Jakarta boleh disebut kota yang individualis, kota egois. Tapi sayang, di saat lain, peradaban dan karakter baik pun sudah ditinggalkan kota Jakarta.

Di Jakarta pasti banyak orang pintar. Tapi bisa jadi mereka kurang bijaksana. 

Orang pintar memang gemar bicara, gemar mempermasalahkan yang harusnya tidak jadi masalah. Banyak bicara sedikit mendengar. Sementara orang bijak, justru lebih banyak mendengar dan bicara seperlunya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x