Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis - Dosen

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK - Konsultan di DSS Consulting sekaligus Edukator Dana Pensiun. Kandidat Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak. Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis dan Editor dari 31 buku dan buku JURNALISTIK TERAPAN; Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis" sudah dicetak ulang. Sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bcaaan Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor. Education Specialist GEMA DIDAKTIKA dan Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Literasi Alasan, Jadilah Orang Cukup Bukan Merasa Kurang

1 Maret 2021   08:36 Diperbarui: 1 Maret 2021   08:43 64 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Literasi Alasan, Jadilah Orang Cukup Bukan Merasa Kurang
Sumber: TBM Lentera Pustaka

Semua yang terjadi pasti ada alasannya. Seperti kata bijak "jika ada akibat pasti ada sebab". Itu berarti, tidak mungkin ada keputusan tanpa adanya alasan. Selalu ada alasan. Begitu hukum alamnya. Pandemi Covid-19 pun terjadi karena ada alasannya.

Bahwa hari ini, ada orang yang selalu bersyukur. Ada yang hanya berkeluh-kesah. Ada yang tetap membenci. Bahkan ada yang berdiam diri. Tidak mau melakukan kebaikan sedikit pun, itu semua ada alasannya. Maka sekali lagi, apa pun itu pasti ada alasannya. Dan setiap alasan, pasti sah-sah saja.

Seperti di taman bacaan. Ada anak-anak yang mau membaca buku pasti ada alasannya. Ada pula anak-anak yang hanya main dan tidak suka membaca buku, pasti ada alasannya. Ada orang-orang yang mau bantu dan berkiprah di taman bacaan. Tapi bila ada yang tidak peduli taman bacaan pun ada alasannya. Dan Ketika alasan dibuat, maka menyisakan pertanyaan "kenapa begitu?".

Kawan saya, dulu. Pernah bilang tidak mau beli tanah di Bogor. Sekalipun harganya terjangkau. Karena lokasinya terlalu jauh. Masih sepi dan tidak ada waktu untuk berkunjung. Tapi sekarang setalah ramai, lokasinya terasa tidak jaih. Harganya pun melonjak gila-gilaan. Maka kawan saya pun menyesal? Tentu, ada alasannya.

Alasan itu bisa dibuat dan selalu saja ada.

Tapi alasan bisa dibuat-dibuat karena tidak mau, Ada alasan yang baik. Tapia da alasan yang tidak baik. Bahkan ada alasan yang dibuat karena untuk menutupi kekurangan, kelemahan orangnya. Asal punya alasan, begitulah adanya.

Hari ini. Ada orang yang takut mengambil keputusan. Ada yang tidak mau menanggung risiko. Ada yang tidak mau bertindak di jalan kebaikan. Ada yang masih banyak omong tapi praktik kosong. Ada pula yang hanya sebatas kata-kata bijak. Itu semua ada alasannya. Dan sah-sah saja. Tapi sayang, bila alasan dibuat hanya untuk "membungkus" ketidak-mauan bertindak. Alasan yang dicari-cari, bukan yang apa adanya. Lalu berkata, "Tapi kan, karena begini .... Tapi kan karena begitu ...."

Kata "tapi" dalam ilmu bahasa itu kata penghubung. Memang sering dipakai untuk sebuah alasan. Untuk menyatakan hal yang bertentangan atau tidak selaras. "Saya tahu membaca buku itu penting TAPI belum punya waktu saja". Pengen sih melakukan yang baik TAPI sekarang lagi focus kerjaan dulu". Mungkin, kata TAPI pada kalimat itu benar.

Namun kata "tapi" itu salah dipakai. Bila mampu membenci tanpa bisa menyukai. Bila mampu mengkritik tanpa bisa memberi solusi. Bila bisa bertanya tanpa mau membantu cari jawabnya. Dan bila sekolahnya bukan di jurusan politik atau tata negara. Tapi bila sudah ngomongin negara seperti pakar kebenaran dan paling benar sendiri.

Tapi, tapi, dan tapi. Bisa jadi kata mujarab yang dipakai untuk mencari alasan. Soal apa pun, untuk apa pun. Sedikit-sedikit tapi. Lagi-lagi tapi. Kebanyakan tapi. Semua ada "tapi"-nya. Selalu saja ada alasannya. Padahal, hanya untuk mengungkap kebencian, ketidak-sukaan. Selalu saja ada alasannya, untuk berbuat tidak baik, tidak patut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN