Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan & Penulis

Konsultan di DSS Consulting, Pengajar Pendidikan Bahasa Indonesia & Edukator Dana Pensiun. Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Unpak. Pendiri TBM Lentera Pustaka. Ketua Ikatan Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia (IKA BINDO) FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Sekjen IKA FBS UNJ (2013-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis & Editor dari 25 buku. Buku yang telah cetak ulang adalah JURNALISTIK TERAPAN & "Kompetensi Menulis Kreatif", Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis". Pendiri & Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Gn. Salak Bogor. Owner & Education Specialist GEMA DIDAKTIKA, Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA, Pengurus Asosiasi DPLK Indonesia (2003-Now). Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Kisah tentang Buku (Selamat Hari Buku Nasional)

17 Mei 2019   10:36 Diperbarui: 17 Mei 2019   11:02 0 0 0 Mohon Tunggu...
Kisah tentang Buku (Selamat Hari Buku Nasional)
dokpri

Kisah tentang Buku (Selamat Hari Buku Nasional)

Dulu, kata banyak orang, buku selalu dirindu. Tapi kini buku tak lebih hanya sebuah harapan palsu. Karena buku, selalu dipisahkan oleh jarak dan waktu, Sehngga banyak orang yang berkata "rindu buku" pun akhirnya menjauh dari buku. Orang-orang itu, kini memutuskan pergi meninggalkan buku. Tanpa alasan, tanpa omongan. Semua pergi ke dunia digital. Katanya, buku membosankan. Hingga kini, tanpa sepatah kata lagi, mereka terus pergi meninggalkan buku. Buku pun menyendiri. Buku yang hanya bisa diam tergugu di panggung beku. Sambil membawa setumpuk pilu .... Itulah kisah sepenggal buku di bumi Indonesia hari ini.

Maka di Hari Buku Nasional hari ini, 17 Mei 2019, marilah kita bertanya pada diri sendiri. Masihkah kita sekali saja mau memikirkan dan membaca buku? Atau kalian telah menghapus semua kisah tentang buku dari ingatanmu?

 Buku makin diam membisu. Di tengah jutaan manusia di bumi ini.

Bukan hanya minat membaca buku yang rendah. Tingkat literasi pun kian payah. Lalu, lebih mudah percaya pada berita yang palsu. Hidup dalam angan-angan pikiran, dalam mimpi kekuasaan dunia. Maka wajar, hari ini tidak ada lagi rindu tentang buku...

Buku tidak lagi bisa bercerita tentang kamu, tentang kita. Karena tidak ada lagi orang-orang yang mau membaca. Bahkan sekarang, sedikit saja dari kita yang mau menulis tentang masa depan melalui buku. Kini, buku tidak lagi jadi ruang ekspresi tentang harapan dan kenyataan.

Karena kamu lebih senang berkata-kata. Tentang rasa bahagia, tentang sedihnya kehilangan, bahkan tentang pahitnya kegagalan. Buku tidak lagi jadi tempat untuk bertutur akan pentingnya perubahan, kekhawatiran, bahkan masih adanya harapan.

Nuku memang banyak di nanti. Tapi saat yang sama buku pun dijauhi.

Kita tidak lagi gemar antre di toko buku. Tapi lebih senang nongkrong di kafe-kafe. Terdiam sendiri dengan gadget yang penuh mimpi. Tersenyum sendiri walau tiada arti.

Banyak orang kini sudah lupa.

Bahwa buku harusnya dijadikan kapak untuk mencairkan lautan kebekuan dalam setiap diri. Membaca buku, dianggap sudah tidak bisa dinikmati bahkan tidak lagi bisa memperkaya diri .... Itulah sebab di negeri ini, minat baca rendah, tingkat literasi payah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x