Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan

Konsultan di DSS Consulting, Pengajar Pendidikan Bahasa Indonesia & Edukator Dana Pensiun. Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Unpak. Pendiri TBM Lentera Pustaka. Ketua Ikatan Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia (IKA BINDO) FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Sekjen IKA FBS UNJ (2013-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis & Editor dari 22 buku. Buku yang telah cetak ulang adalah JURNALISTIK TERAPAN & "Kompetensi Menulis Kreatif", Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis". Pendiri & Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Gn. Salak Bogor. Owner & Education Specialist GEMA DIDAKTIKA, Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA, Pengurus Asosiasi DPLK Indonesia (2003-Now). Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Soal Pilpres 2019, Tanya Diri Sendiri, Sehat atau Tidak?

19 April 2019   19:09 Diperbarui: 19 April 2019   19:38 0 1 0 Mohon Tunggu...
Soal Pilpres 2019, Tanya Diri Sendiri, Sehat atau Tidak?
baca-sy5-5cb9bb5995760e43f55f2142.jpg

Soal Pilpres 2019; TANYA DIRI SENDIRI, SEHAT ATAU GAK?

Saya ini lagi bertanya pada diri sendiri, sehat atau gak?

Lucu banget, kemarin sebelum pencoblosan, situ yang pada sibuk nge-share hoaks, fitnah, sambil menebar ujaran kebencian. Situ yang merasa, kalo kawan gak ikut mendukung calon situ dianggap salah, dianggap lawan. Coba deh silakan cek timeline masing-masing. Jadi, yang gak suka dan yang benci itu siapa?. Saya ini gak milih situ, karena saya pilih yang baik menurut saya.

Terus, setelah nyoblos. Ada survei yang namanya quick count. Itu lo hitung cepat.

Hasilnya pun baru ketahuan setelah 2 hari nyoblos. Si quick count itu yang bilang, siapa unggul siapa gak unggul? Kalo saya sehat, tentu saya bukan percaya quick count. Tapi jadi pengetahuan dan informasi saja. Tapi kalo saya gak sehat, tentu saya bilang quick count salah dan menggiring opini publik. 

Apa lantas kalo begitu, saya boleh meng-klaim kemenangan versi sendiri. Bahkan sujud syukur seolah sudah jadi presiden. Di luar sana, gak ada sama sekali yang mendeklarasikan kemenangan. Sama sekali gak ada. Lagian, semua orang juga ngerti konstitusi kok, siapa yang berhak bilang unggul, ya tentu lembaga yang berwewenang. Kapan hasilnya, ya sabar tunggu saja. Situ tahu gak, quick count itu cuma prediksi. Bukan resmi bukan berkekuatan hukum. Tapi coba bayangin bila gak ada quick count. Bisa jadi lebih liar, lebih spekulasi lagi. Dikasih ilmu kok nolak, apalagi gak ada ilmu...

Jangan dong, giliran quick count sesuai keinginan diterima; giliran gak sesuai keinginan ditolak, Bukan begitu caranya. Sikapi dengan bijak, kawal dengan ketat. Sampai pengumuman resminya dikeluarkan.

Situ yang minta rakyatnya harus menahan diri; jangan inkonstitusional. Tapi situ juga yang deklarasi kemenangan sampai 3 kali, situ yang kalo bicara nadanya tinggi terus. Terus rakyat kayak saya gini, disuruh diam terus apa? Emang mau sampai kapan begitu? Katanya pilpres sudah kelar. Tapi kenapa bawaannya gak terima dan benci melulu?

Makanya saya tanya sama diri sendiri, sehat apa gak?

Kalo saya sehat, maka siapapun yang menang, pasti saya ucapkan selamat. Apa sih susahnya ngucapin selamat. Orang saya milih juga cuma karena warga negara Indonesia. Kalo saya orang asing, ogah banget saya milih. Lha, yang menang juga gak ngasih makan saya, gak nyekolahin saya.

Tapi kalo saya gak sehat, bisa jadi saya diam saja. Saya nulis itu karena sehat. Dan pastinya saya harus lawan argumen yang merusak akal sehat saya. Emang orang berkompetisi harus menang semua, ya gaklah. Ada menang ada kalah kok, itu biasa. Seperti ada hidup juga ada mati.

Emangnya situ takut dicurangin? Jangan buruk sangka dulu. Ikuti saja prosesnya dan tunggu hasilnya. Percayalah, jangankan orang yang curang. Orang yang pikirannya jelek pada orang lain saja bisa jadi hidupnya sengsara, hidupnya bermasalah dan gak nyaman. Kalo kata Allah, tinggal tunggu waktunya bagi orang-orang yang curang dan bertindak gak benar. Percayalah, semuanya sudah ada dalam ketentuan Allah.

Kan situ yang bilang, pilihan kita boleh berbeda asal tetap satu Indonesia. Situ juga yang bilang, kalo kita gak sama kenapa gak boleh beda. Dan semuanya sudah berproses. Ya sudah, tinggal tunggu hasilnya. Apapun hasilnya, terimalah dengan lapang dada. Gak perlu ada tendensi apa-apa. Yang kalah gak boleh marah, yang menang pun gak boleh sombong. Sederhana saja kok, gak usah dibikin ribet.

Sekali lagi. Makanya saya tanya pada diri sendiri. Sehat apa gak?

Kalo sehat ya tentu saya harus lawan orang-orang yang bertentangan dengan akal sehat. Kalo saya gak sehat, masa saya biarkan ajaran dan pikiran yang gak benar. Katanya kita disuruh bicara sekalipun itu pahit.

Ada lagi situ yang bilang, saya gak usah bangun opini. Lah, orang lain bikin opini sesat, saya gak pernah komentarin kok. Saya itu Cuma nulis apa yang harus saya tulis. Itu doang. Kalo suka baca, kalo gak suka jangan baca. Gampang kan ...

Jadi maaf ya, mumpung mau puasa nih maaf lahir batin. 

Kalo saya sehat dan situ sehat. Mari kita bicara yang benar, yang sesuai faktanya saja. Kasihan anak cucu kita, kok dikasih pendidikan politik yang jelek. Terus terang, apa yang terjadi kemarin dan hari-hari ini. Adalah pembelajaran politik yang tidak cerdas, tidak sehat. Hentikanlah dan kembalilah ke politik yang cerdas, yang sehat ... Seperti kata Gus Dur, "yang lebih penting dari politik itu kemanusiaan", termasuk moral ....  okehh, salam kompak buat Indonesia. #TGS