Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan & Penulis

Konsultan di DSS Consulting, Pengajar Pendidikan Bahasa Indonesia & Edukator Dana Pensiun. Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Unpak. Pendiri TBM Lentera Pustaka. Ketua Ikatan Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia (IKA BINDO) FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Sekjen IKA FBS UNJ (2013-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis & Editor dari 22 buku. Buku yang telah cetak ulang adalah JURNALISTIK TERAPAN & "Kompetensi Menulis Kreatif", Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis". Pendiri & Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Gn. Salak Bogor. Owner & Education Specialist GEMA DIDAKTIKA, Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA, Pengurus Asosiasi DPLK Indonesia (2003-Now). Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Politik Rileks agar Narasinya Positif

29 Desember 2018   06:58 Diperbarui: 29 Desember 2018   07:09 0 1 1 Mohon Tunggu...
Politik Rileks agar Narasinya Positif
Sumber : dokpri


Rileks aja dulu. Gak usah kayak politik. Bawaannya terlalu serius, pengennya nyolot mulu. Santai ajalah, tidur-tidur dulu di alam terbuka. Ngaso biar gak tegang. Gak usahlah terlalu serius. Allah udah tahu kok kita ini siapa?

Rileks aja. Gak usah banyak celoteh yang gak guna. Kalo mau berisik urusan akhirat aja. Kita itu disuruh ingat mati, ukan ingat-ingat siapa presidennya? 

Rileks aja. Santai. Agar tetap sejuk di tempat yang panas. Agar tetap merasa kecil meskipun telah besar. Agar tetap tenang di tempat gaduh sekalipun.

 

Emang sih. Benci itu gampang. Galak itu mudah. Apalagi kecewa dan mengeluh, bisa kok di mana saja dan kapan saja? Tapi yang susah itu cari jawaban, kenapa harus marah atau galak? Kenapa harus kecewa dan mengeluh? Lha emang, apa sih yang didapat kalo udah benci dan galak? Emang pengen, jadi juara benci dan galak? Jangan deh, takut dipanggil Allah. Ibadah aja belum beres, masa dipanggil lagi benci dan galak ....

 

Rileks aja. Jangan urusan negara yang besar. Urusan kita orang per orang aja udah digariskan Allah kok. Kan situ, yang ngajarin apapun peristiwa dan kejadian, pasti atas kehendak Allah.  Jadi, nikmatilah hidup dan syukurilah apa yang ada agar kita semua tetap baik. Dan yang paling penting, gak usah menunggu untuk jadi orang baik.

Rileks aja ya. Gak usah terlalu serius. Karena hidup itu cuma sebentar. Tinggal kita, mau berpikir yang positif dan baik untuk oran lain. Atau kita yang lebih suka berpikir negatif dan buruk buat orang lain. 

Rileks aja, enjoy aja. Gak usah ikut terpengaruh sama orang lain. Untuk apa ikut-ikutan membenci, ikut-ikutan galak. Sama sekali gak berguna. Karena reaksi itu seringkali "mengabaikan" substansi. Berisik itu sering diciptakan buat "sensasi" bukan "esensi".

Kita  itu ada untuk mengabdi bukan menghibur orang lain. Maka gak boleh ada orang lain yang menentukan cara kita dalam bertindak. Rileks ajalah...

 

Tapi bila ada orang di luar sana,  terpengaruh oleh celoteh orang lain. Tentu, sah-sah saja. Tidak ada yang melarang. Cuma buat apa, benci dibalas dengan benci. Buat apa coba, cemoohan dibalas cemoohan. Kok bisa bila mereka tidak sopan, lalu kita berbuat lebih tidak sopan lagi. Sungguh, itu semua gak ada benarnya sedikitpun... rileks ajalah.

Rileks aja dalam hidup. Karena kita itu bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Bukan untuk dan karena orang lain; bukan pula dipengaruhi orang lain.

Rileks itu penting. Agar kita tidak terjebak pada "persekongkolan" komentar atau pendapat yang itu-itu aja. Bersekongkol untuk saling membenci seperti di medsos. Apalagi untuk "meng-iya-kan" cemoohan kaum serumpun di dunia maya. Emang kalo kita benar, terus orang lain pasti salah?

Maka rileks saja. Kan kamu yang bilang, "hitam itu tidak selalu kotor dan pahit itu tidak selalu menyakitkan." Maka akan lebih baik, bila kita tidak perlu terpengaruh, atau ingin mempengaruhi. Urusan politik pun butuh rileks. Butuh "ngaso" dari hingar bingar siasat manusia atas nama nafsu kekuasaan. Agar narasinya tetap positif.

Rileks saja. Agar beban kita lebih ringan dan pundak kita lebih kuat menopang kebaikan. Sebagai modal kita untuk "kembali" kepada-Nya.

Orang-orang rileks itu sadar betul. Bahwa setiap nasehat baik gak akan pernah datang terlambat hingga kapanpun... #RileksAja #PolitikRileks