Mohon tunggu...
Syaiful Rahman
Syaiful Rahman Mohon Tunggu... Mahasiswa - Pelajar

Saya suka membaca dan menulis. Namun, lebih suka rebahan sambil gabut dengan handphone.

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Jadikan Hari Pangan Sedunia 2022 sebagai Momentum Reformasi Pertanian Indonesia

16 Oktober 2022   20:04 Diperbarui: 16 Oktober 2022   20:14 142
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Birokrasi. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Indonesia memang patut banyak bersyukur atas anugerah kekayaan alam yang begitu melimpah. Banyak negara yang harus bersusah payah mengembangkan teknologi agar bisa bertani. Sementara di Indonesia, meminjam lirik sebuah lagu, batu saja bisa menjadi tanaman. Begitu suburnya negeri Indonesia tercinta ini.

Bahkan, di tengah gejolak pangan di seluruh dunia saat ini, Indonesia masih tampak baik-baik saja. Kebutuhan pangan masyarakat masih mampu dipenuhi secara mandiri. Semua ini tentu tidak lepas dari hasil ikhtiar bersama, baik pemerintah maupun masyarakat.

Sayangnya, dunia pertanian Indonesia masih diliputi oleh setumpuk masalah yang perlu diurai. Para petani Indonesia masih dipenuhi oleh masyarakat berlatar belakang pendidikan menengah ke bawah. Sementara para sarjana belum banyak yang termotivasi untuk terjun ke dunia pertanian.

Persoalan ini pernah dibahas oleh seorang pemuda di hadapan para pejabat tinggi negeri. Mereka enggan terjun ke dunia pertanian disebabkan oleh bidang ini tampak kurang seksi dibandingkan profesi-profesi lain. Kekurang-seksiannya antara lain tingkat pendapatan petani yang cenderung rendah, bahkan tidak jarang rugi. Kedua, profesi ini masih tampak rendah di mata masyarakat umum.

Padahal, dengan latar belakang pendidikan yang lebih tinggi, diharapkan dunia pertanian semakin inovatif dan kreatif. Dunia pertanian tidak stagnan melainkan terus berkembang dan akhirnya Indonesia benar-benar bisa swasembada pangan. 

Sampai saat ini, para petani masih acap kali dihadapkan pada kondisi yang kurang menguntungkan. Kondisi pertama datang dari alam. Banyak petani yang gagal panen akibat cuaca yang ekstrem atau salah memprediksi musim. Mereka sudah memprediksi akan turun hujan bulan depan, namun setelah benih ditabur ternyata hujan tak kunjung datang. Benih pun mati sia-sia.

Ditambah lagi harga pupuk yang belum ramah petani. Meskipun pemerintah berusaha untuk memenuhi kebutuhan pupuk petani melalui kelompok tani, nyatanya itu masih jauh dari harapan. Sering kali pupuk subsidi dari pemerintah terlambat turun dan akibatnya pertanian rusak. 

Sedangkan jika petani membeli pupuk nonsubsidi, harganya melambung tinggi. Secara perhitungan, petani akan sulit mendapatkan laba atau bahkan mengalami kerugian.

Belum lagi data petani yang dipegang pemerintah sering kali tidak sesuai dengan yang ada di lapangan. Akibatnya, penyaluran pupuk bersubsidi tidak bisa berjalan sesuai dengan rencana.

Dari uraian sejumlah persoalan di atas maka Hari Pangan Sedunia 2022 ini selayaknya dijadikan momentum bagi pemerintah untuk melakukan reformasi kebijakan di bidang pertanian. Data petani perlu diperbaharui dan distribusi pupuk perlu diperhatikan. Keterlambatan pupuk sampai ke petani bukan hal sederhana, tapi berarti sebuah kerugian yang besar.

Selain itu, pendampingan dan peningkatan pendidikan petani juga perlu diperhatikan. Para praktisi, akademisi, dan para ahli pertanian dapat diajak berkolaborasi untuk mendampingi dan meningkatkan pendidikan para petani. Mereka juga dapat diajak melakukan berbagai inovasi agar pertaniannya bisa semakin maju.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun