Mohon tunggu...
Syahirul Alim
Syahirul Alim Mohon Tunggu... Penulis Lepas, Penceramah, dan Akademisi

Penulis lepas, Pemerhati Masalah Sosial-Politik-Agama, Tinggal di Tangerang Selatan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kurban Persembahan untuk Allah

10 Agustus 2019   14:40 Diperbarui: 10 Agustus 2019   14:49 179 4 3 Mohon Tunggu...

Tradisi kurban dalam sejarah manusia tentu saja telah dimulai sejak zaman agama primitif. Bahkan, kurban di masa Animisme dan Dinamisme, dilakukan dalam serangkaian upacara khusus dengan bentuk pengorbanan dari manusia ataupun binatang. Segala sesuatu yang dikurbankan melalui suatu ritual yang sakral, hampir seluruhnya merupakan persembahan manusia kepada Tuhannya.

Darah dan daging seringkali menjadi simbol persembahan yang akan "diterima" oleh Dewa Tertinggi (Tuhan/Allah) dan tradisi ini tetap dijalankan hingga saat ini oleh beberapa agama tertentu, khususnya agama Islam. Setiap tanggal 10 Dzulhijjah, perayaan sangat sakral dari upacara penyembelihan hewan kurban di pagi hari, dijalankan oleh seluruh umat Muslim di seluruh dunia.

Tradisi atau ritual keagamaan selalu mengikuti peristiwa-peristiwa kemanusiaan sebelumnya, entah sebagai bentuk keteladanan atau tentu saja mematuhi segala sistem simbol yang menjadi ciri sebuah agama. itulah sebabnya, Clifford Geertz pernah mendefinisikan agama sebagai keyakinan atau kepercayaan terhadap sistem simbol-simbol yang meresap dan tahan lama dalam diri manusia.

Kekuatan simbol sangat bergantung kepada kebiasaan, tradisi, atau ritual yang terus diabadikan oleh suatu agama, sehingga cara mereka memandang simbol-simbol tersebut juga pada akhirnya lebih dekat terhadap cara pandang prelogos, atau barangkali "primitif" ketika yang diperkuat hanya simbol-simbolnya saja tidak bergeser ke bentuk substantif dengan kekuatan logos (akal).

Islam, merupakan agama baru---dibanding Yahudi dan Nasrani---tetapi bukan berarti Islam mengabaikan "simbol-simbol" yang juga dipergunakan oleh kedua agama sebelumnya. Ritual pengurbanan kepada Tuhan dalam beragam bentuknya, saya kira juga terdapat dalam ajaran agama Yahudi dan Nasrani. Bagi Islam, tradisi menyembelih hewan kurban secara massal pada tanggal 10 Dzulhijjah (Idul Adha) tentu saja mengikuti tradisi Nabi Ibrahim yang mungkin hampir tak ada perubahan ketika agama Islam secara definitifnya muncul di Arab yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Beberapa koreksi memang terjadi dalam ritual Islam, terutama bertambahnya bentuk hewan sembelihan---unta, sapi, atau kerbau---yang jika mengikuti tradisi Ibrahim hanya domba (ghibas) yang dijadikan hewan sembelihan.

Sulit untuk dibayangkan, bahwa pertama kali yang harus disembelih oleh Ibrahim atas perintah Tuhan adalah anaknya sendiri, Nabi Ismail. Dalam konteks ini, bentuk pengurbanan manusia yang dipersembahkan kepada Tuhan sudah terjadi dalam tradisi masyarakat jauh sebelum itu. Dalam suatu riwayat disebutkan, bahwa Nabi Ibrahim yang telah sangat lama tidak dianugerahi keturunan, beliau bernazar, "jika nanti ia memiliki keturunan, ia rela jika nanti Tuhan memerintahkannya, sekalipun harus menyembelih anaknya sendiri".

Ada suatu relasi historis yang sangat panjang, dimana kemungkinan dalam kepercayaan primitif menjadikan manusia sebagai "kurban" yang dipersembahkan kepada Tuhan adalah hal biasa, bahkan mungkin suatu kebanggaan tersendiri. Namun, Islam mengoreksi bahkan menghapusnya dengan menggantikan kurban persembahan dengan hewan tertentu, dengan persyaratan-persyaratan tertentu pula.

Barangkali yang agak lebih dekat kepada masa pra Islam yang erat kaitannya dengan sejarah kehidupan Nabi Muhammad adalah ketika ayah beliau yang bernama Abdullah juga memiliki riwayat yang sama dengan kejadian yang menimpa Nabi Ismail, yaitu akan dijadikan persembahan untuk Tuhan.

Ibnu Hisyam dalam bukunya, "Sirah Nabawiyah", menyebutkan bahwa Abdul Muthalib pernah bernazar jika kaumnya bangsa Quraisy mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam hidup dan dirinya dikaruniai sepuluh anak, maka salah satu anaknya akan dijadikan kurban persembahan yang akan disembelih dihadapan Ka'bah. Dari sepuluh orang itu diundi, lalu muncullah nama Abdullah, ayahanda Nabi Muhammad yang seharusnya dipersembahkan sebagai kurban, namun desakan dari anggota suku lainnya, akhirnya Abdul Muthalib membatalkannya dan diganti dengan menyembelih sekian ekor unta yang dibagikan dagingnya kepada masyarakat.

Tradisi sembelihan yang khusus dipersembahkan manusia kepada Tuhan, barangkali hanya dalam agama Islam ritual ini tetap diabadikan dan menjadi bagian dari bentuk ibadah sosial yang paling tampak. Ajaran Islam tentu saja melakukan modifikasi tentang berbagai tata caranya, terutama dalam konteks penyembelihannya. Ajarannya yang humanis, mengajak siapapun yang hendak menyembelih agar memberikan perlakuan baik terhadap hewan sembelihannya dengan disebutkan nama Allah ketika hendak disembelih dengan terlebih dahulu menajamkan pisau sembelihan agar mempermudah proses penyembelihan. Sekilas memang tampak kejam bagi para pencinta binatang, namun disisi lain, bahwa proses penyembelihan yang baik justru tidak menimbulkan rasa sakit bagi binatang yang disembelih, terlebih binatang ini jelas tak mempunyai akal.

Dalam beberapa riwayat hadis, binatang sembelihan yang diperlakukan sangat baik dan disembelih dengan syarat-syarat yang ditetapkan syariat, ia tidak pernah merasakan sakit, sebab Allah telah terlebih dahulu mencabut nyawanya sebelum pisau sembelihan menyentuh lehernya. Ini tentu saja bukan semangat apologis, namun dapat dibuktikan dimana daging hasil penyembelihan secara baik dan benar sesuai syariat, lebih enak dan lebih tahan lama jika dikonsumsi manusia. Bagaimanapun, itulah ritual agama dan hewan sembelihan tentu saja simbol kedekatan manusia dengan Tuhannya. Cocok dengan kata "kurban" yang diambil dari bahasa Arab, "qaraba" yang berarti "dekat" atau "berupaya mendekatkan diri" (qurban). Dan berkurban sejak zaman primitifnya adalah upaya sungguh-sungguh seseorang untuk lebih dekat kepada Tuhannya yang ditunjukkan melalui ritual simbolik dengan menyembelih binatang ternak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN