Mohon tunggu...
Syahirul Alim
Syahirul Alim Mohon Tunggu... Penulis Lepas, Penceramah, dan Akademisi

Alumnus Magister Ilmu Politik UI, Penulis lepas, Pemerhati Masalah Sosial-Politik-Agama, Tinggal di Tangerang Selatan

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan Pilihan

Puasa, Kepatuhan, dan Kesabaran

14 Mei 2019   12:44 Diperbarui: 14 Mei 2019   12:57 0 1 0 Mohon Tunggu...

Manusia yang berstatus sebagai hamba Tuhan, tentu saja mutlak tunduk dan patuh hanya kepada-Nya. Ketundukan dan kepatuhan ini merupakan fitrah dan sesuatu yang given melekat dalam diri setiap orang. Manusia sebagai mahluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan, tentu memiliki kecenderungan spiritual untuk dekat, patuh, dan tunduk di hadapan-Nya. Sarana yang paling lazim dipergunakan manusia untuk kegiatan mendekatkan dirinya kepada Tuhan adalah puasa, terlepas dari beragam metodenya, namun ritual kuno ini mampu menyingkap banyak tentang kekuatan-kekuatan tersembunyi yang diperoleh seseorang karena upaya mendekatkan dirinya kepada Tuhan.

Puasa memberikan dorongan kepatuhan sekaligus ketundukan seorang hamba kepada Tuhannya, terutama bagaimana dirinya "menahan diri" dari segala hal yang merusak kualitas puasanya. Itulah sebabnya, puasa juga erat kaitannya dengan mendidik seseorang berjiwa lapang dada dan bersabar. Hampir dipastikan, tak ada ritual lain yang ada dalam sejarah agama manusia yang mengetatkan pendidikan sabar kecuali puasa. Manusia selalu menginginkan dirinya secara spiritual dekat dengan Yang Menciptakannya dan secara "ritual" cenderung ingin menjadi yang terbaik diantara manusia lainnya. Puasa, memberikan ruang kesabaran lebih luas akibat dipicu kedekatan seseorang kepada Tuhannya.

Pernah Nabi Muhammad ditanya oleh seseorang, dimanakah Tuhan? Secara sederhana namun mantap, beliau menjawab, "Dia ada diantara kalian dan ada diantara leher binatang tunggangan yang kalian pergunakan". Pernyataan Nabi ini seolah menggambarkan betapa sangat dekatnya Tuhan dengan manusia, bahkan hampir-hampir tak ada satu keadaanpun yang tak luput dari "kehadiran"-Nya. Dalam keadaan sendiri, berkumpul, bahkan disaat manusia bepergian sekalipun, Tuhan hadir dan senantiasa menyertai. Kesadaran Ketuhanan seperti inilah yang selalu diangkat dari nilai-nilai abadi dalam puasa yang dilakukan oleh manusia.

Kedekatan Tuhan dengan manusia, tidak saja berada dalam ruang-ruang batin yang dihidupkan melalui ritual-ritual tertentu yang membangkitkannya. Tuhan sendiri telah mendeklarasikan, bahwa "sebagian dari ruh-Nya" telah ditiupkan kepada manusia (QS. 15: 29). Dengan demikian, sulit untuk tidak dikatakan, bahwa manusia sesungguhnya adalah mahluk spiritual yang selalu ingin "kembali" kepada Dzat Yang Menciptakannya. Puasa, paling tidak telah menjadi ritual manusia paling kuno yang sudah dipraktikkan sebagai bukti "kedekatan" manusia dengan Tuhan dan keinginan mereka "kembali" ke haribaan sang Penciptanya.

Tuhan juga selalu mendeklarasaikan bahwa Dia sangat dekat (fa inni qariib) dengan hamba-Nya, terlebih jika mereka meminta segala harapan dan keinginan melalui doa kepada Tuhan. Bahkan, Alquran melukiskan betapa Tuhan teramat dekat, lebih dekat dari urat nadi manusia itu sendiri (aqrabu ilaihi min habli al-warid). Jadi, tak pernah ada rasanya manusia kafir terlebih musyrik di muka bumi ini, jika dalam diri manusia itu sudah ditiupkan "sebagian" dari ruh-Nya, sehingga manusia berkecenderungan spiritual untuk selalu ingin berdekatan dengan Tuhannya.

Kewajiban berpuasa yang dibebankan kepada manusia, hanyalah sarana untuk lebih mempertegas kembali kedekatan, ketundukan, dan kepatuhan manusia kepada Tuhan. Lalu, dengan segala ritual ini, manusia akan berkemampuan membentuk kepribadiannya secara lebih baik dan sempurna, sebagaimana pendidikan kesabaran yang dijalaninya selama berpuasa. Maka, agak aneh rasanya jika dalam keadaan berpuasa, tetapi seseorang tidak memberikan sedikitpun ruang kesabaran bagi dirinya, tetapi menutupnya dengan segala keangkuhan, kecongkakan, dan semangat semu yang justru semakin menjauhkan dirinya dengan Tuhan.

Padahal, puasa jelas didasarkan atas motif kepatuhan dan ketundukan sepenuhnya kepada Tuhan, dan kesabaran merupakan nilai-nilai yang kemudian meresap dalam laku kesehariannya. Jika boleh disimplifikasikan, betapapun puasa merupakan kesabaran itu sendiri. Tak ada kesabaran kecuali dalam ritual puasa, sehingga tak heran rasanya ketika Tuhan menjamin bahwa "puasa itu milik-Ku dan Akulah yang akan membalasnya" (Ash-Shaumu lii wa inni ajzi bihi). Terdapat keterkaitan yang begitu erat mengingat puasa adalah "milik Tuhan", maka mereka yang berpuasa dengan tujuan mendekatkan diri kepada-Nya dengan ketundukan dan kepatuhan melalui keteladanan sabar,  disadari ataupun tidak merupakan upaya seseorang untuk cenderung "kembali" kepada-Nya.

Puasa, dengan demikian mencerminkan nilai-nilai indah nan agung yang semestinya tetap dijaga oleh sementara orang yang menjalankannya. Kepatuhan, ketundukan, dan kesabaran adalah beberapa nilai dari puasa yang tetap lestari dan tak mungkin tergantikan oleh apapun, walau harus melampaui pergeseran ruang dan zaman dalam sejarah kehidupan manusia. Mungkin kita akan bertanya-tanya, kenapa masih saja ada orang-orang berpuasa, tetapi masih tetap tak mencerminkan "kedekatan" dirinya kepada Tuhan? Ada sementara orang yang berteriak-teriak akan memenggal kepala seseorang atau tak sanggup menahan luapan emosi karena urusan sepele politik.

Padahal, tanpa harus berbuat melampaui bataspun, Tuhan telah memberikan keistimewaan kepada siapapun yang berpuasa, dimana segala keinginannya akan dikabulkan jika berdoa di waktu-waktu berbuka. Nabi Muhammad pernah menyatakan, "Setiap orang yang berpuasa itu doanya mustajabah ketika mereka berbuka. Akan diberikan jawaban langsung dari Allah ketika di dunia, atau jika tidak, Allah akan menangguhkannya dan menjawabnya kelak di akhirat". Itulah balasan atas kesabaran mereka yang berpuasa, dimana setiap untaian kalimat yang mengalir dari sela-sela bibirnya yang kering, justru memiliki tuah karena Tuhan akan langsung mengabulkan doanya.