Mohon tunggu...
Syahirul Alim
Syahirul Alim Mohon Tunggu... Penulis Lepas, Penceramah, dan Akademisi

Penulis lepas, Pemerhati Masalah Sosial-Politik-Agama, Tinggal di Tangerang Selatan

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Ini Efek Vibrasi Menulis di Kompasiana

1 November 2018   15:38 Diperbarui: 1 November 2018   16:10 525 7 0 Mohon Tunggu...

Menulis bagi saya adalah kegiatan yang menyenangkan, karena selain sebagai penyaluran hobi corat-coret, paling tidak dapat menumpahkan isi hati dan pikiran menyoal beragam isu yang berkembang di ranah publik. 

Menulis bagi sebagian orang adalah aktualisasi diri dalam melawan lupa, karena melalui tulisanlah satu-satunya media yang diharapkan selalu dapat mengingat peristiwa-peristiwa apapun yang terjadi di tengah masyarakat. 

Saya tentu saja berterima kasih kepada Kompasiana yang memberikan ruang seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin menyalurkan segala uneg-unegnya melalui tulisan.

Saya mengenal Kompasiana baru seumur jagung, karena baru 2016 saya bergabung dan mencoba mengaktualisasikan diri melalui tulisan. Tanpa terasa, semangat menulis saya yang terus membuncah membuat hari-hari saya tak pernah sepi dari menulis. "One day one article" seakan menggelayuti perasaan saya agar dapat terus menulis setiap hari. 

Kebiasaan dalam menulis, tentu saja membuat sebuah karya tulis semakin baik, bahkan cenderung lebih fokus, tajam, dan terukur. Selama kurang lebih satu tahun saya menulis di Kompasiana, mungkin dapat dirasakan efek perbedaannya dari setiap tulisan yang saya sajikan. Entah berlebihan atau tidak, ternyata saya masuk menjadi salah satu nominee pada Kompasiana Awards 2017 lalu.

Sebelum masuk menjadi salah satu nominee di Kompasiana Awards, saya pernah mengikuti pelatihan menulis di Tempo Institute yang bertajuk "Klinik Menulis" dan saya mendapat nominasi kehormatan menjadi salah satu peserta terbaik, lagi-lagi karena tulisan-tulisan saya yang memang cukup baik dalam mengupas beragam isu-isu sosial-politik-keagamaan kekinian. K

arena saya dikirim oleh almamater saya di UIN Jakarta, maka saya dianggap memiliki prestasi dan mulai diangkat menjadi sosok kreatif diluar pekerjaan saya sebagai salah satu staf di universitas Islam tersebut.

Sampai saat ini, saya tetap menjadi salah satu narablog Indonesiana milik Tempo dan beberapa kali tulisan saya dipublikasikan di Koran Tempo akhir pekan, sebagai penghargaan atas para blogger yang menulis dengan baik di Indonesiana. 

Jadi, saya benar-benar mengucapkan rasa terima kasih saya yang mendalam kepada Kompasiana dan Indonesiana karena lewat media inilah kebiasaan menulis saya terus terasah dan berdampak vibrasi yang tidak saja pada lingkungan internal saya sendiri, namun secara eksternal banyak yang mengutip atau mempublikasikan tulisan saya, sehingga lambat laun saya lebih dikenal sebagai penulis.

Namun demikian, Kompasiana bukanlah satu-satunya narablog yang disediakan secara gratis kepada publik, beberapa media besar seperti Tempo atau Republika juga memiliki hal yang sama. Saya memang terpacu untuk tidak menulis di satu narablog, tetapi mencoba mencari alternatif lain yang berlainan platform untuk mengukur aktualitas tulisan-tulisan saya sendiri. 

Media online yang menarik perhatian saya waktu itu adalah Geotimes, karena penyajian tulisannya yang sangat kritis dan provokatif dengan merangkum semua isu-isu kekinian yang sedang aktual di tengah publik. Dan ternyata benar, beberapa tulisan saya juga layak diterbitkan di media tersebut dan saya mampu berada di dua platform media online yang benar-benar berbeda.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x