Mohon tunggu...
Syahiduz Zaman
Syahiduz Zaman Mohon Tunggu... Dosen - UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Penyuka permainan bahasa, logika dan berpikir lateral, seorang dosen dan peneliti, juga pengamat politik.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Mengapa Pria (Hampir) Tidak Pernah Memuji Ketampanan Pria Lain?

19 November 2023   19:23 Diperbarui: 19 November 2023   19:27 158
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pria tidak pernah memuji pria lain tampan. (Sumber gambar: Freepik/drobotdean)

Sepanjang sejarah panjang manusia, kita selalu dihadapkan pada berbagai norma, peraturan tak tertulis, dan harapan sosial yang mengatur hampir setiap aspek kehidupan kita. Di antara banyak aspek yang menarik dan seringkali membingungkan adalah bagaimana kita, sebagai individu, menyatakan penghargaan terhadap kecantikan dan daya tarik fisik satu sama lain. Secara khusus, mengapa wanita cenderung lebih terbuka dalam menyatakan bahwa wanita lain cantik, sementara pria jarang mengakui bahwa pria lain tampan.

Mengapa fenomena ini terjadi? Apakah ini akibat dari konstruksi sosial yang tertanam atau sesuatu yang lebih mendasar dan psikologis? Mari kita lebih mendalam dalam eksplorasi ini.

Dari sudut pandang sosial dan budaya, kita dibesarkan dalam masyarakat yang mengharapkan kita berperilaku sesuai dengan pedoman tak tertulis. Dalam banyak budaya, wanita secara tradisional dianggap lebih ekspresif dalam hal emosi dan pujian. Hal ini mungkin karena sejak usia dini, anak perempuan diajarkan untuk menghargai dan mengungkapkan keindahan lebih. 

Baik itu dalam bentuk pujian untuk boneka, pakaian, atau bahkan teman mereka. Di sisi lain, anak laki-laki sering dibesarkan dengan norma yang berbeda. Menunjukkan pengaguman terhadap ketampanan sesama pria bisa dianggap sebagai hal tabu, tantangan terhadap citra 'maskulinitas' yang mereka anut.

Jadi, bagaimana konsep maskulinitas dan femininitas memengaruhi cara kita menyatakan penghargaan? Maskulinitas sering dikaitkan dengan kekuatan dan kemandirian, sementara femininitas lebih terkait dengan kelembutan dan empati. Oleh karena itu, pria mungkin merasa bahwa mengakui ketampanan pria lain secara tidak langsung melemahkan posisi mereka sebagai 'pria sejati.' Wanita, di sisi lain, didorong oleh norma femininitas untuk lebih terbuka dan ekspresif, termasuk dalam menyatakan penghargaan terhadap kecantikan sesama wanita.

Kita tidak bisa mengabaikan peran persaingan dan rasa cemburu dalam dinamika ini. Pria sering bersaing dalam hal status dan kekuasaan. Dalam konteks ini, mengakui ketampanan sesama pria bisa dianggap sebagai pengakuan terhadap 'keunggulan' yang dirasakan oleh orang lain. Sebaliknya, wanita sering bersaing dalam hal penampilan, tetapi persaingan mereka mungkin lebih halus dan tidak langsung. Dalam banyak kasus, memberikan pujian kepada wanita lain bisa menjadi cara untuk membangun hubungan sosial atau bahkan mengurangi ancaman yang dirasakan.

Kita juga tidak bisa mengabaikan pengaruh media dan persepsi masyarakat. Media sering menguatkan stereotip gender ini dengan menggambarkan wanita sebagai objek estetika dan pria sebagai figur dominan. Hal ini menanamkan ide bahwa wanita harus dihargai karena kecantikannya, sementara pria harus dihormati karena kekuatannya.

Namun, ada aspek psikologis lain yang mungkin berperan di sini. Wanita diketahui mengembangkan keterampilan komunikasi dan empati lebih cepat daripada pria. Hal ini mungkin membuat mereka lebih nyaman dalam menyatakan pujian, termasuk tentang penampilan.

Penting untuk diingat bahwa ini semua adalah generalisasi. Tidak semua wanita nyaman memuji kecantikan orang lain, dan tidak semua pria merasa terhalang untuk mengakui ketampanan pria lain. Setiap individu unik, dan cara kita mengungkapkan diri sering kali lebih kompleks daripada yang dapat dijelaskan oleh norma sosial atau konstruksi gender.

Seiring perkembangan masyarakat, kita mulai melihat perubahan dalam cara pria dan wanita berinteraksi dan menyatakan diri. Norma sosial yang kaku mulai melunak. Semakin banyak pria yang merasa nyaman dalam memberikan pujian kepada sesama pria, dan wanita terus menemukan cara-cara baru untuk menyatakan diri mereka yang tidak terbatas pada konstruksi femininitas tradisional.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun