Syahid Arsjad
Syahid Arsjad pegawai negeri

penikmat kehidupan penuh warna, suka membaca, diskusi dan menulis. \r\nTuhan bukan dalang, manusia bukan wayang. Manusia punya kehendak...\r\nfollow di twitter : @syahid_arsjad

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Serunya Menonton Film "Melawan Takdir"

25 April 2018   05:49 Diperbarui: 25 April 2018   05:56 2009 0 0
Serunya Menonton Film "Melawan Takdir"
koleksi pribadi

Film Melawan takdir yang diangkat dari novel Melawan takdir adalah kisah nyata perjuangan hidup Prof. Hamdan Juhanis. Prof. Hamdan adalah Professor termuda di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) yang meraih jabatan guru besarnya pada umur 37 tahun. Pendidikan S2 di Kanada dan pendidikan S3 di Austalian National University (ANU). Sekarang beliau menjabat sebagai wakil rektor IV di UINAM.

Film ini mengisahkan perjuangan beliau sejak kecil yang yatim dan terbelenggu dengan kemiskinan di Mallari Bone. Tinggal digubuk yang sangat sederhana bersama ibu, nenek dan saudaranya. Banyak nostalgia masa kecil yang pernah dilalui Hamdan dikisahkan disini. Badan yang ceking dan kurang gizi sehingga selalu tertinggal bersama teman-temannya, terbentur saat berenang, kecelakaan traktor sampai berak celana di sekolah (ha...ha...). 

Namun semua keterbatasan itu tidak menghalangi Hamdan Kecil untuk terus menuntut ilmu. Badannya yang ceking ternyata memuat otak yang encer. Keterbatasan ekonomi mampu dilaluinya meski harus membantu ibunya menjual kue disekolah, ibunya menjadi penenun kain dsb. Semangat Hamdan untuk menuntut ilmu juga didukung oleh keluarga dan kerabat disekitarnya menjadi faktor kunci kesuksesannya.

Ada banyak hal mengapa film ini sangat mengasyikkan untuk ditonton, yang pertama film ini sukses menghadirkan nostalgia masa kecil di kampung diera 70an-80an.Situasi -situasi keterbatasan masa lalu dengan tidak adanya listrik, fasilitas sekolah yang terbatas tersampaikan dengan baik.  Suasana pedesaan di Mallari kec. 

Awangpone yang masih asri dengan suasana kekerabatan dan kebahagiaan anak-anak yang bermain disore hari membuat kita rindu dengan suasana ini dimasa lalu. Khususnya bagi saya dan mungkin banyak orang yang lahir dan besar dengan suasana kampung.   

Yang kedua, film ini juga sukses mengaduk-aduk perasaan penonton antara haru dan gembira, tawa dan tangis dengan hadirnya tokoh rekaan kannacong yang menjadi teman bermain anak-anak. juga sebagai tokoh yang memediasi imajinasi hamdan tentang masa depan. Peran kannacong yang kocak dan sering dipermainkan anak2 benar-benar sukses mengocok perut.

Selain mengasyikkan, film ini juga memiliki pesan moral yang sangat kuat sebagai motivasi bagi generasi muda untuk tidak mudah menyerah dalam mengajar cita-cita. Film ini adalah film pendidikan seperti laskar pelangi, denias atau 5 menara. 

Namun kelebihan film ini peran masyarakat lebih nampak dalam membentuk karakter Hamdan kecil. Nenek, Ibu, Kerabat, Guru dan ustadz semua mendukung untuk memuliakan ilmu, sehingga keterbatasan ekonomi bukan menjadi penghalang kesuksesan. 

Masyarakat di Kabupaten Bone yang memegang teguh adat dan agama secara sinergis meembentuk karakter anak-anak seperti hormat pada yang lebih tua, mengutamakan sopan santun, hormat pada guru sehingga menjadi modal yang besar meniti cita-cita. Mungkin inilah sebabnya mengapa Bone banyak melahirkan tokoh dipentas nasional

Film ini juga menyampaikan pesan yang dalam tentang persepsi takdir yang keliru dimasyarakat kita yang cenderung jabariah (nerimo). Pandangan bahwa kemiskinan adalah takdir tuhan yang tidak bisa berubah dan harus dijalani masih banyak dimasyarakat kita. sudah banyak penelitian yang menunjukkan pandangan hidup jabariyah salah satu penyebab lemahnya motivasi dalam meraih kesuksesan. 

Padahal Allah SWT memberikan kita potensi dan kehendak yang bisa dioptimalkan sehingga kita bisa melakukan pilihan-pilihan dalam hidup. Sukses dan Gagal adalah konsekwensi dari pilihan -pilihan kita. Bahkan Allah mempersilahkan kita untuk memilih apakah mau beriman atau kafir dengan segala konsekwensinya.

 Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. {Q.s. Al-Kahfi: 29}

Namun kita tidak boleh jumawa, bahwa apa yang inginkan dapat dicapai murni dari usaha kita seperti pandangan kaum qadariyah. Pandangan yang seperti ini menafikan kontribusi orang lain dalam langkah-langkahnya termasuk menafikan campur tangan Tuhan. Padahal setiap kesuksesan yang kita raih ada kontribusi banyak orang, dan tentu saja seizin Allah SWT. 

Orang yang berpandangan qadariyah yang terlalu percaya diri dengan segala kemampuannya yang terbatas, menafikkan kontribusi orang lain dan intervensi Tuhan akan sombong ketika sukses dan akan putus asa ketika gagal. Oleh karena itu kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk mengejar takdir kita, namun berserah diri kepada Allah dengan segala hasil yang kita usahakan. Berpasrah kepada Allah, bukan pasrah pada keadaan.

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu..." (QS. Al Hadiid:22-23)

Ada beberapa keterbatasan film ini dalam pandangan saya.  pertama, proses perjuangan hamdan ketika menempuh S1 kurang dieksplor, bagaimana ia membagi waktu antara studi, organisasi dan mencari tambahan penghasilan tidak terlalu tergambar dengan baik. Padahal kunci kesuksesannya ada pada kemampuan manajemen waktu dan pengembangan dirinya yang diperoleh di organisasi. Juga tidak nampak di film konsistensinya pada cita-cita dan pesan orang tua dalam menghadapi godaan hura-hura dan pacaran yang kadang menyebabkan kegagalan. 

Kedua, karakter tokoh hamdan besar yang kurang pas dengan sosok asli prof hamdan yang lembut, mengalir, humoris dengan kemampuan komunikasi yang baik. Karakter hamdan besar terlihat sangat bersemangat, energik dan pekerja keras. 

Ketiga, masih banyak pengambilan gambar yang kurang hidup mungkin karena keterbatasam dana atau teknologi, misalnya setting saat wisuda dan saat pengukuhan guru besar yang sangat sederhana

Bagaimanapun, saya sangat puas menonton film ini dan sangat recomendeed bagi siapa saja terutama bagi generasi muda kita