Edukasi

Untuk Para Dosen dan Guru (2): Kehidupan

17 Januari 2019   07:50 Diperbarui: 17 Januari 2019   08:05 130 1 1
Untuk Para Dosen dan Guru (2): Kehidupan
Dok. Pribadi

Berikut ini adalah catatan saya pribadi dari Parker J. Palmer, The Courage to Teach: Exploring the Inner Landscape of A Teacher's Life.  San Fransisco: Jossey-Bass, 1997 sebagai satu tips buat anda yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.  

Seorang pengajar perlu mengenal diri sendiri, mengenal subjek (apa yang diajarkan), dan mengenal peserta didik atau murid-muridnya. Sekurang-kurangnya ada empat pertanyaan yang perlu diajukan didalam kita mengajar, antara lain: what, how, why, dan who

  • What, apa subjek yang akan kita ajar? 
  • How, merupakan pertanyaan yang lebih dalam dari what, yakni bagaimana saya menyampaikan materi pelajaran ini, metode apa yang sesuai. 
  • Why, yakni meliputi tujuan kita mengajar. 
  • Who, pertanyaan yang harus kita arahkan pada diri sendiri sebagai pengajar dan juga murid-murid.

Seringkali dalam pembelajaran pertanyaan yang diajukan hanya seputar what dan why, apa yang saya ajar dan metode apa yang sesuai dengan subjek yang saya ajar? Sesungguhya pertanyaan why dan who adalah pertanyaan yang tidak kalah penting dan dapat dikatakan sangat penting karena dalam pembelajaran atau pendidikan tidak hanya sekedar soal materi dan metode atau tehnik, namun tujuan dalam materi yang akan disampaikan dan kapasitas guru yang menyampaikan serta peserta didik yang dari berbagai latar belakang dapat menjadi manusia yang diharapkan sesuai dengan tujuan dari pembelajaran secara umum dan secara khusus sesuai dengan tujuan dari subjek pembelajaran yang mereka terima sangatlah penting.

Intelektual, emosional, dan spritual merupakan unsur yang penting dan saling berkaitan di dalam pembelajaran.  Intelektual yang dimaksudkan ialah cara berpikir, bentuk dan isi, serta konsep.  Emosional yakni cara kita dan peserta didik merasa ketika proses pembelajaran sedang berlangsung.  Spritual ialah cara-cara yang berbeda di dalam menjawab atau memenuhi hati yang berhubungan dengan kehidupan terutama hubungan kasih dengan pekerjaan kita terutama panggilan sebagai seorang pengajar.

Seharusnya sebuah lembaga pendidikan memikirkan dan bagaimana berperan dalam soal inner life para pengajar yang ada dalam lembaganya.   

Seorang pengajar tidak cukup hanya menguasai subjek dan tehnik mengajar dengan baik, tetapi juga harus punya identitas dan integritas. Pembelajaran yang baik adalah adanya materi dan tehnik yang baik dan didukung oleh identitas dan integritas guru yang baik. Kadang kala ada pernyataan-pernyataan murid yang demikian, "Dosen itu sangat menguasai subjeknya" atau "Ini [apa yang diajarkan] sungguh nyata dalam kehidupan dosen si B."  Walaupun pernyataan-pernyataan yang demikian bisa bersifat subjektif, namun hal ini bisa jadi sebuah evaluasi.

Kuasa dan otoritas, kuasa adalah sesuatu yang dari luar ke dalam diri kita (work from the outside in), sedangkan otoritas adalah sesuatu yang dari dalam diri kita keluar (work from inside out). Otoritas bukan datang dari kuasa hukum dan tehnis, tetapi dari inner life sang guru.

Setiap bidang kehidupan manusia akan berhadapan dengan yang namanya rasa takut (fear), rasa takut dalam hal politik soal ras, dalam ekonomi  atau usaha soal penghasilan dan pengeluaran, dalam agama soal kematian. Di dalam pembelajaran atau pendidikan juga ada rasa takut baik itu dalam diri guru maupun murid.  Rasa takut memang tidak enak, namun adakalanya rasa takut itu ada baiknya dimana membuat kita tetap survive dan maju asal kita tahu bagaimana menghadapinya.

Seorang pengajar bukan hanya tahu berbicara, namun ia juga perlu mendengarkan terutama murid-muridnya, dan dalam mendengarkan juga bukan hanya sekedar mendengarkan tetapi mendengarkan dengan penuh perhatian dan menunjukkan sikap menghargai si pembicara.  Ini hal yang kecil namun sangat penting, hal yang kelihatan mudah tetapi sulit.

Pembelajaran yang baik diciptakan bukan untuk kompetisi, tetapi bagaimana dapat melayani dan bermanfaat bagi orang banyak.  Peserta didik dalam tingkat tertentu tidak hanya disuguhkan teori-teori dan ujian, tetapi juga perlu memperhatikan apa yang ada dalam peserta didik tersebut, bukan hanya pemahamannya terhadap subjek tetapi sikapnya di dalam mempraktekkan subjek yang telah dipelajari dalam kaitan dengan sesama atau orang lain, misalnya seorang dokter tidak menjadikan pasiennya sebagai kelinci percobaan, tetapi memperlakukannya sebagai manusia.

Evaluasi adalah salah satu hal yang penting, khususnya bagi guru evaluasi dapat membantu memperbaiki dan mengembangkan diri khususnya berkenaan dengan subjek yang diajarkannya, sedangkan bagi instansi yang bersangkutan supaya lebih terampil mencapai visi dan misi instansi tersebut. 

Semoga tips ini bermanfaat bagi teman-teman para guru, dosen, atau para pendidik.

Sumber Bacaan:

Parker J. Palmer, The Courage to Teach: Exploring the Inner Landscape of A Teacher's Life.  San Fransisco: Jossey-Bass, 1997.