Muda Pilihan

Gudang Pembelajar di Kota Sendai, Jepang

7 Desember 2017   16:56 Diperbarui: 7 Desember 2017   20:40 660 1 1
Gudang Pembelajar di Kota Sendai, Jepang
(Sumber : Koleksi Pribadi, karya Alwan D.S, mahasiswa Universitas Tohoku)

Belajar telah menjadi kebutuhan setiap manusia untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik. Bahkan untuk beberapa orang, belajar menjadi kegiatan adiktif dan memberikan perasaan bangga dan puas dalam memenuhi rasa penasaran. Sekarang, tidak jarang kita menemui para pelajar memiliki mimpi untuk melanjutkan studinya hingga ke negeri tetangga maupun negera yang terletak jauh di benua lain.

Dengan motivasi mendapat fasilitas, lingkungan dan tantangan yang lebih menarik untuk didapat. Jepang menjadi salah satu destinasi yang banyak diminati para pelajar. Beberapa kota seperti Tokyo, Kyoto dan Osaka menjadi kota-kota yang cukup terkenal bagi pelajar Indonesia. Eits,bukan hanya kota-kota tersebut, Kota Sendai juga memiliki daya tarik sendiri. Yuk, kita mengenal lebih tentang Kota Sendai!

Sendai, City of Trees

Sendai -- ibukota prefektur Miyagi -- merupakan sebuah kota di Jepang bagian utara. Kota ini terkenal akan lingkungan yang hijau dan asri. Hal ini membuat Kota Sendai memiliki julukan sebagai City of Trees.Udara sejuk khas pegunungan menjadi hal yang dapat dinikmati di kota ini.

Sendai ini juga bukan kota yang penuh dengan hiruk pikuk perkotaan modern. Tidak banyak mall-mall maupun gedung-gedung hiburan lainnya yang dapat mengganggu konsentrasi belajar. Stasiun menjadi salah satu pusat perkotaan di kota itu. Walaupun kota Sendai terkesan berada di daerah yang tidak terlalu metropolitan , tetapi kota ini memiliki universitas dengan peringkat 20 besar di Asia menurut the QS UniversityRankings, yaitu Universitas Tohoku.

Banyak Eksperimen Banyak Experience

Awal terbentuknya, Tohoku Imperial University adalah universitas yang terkenal dengan Fakultas Kedokteran dan Engineering. Namun pada suatu ketika, terjadi bencana di daerah pertambangan yang menyebabkan kerusakan lingkungan. 

Sejak saat itu, perusahaan tambang tersebut bekerja sama dengan pemerintahan untuk membuka Faculty of Agriculturedan Faculty of Science, dengan tujuan ingin memperbaiki kerusakan lingkungan tersebut. Faculty of Agriculturemelakukan kerja sama dengan sekolah pertanian di Sapporo, yang kemudian sekarang menjadi Universitas Hokkaido. Sedangkan proses perkembangan Faculty of Sciencemembutuhkan perjuangan lebih, karena bidang sains yang kurang terkenal di Jepang. Bahkan dari jumlah kuota empat puluh siswa, hanya tiga bangku yang terisi.

(Sumber : Koleksi Pribadi, karya Alwan D.S, mahasiswa Universitas Tohoku)
(Sumber : Koleksi Pribadi, karya Alwan D.S, mahasiswa Universitas Tohoku)
Sejak saat itu, Universitas Tohoku menerapkan open-door policy di mana membuka kesempatan untuk siapa saja bergabung, dari beberapa guru yang sudah bersertifikat, orang yang sudah bekerja, siswa dari sekolah khusus kejuruan yang sebelumnya harus mengikuti serangkaian tes. Tidak hanya itu, Universitas Tohoku juga merekrut perempuan-perempuan yang tertarik untuk bergabung -- pada masa itu, wanita dilarang untuk melanjutkan studi ke universitas -- walaupun hanya dalam jumlah sedikit.

Selain menghadapi permasalahan jumlah mahasiswa, Universitas Tohoku juga harus mencari dana untuk penelitian. Maka, Universitas Tohoku melakukan kerjasama dengan perusahaan untuk membiayai penelitian. Akhirnya, Universitas Tohoku membangun laboratorium-laboratotium dengan kolaborasi antar disiplin ilmu.

Hingga saat ini, Universitas Tohoku dengan visinya " Research-first, open-door policy " yang menyediakan fasilitas laboratorium yang memadai. Tenaga pengajarnya pun adalah pelajar jepang di Eropa, yang sudah pasti sangat berkompeten. Selain kualitasnya, para dosen di Universitas Tohoku juga sangat peduli dengan para mahasiswanya. Kebiasaan disiplin dan produktif milik masyarakat Jepang juga menjadi dorongan dalam belajar lebih.

Sejak tahun kedua, para mahasiswa sudah mulai difokuskan untuk melakukan research.Mahasiwa diminta untuk memilih satu di antara ratusan laboratorium yang terkait dengan bidang yang dipilihnya.Selain itu, mahasiswanya juga dibiasakan untuk mengikuti konferensi yang menghadirkan pembicara-pembicara yang sedang melakukan riset, ataupun yang jurnalnya sudah dipublish.Nah, suasana belajar ini sangat cocok buat kita yang mencintai sains dan penelitian !

Multikultural, Pembentuk Karakter

Jepang yang masih berada di Benua Asia, tentu saja masih memiliki nilai-nilai ketimuran yang tidak akan membuat kita mengalami culturalshockberlebih. Namun, tidak dapat dihindari juga beragam nya mahasiswa yang menuntut ilmu di Sendai dapat menjadi tantangan tersendiri dalam membentuk karakter diri.

(Sumber : https://www.insc.tohoku.ac.jp/english/wp-content/uploads/2017/06/FGL_photo_daytrip2016.jpg)SS
(Sumber : https://www.insc.tohoku.ac.jp/english/wp-content/uploads/2017/06/FGL_photo_daytrip2016.jpg)SS
Kelas Internasional untuk Pelajar Indonesia

Future Global Leadership -- Global 30 merupakan program internasional yang dimiliki Universitas Tohoku. Program ini menyediakan kuota 30 orang setiap tahunnya untuk menjadi mahasiswa undergraduate di Universitas Tohoku. Berikut adalah bebarapa program studi yang bisa diambil :

  • IMAC-U International Mechanical and Aerospace Course-Undergraduate
    Program studi ini belajar seputar mekanika, material science, teknik mesin , dan programming.
     
  • Advanced Molecular Chemistry
    Program studi ini belajar tentang kimia dan segala seluk beluknya. Mulai dari quantum chemistry hingga biochemistry.
  • Applied Marine Biology
    Program studi ini belajar tentang ilmu biologi terutama kehidupan bawah lautnya.

Nah program beasiswa ini, memastikan President Fellowship yang meng-cover Admission Fee , Entrance Fee dan Tuition Fee selama 4 tahun. Untuk living-cost alias biaya hidup juga bisa didanai oleh beasiswa (dengan beberapa syarat tertentu), selain beasiswa President Fellowship, ada juga besasiswa MEXT untuk undergraduate dan banyak kesempatan untuk mahasiswa yang ingin melanjutkan S2.

Nah, bagaimana sudah siap untuk menjelajah dunia lebih jauh?