Mohon tunggu...
Sutiono Gunadi
Sutiono Gunadi Mohon Tunggu... Pensiunan, freelance copy writer - Blogger

Born in Semarang, travel-food-hotel writer. Movies, ICT, Environment and HIV/AIDS observer. Email : sutiono2000@yahoo.com, Trip Advisor Level 6 Contributor.

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

BOS, Film Animasi Lokal yang Heroik

11 Juli 2021   19:56 Diperbarui: 11 Juli 2021   20:12 128 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
BOS, Film Animasi Lokal yang Heroik
Poster BOS (sumber: MSV Pictures)

Bicara tentang film animasi nasional, tentu kita tidak boleh melupakan film animasi 'Battle of Surabaya" yang sering disingkat BOS. Film yang disutradarai dan diproduseri oleh Aryanto Yuniawan ini kurang sukses saat dipasarkan secara komersial, terbukti saya yang penggemar film terlewat menyaksikannya saat diputar di bioskop. Tapi saya masih cukup beruntung, karena akhirnya dapat menyaksikan film ini di XXI The Breeze, BSD gara-gara undangan dari pengelola BSD. Bahkan sempat mewawancarai sang sutradara.

Film animasi lokal ini dibuat dengan gaya (style) film anime Jepang 2D. Gerakan animasi sudah cukup bagus dan jalan ceritanya sangat menarik, sangat tepat sebagai sarana untuk membuat generasi Millenial dan Z untuk belajar sejarah bangsanya. Film ini dibuat dengan  latar cerita kisah heroik peristiwa 10 November 1945 di kota Surabaya saat para pemuda Indonesia dengan gagah berani dengan persenjataan minimalis harus menghadapi kedatangan tentara Belanda yang membonceng tentara Inggris (Sekutu).

Sinopsis

Agar cerita film lebih hidup, maka digabungkan tokoh-tokoh asli dalam sejarah dan tokoh-tokoh fiktif.

Sebagai tokoh sentral cerita film ini, dikisahkan seorang anak dari keluarga miskin bernama Musa. Karena ibunya menderita sakit, maka Musa kecil terpaksa harus mencari nafkab sebagai penyemir sepatu. Dari pekerjaan sebagai tukang semir sepatu ini, Musa sempat berkenalan dengan seorang kapten tentara Jepang yang baik hati bernama Yoshimura.

Suasana perang berakibat suatu hari desa tempat tinggal Musa mengalami kebakaran hebat, dan ibu Musa meninggal dunia. Pesan terakhir dari ibu Musa pada anaknya agar ia jangan memiliki dendam pada siapapun.

Dalam suasana perang, anak-anak sering digunakan oleh pejuang kemerdekaan untuk menjadi kurir guna menyampaikan surat dari satu desa ke desa lainnya, agar tidak dicurigai oleh tentara Belanda, termasuk Musa.

Dalam kesendiriannya, Musa dipertemukan dengan Yumma, seorang gadis yatim piatu, karena ayahnya terbunuh dan ibunya diperkosa tentara Jepang, karena mereka bekerja pada keluarga Belanda. Yumma masih beruntung, karena sempat disembunyikan oleh ibunya dan akhirnya ditolong oleh seorang anggota PETA bernama Danu, dan dititipkan pada seorang nenek.

Pada film ini disisipkan juga kisah asmara, Musa dan Danu sama-sama mencintai Yumma. Danu melatihnya ilmu bela diri dan menggabungkannya pafa kelompon Kipas Hitam. Organisasi Kipas Hitam ini makin anti Republik setelah pemimpinnya meninggal dunia, sehingga Yumma bertekad melawan dan keluar dari organisasi ini.

Danupun akhirnya menyadari kekeliruannya, dan bekerja sama dengan Musa membantu pemuda-pemuda Republik untuk melawan tentara Belanda, guna mencapai cita-cita merebut dan  mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x