Mohon tunggu...
Sutiono Gunadi
Sutiono Gunadi Mohon Tunggu... Blogger

Born in Semarang, travel-food-hotel writer. Movies, ICT, Environment and HIV/AIDS observer. Email : sutiono2000@yahoo.com, Trip Advisor Level 6 Contributor.

Selanjutnya

Tutup

Teknologi Pilihan

Renungan di Hardiknas: Tingkatkan Kualitas Riset

4 Mei 2021   15:15 Diperbarui: 4 Mei 2021   15:24 43 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Renungan di Hardiknas: Tingkatkan Kualitas Riset
Riset (sumber: kompas.com)

Kalau bulan April lazim diidentikkan dengan bulan emansipasi wanit atau tokoh Kartini sebagai maskot pendobrak emansipasi wanita, maka bulan Mei identik dengan Hari Buruh atau Msy Dsy, Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional. Tanggal 2 Mei hsri lahir Ki Hajar Dewantara (1889-1959) sebagai tokoh Taman Siswa banyak mengabdikan dirinya untuk kemajuan dunia pendidikan di Indonesia.

Ki Hajar Dewantara terkenal dengan tiga mottonya dalam bahasa Jawa "Ing Ngarso Sung Tulodho" (di depan memberikan teladan atau contoh), "Ing Madyo Mangun Karso" (di tengah memberi bimbingan) dan "Tut Wuri Handayani" (di belakang memberi dorobgan). Ke tiga motto ini menjadi bekal bagi seorang pendidik, baik bagi guru maupun dosen.

Terkait pendidikan adalah masalah riset, sejak terbentuknya Kabinet Indonesia Maju, Kementerian Ristek yang dipercayakan pada Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro telah banyak mengeluhkan kurangnya sumber daya manusia peneliti di Indonesia. Bahkan dengan negara tetangga Vietnam yang baru saja hancur lebur akibat perang Vietnam jumlah peneliti Indonesia masih kalah banyak. Di Indonesia, perbandingan antara jumlah peneliti per satu juta penduduk hanya 89 peneliti, sementara Vietnam rasionya 673 peneliti per satu juta penduduk.

Juga seperti dilansir oleh World Economic Forum pada tahun 2019 Indonesia hanya berada pada posisi ke 74 untuk kategori inovasi. Kualitas sumber daya manusia peneliti masih dianggap  belum memenuhi standar. Peneliti bergelar S3 masih terlalu sedikit. Juga Jumlah penelitian produktivitasnya sangat rendah.

Padahal menurut Wakil Presiden Ma'ruf Amin, anggaran penelitian di Indonesia sudah mencapai 27 triliun Rupiah jauh lebih besar dibanding anggaran penelitian di Vietnam yang hanya 24 triliun Rupiah dan Filipina yang hanya  12 triliun Rupiah.

Kendalanya, adalah rumitnya birokrasi penelitian, yang bersifat hanya sekedar kegiatan yang  menghabiskan anggaran bukan melahirkan inovasi baru. Bedanya besar nilai anggaran adalah bukti keseriusan Pemerintah dalam membangun dan mengembangjan  riset, menurut Wapres.

Meski anggaran riset sudah cukup besar namun pengalokasiannya masih kurang tepat, menurut mantan Menristek Bambang Soemantri.

Menurut Bambang Soemantri, sebaiknya dana riset dan pengembangan disalurkan melalui sektor swasta seperti Korea, Jepang, Amerika Serikat, Tiongkok, Malaysia, dan Singapura yang  anggaran risetnya sudah diatas 50% disalurkan ke sektor swasta. Indonesia justru 85% anggaran riset masih dikuasai lembaga Pemerintah.

Pada tanggal 28 April 2021, Pemerintah akhirnya memberhentikan dengan hormat Menristek Soemantri Brodjonegoro, karena Kementerian Ristek dilebur dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menjadi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Jabatan Menteri Kemendikbud-Ristek dipercayakan kepada Nadiem Makarim. Semoga dibawah pimpinan Nadiem riset dapat dikembangkan pada pendidikan tinggi atau universitas-universitas. Pada prakteknya, Kemendikbud-Ristek akan bahu membahu dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional yang kini dikomadani oleh mantan Kepala Badan LIPI.

Semoga dengan peleburan dua Kementerian ini makin terbuka ruang untuk riset guna menumbuhkan inovasi di Indonesia. Tentunya dengan memperhatikan masukan mantan Menristek untuk lebih melibatkan sektor swasta.

VIDEO PILIHAN