Mohon tunggu...
Susy Harini Setyawati
Susy Harini Setyawati Mohon Tunggu...

Bekerja sebagai guru

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Wahyu Mandoko, Menoreh Harapan Pada Penulis Muda

26 Maret 2015   15:37 Diperbarui: 17 Juni 2015   08:58 169 2 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Wahyu Mandoko, Menoreh Harapan Pada Penulis Muda
14273589721029991858

Wahyu Mandoko. Tak banyak yang tahu nama ini, karena dia memang bukan pesohor di panggung-panggung hiburan layaknya seorang artis. Namun di kalangan wartawan, penulis dan penyair nama ini tak asing karena beliau adalah salah satu wartawan senior yang telah malang melintang di dunia jurnalistik selama beberapa dekade. Padanya banyak wartawan muda atau penulis pemula menimba ilmu.



Harian SUARA PEMBARUAN adalah tempat Wahyu Mandoko berkiprah selama menjadi wartawan. Separuh umurnya dihabiskan dengan berkeliling Indonesia untuk meliput, menghimpun dan melihat dari dekat kehidupan orang-orang untuk dituliskan menjadi artikel menarik yang bertutur tentang fenomena, seni, budaya hingga gaya hidup. Banyak yang telah merasakan manfaat langsung dari informasi-informasi yang beliau tulis melalui artikel-artikel atau liputannya.

Karier menulisnya dimulai ketika Wahyu muda menjuarai lomba mengarang yang diselenggarakan oleh sebuah yayasan yang diketuai Pramoedya Ananta Toer. Bagi seorang anak SMP, hadiah berupa buku-buku dan alat tulis pada waktu itu merupakan sebuah kemewahan. Oleh sang bunda, Wahyu muda disuruh membagi-bagikan hadiahnya itu kepada saudara-saudaranya yang lain. Dia pun melakukannya tanpa banyak bicara. Kesederhanaan sang bunda tak membuatnya mengerti jika buku-buku itu adalah hadiah lomba kejuaraan mengarang berskala nasional yang diperoleh putranya.

Kecintaan Wahyu pada dunia literasi diwujudkan dengan memilih jurusan jurnalistik dalam pendidikan lanjutannya. Di sanalah Wahyu mempertemukan energinya dengan kekuatan menulisnya di jalur yang benar. Belakangan dia mengatakan jika pada kenyataannya menulis liputan di media jauh lebih mudah dibanding dengan teori-teori yang dia dapatkan di bangku kuliah. Untuk menjadi wartawan orang hanya perlu kemauan menulis, kejelian, kepekaan dan mungkin sedikit pengetahuan, katanya merendah.

Selain di jurusan jurnalistik, Wahyu Mandoko juga menyempatkan diri belajar ilmu-ilmu tentang kesenian di IKJ. Buatnya rasa seni itu anugrah Tuhan sehingga harus mendapatkan tempat tersendiri di hatinya. Caranya dengan mendekatinya secara langsung melalui perkuliahan. Dasar pecinta ilmu, tak puas menyabet dua bidang kesarjanaan, pada tahun 1985, Wahyu juga belajar di Fakultas Hukum untuk memuaskan rasa ingin tahunya pada seluk beluk hukum.

Selama kariernya, Wahyu tak hanya menulis berita-berita yang menjadi headline di koran. Dia juga menulis berita dunia hiburan. Tak ayal sudah tak terhitung jumlah artis film, pemain sinetron, penyanyi atau entertainer lain yang sudah diwawancarainya. Nama-nama besar macam Roy Marten, Sophan Sophian, Widyawati, Lidya Kandao, Dedy Mizwar hingga personel Koes Plus pernah disambanginya untuk keperluan liputan. Mengaku kenal beberapa sutradara film tapi tak lantas menjadikannya merengek-rengek minta dijadikan aktor meskipun wajahnya tak kalah ganteng dengan Robby Sugara, ujarnya berseloroh.

Kedekatan dengan beberapa penyair besar macam almarhum W.S Rendra, Sapardi Joko Damono, Dharmadi, atau bahkan Dahlan Iskan yang sekarang menjadi menteri BUMN membuat pria kelahiran Temanggung 67 tahun yang lalu ini tak canggung menceritakan kesan-kesannya terhadap tokoh-tokoh dunia literasi Indonesia itu. Beberapa cerita kocak terlontar dari mulutnya tentang pengalamannya bersama mereka atau pun ketika bersama wartawan-wartawan senior lain seangkatannya dulu. Ada saat-saat lucu dimana mereka saling ejek-mengejek atau saat terjadi perdebatan ketika mendiskusikan banyak hal seputar issu-issu terkini yang memang harus mereka cermati dan kritisi sebagai seorang jurnalis. Bibirnya terus bergerak mengenang masa-masa keaktifannya dulu semasa masih bertugas sebagai wartawan. Suka duka telah dilampauinya dengan penuh penghayatan. Matanya sedikit meredup ketika menyatakan kerinduannya terhadap orang-orang yang banyak menghabiskan waktu bersamanya dahulu.

Memasuki masa pensiun, Wahyu Mandoko memilih kembali pulang ke kampung halaman, Purwokerto, Banyumas. Sempat menjadi dosen di sebuah universitas di Purwokerto, namun bersama istri tercinta, beliau kemudian memutuskan untuk menghabiskan waktu di rumah dengan membaca dan berkebun di halaman belakang. Sayang, kegiatan yang belakangan, tak memungkinkan dilakukannya lagi menyusul stroke yang menyerangnya di pertengahan tahun 2010 lalu. Untuk mobilitas sehari-harinya beliau menggunakan bantuan kruk.

Meskipun tak lagi aktif menulis, jiwa jurnalisnya tak lekang dari hati dan pikiran ayah dari dua orang putra ini. Terbukti, sebagai bentuk kepeduliannya terhadap dunia jurnalistik, beliau tak segan membagikan ilmunya kepada para juniornya; wartawan muda, penulis pemula atau siapa saja yang berminat dengan dunia tulis menulis. Mereka biasa dipersilahkan berkumpul dan berdiskusi bersamanya di kebun belakang rumahnya yang asri. Kepada mereka juga ditawarkan buku-buku, jurnal-jurnal atau makalah-makalah yang ditulisnya ketika beliau menjadi nara sumber di workshop-workshop ataupun training-training di berbagai kota besar di Indonesia.

Harapannya dengan bimbingan-bimbingan non-komersial yang beliau berikan itu, budaya membaca dan menulis dalam masyarakat akan semakin bertumbuh. Di tangan para penulis muda generasi berikutnya inilah beliau menaruh harapan besar untuk tugas itu. Karena peradaban suatu bangsa hanya akan lahir dari sebuah karya tulis dan budaya baca yang tinggi, pungkasnya.

VIDEO PILIHAN