Susanti Hara
Susanti Hara Guru SLB B Sukapura, penulis lepas

Pembelajar aktif

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Pilihan

Jelang Lebaran, di Kiaracondong Bandung Marak Penjual Kulit Ketupat Mengais Rupiah

13 Juni 2018   22:53 Diperbarui: 13 Juni 2018   23:15 435 5 3
Jelang Lebaran, di Kiaracondong Bandung Marak Penjual Kulit Ketupat Mengais Rupiah
dokumentasi pribadi

Disaat sebagian warga yang tinggal di Bandung sudah mudik, beberapa warga dari Tasikmalaya justru berdatangan untuk berjualan janur dan kulit ketupat.

Kemarin, Selasa, 12 Juni 2018, ketika melewati salah satu pertigaan di dekat Stasiun Kiaracondong Bandung, tampak mobil keliling yang menjual janur dan kulit ketupat. Di pertigaan tersebut pula ada seorang ibu yang sedang menunggui janur dan kulit ketupat dagangannya. Dari ibu itu saya mendapatkan banyak informasi mengenai janur dan kulit ketupat.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

Menurutnya, dia dan suaminya dari Tasik menyarter mobil bersama rombongan penjual lainnya untuk pulang pergi nanti kembali ke tempat asalnya. Ada juga yang ikut mobil kelapa. Kalau dulu mereka datang ke Kiaracondong Bandung menggunakan truk terbuka, sekarang kendaraan gede-gede tidak diperbolehkan, jadilah mereka menyarter mobil bersama.

Dari sang ibu tersebut pulalah saya tahu, mereka berjualan hingga Kamis malam karena Jumat pasti tidak laku dan mereka harus pulang kampung juga untuk ikut berlebaran bersama keluarga di kampung. Mereka menginap di tempat berjualan. Selain berjualan janur dan juga kulit ketupat, ada juga beberapa rekan seperjuangannnya yang berjualan janur dan membawa ayam kampung.

Untuk janur yang belum dianyam dijual per lembarnya Rp300,00. Sedangkan untuk kulit ketupat dijualnya 5 ribu per ikat yang berisi 10 buah kulit ketupat. Sedangkan untuk ayam kampung biasa dijual dengan harga 150 ribu sampai 175 ribu rupiah. Dan ayam kampung jantan dijual dengan harga 250 ribu rupiah.

Namun, berdasarkan pemantauan saya hari di pasar umum, harga jual kulit ketupat mulai dari 5 ribu hingga 7 ribu rupiah. Ya, tak jauh beda dengan apa yang disampaikan ibu penjual sehari sebelumnya.

Pagi tadi saat melewati Pasar Kiaracondong Bandung, sejumlah pedagang janur dan kulit ketupat benar-benar menjamur. Mereka berjualan di pinggiran jalan dan juga trotoar pasar Kiaracondong di antara keramaian aneka jualan lainnya seperti penjual kembang yang sudah mulai meramaikan pasar. 

Padahal pada hari biasanya di tempat tersebut jarang sekali ada bahkan hampir tidak ada penjual kembang, atau penjual janur dan juga pemandangan penjual janur yang menunggu pembeli sambil menganyam janur menjadi kulit ketupat.

Ya, jika mencermati gaya hidup masa kini, tentu penjualan janur kulit ketupat lebih jauh banyak pembeli ketimbang janur yang belum dianyam. Kulit ketupat lebih lebih prraktis karena nantinya kita tinggal memasukkan beras yang sudah dibersihkan ke dalam kulit ketupat. Apalagi bagi mereka yang kurang bisa menganyam janur menjadi kulit ketupat, tentunya ini akan memakan waktu dan bisa jadi tidak akan jadi kulit ketupat jika ada kesalahan saat menganyam.

Tetapi rasanya tidak salah juga jika pada momen saat ini kita belajar menganyam janur menjadi kulit ketupat. Toh, ilmunya bisa kita terapkan pada bidang lainnya, seperti menganyam kain atau kertas menjadi hiasan kulit ketupat, dll.

Ketupat yang kita kenal sebagai simbol Hari Raya Idul Fitri, sebenarnya bisa juga kita buat menggunakan plastik. Rasanya lebih praktis dan plastik ini mudah didapatkan. 

Tapi, tetap saja tampaknya masyarakat Indonesia, salah satunya warga Bandung lebih menyukai menggunakan kulit ketupat dari janur. Selain lebih alami, beraroma janur, juga katanya lebih enak ketika isi ketupat sudah matang dan siap disantap.

Menilik betapa hebatnya perjuangan mereka para penjual janur atau penjual kulit ketupat ini, meninggalkan kampung disaat orang lain pulang kampung, meninggalkan keluarga tercinta disaat orang lain mulai berkumpul dengan keluarganya, tentu wajar saja jika penghasilan mereka lebih dari cukup untuk dibawa pulang kampung dan menikmati hasil usaha jerih payah mereka.

Maraknya penjual kulit ketupat menjelang lebaran, bisa jadi merupakan salah satu ilmu dari kehidupan nyata yang bisa kita ambil pelajaran. Berikhtiar hingga kapanpun harus kita perjuangkan. Namun tentunya, kita harus lebih bersyukur lagi. Disaat para penjual ketupat ini berikhtiar dari kampungnya ke kota lain untuk mengais rupiah, kita justru memiliki banyak waktu untuk beribadah selama Ramadan dengan tenang tanpa harus seperti mereka yang bahkan tidur pun di tempat mereka berjualan.

Selamat mensyukuri semua nikmat, Kompasianer!