Mohon tunggu...
Supli Rahim
Supli Rahim Mohon Tunggu... Pemerhati humaniora dan lingkungan

.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Dokter Juga Manusia

16 Desember 2019   06:08 Diperbarui: 16 Desember 2019   07:07 72 1 0 Mohon Tunggu...
Dokter Juga Manusia
Tribunnews.com

Bismillah, Alhamdulillah, Allahumma shaliala Muhammad.

Kemaren anakku yang sejak sepuluh bulan lalu mengikuti coas (dokter muda) di sebuah PTN di kota kami pamit untuk jaga (menginap). Tapi malamnya dia pulang. Saya tanya kenapa pulang nak? Dia bilang ada kakak residen yang mengizinkan pulang setelah mengikuti dia dalam program pengabdian kepada masyarakat di luar RS.

Ketika tidak jadi jaga setelah menyelesaikan jaga di salah satu bagian mayor atau minor, bagi anak saya itu sesuatu banget. Karena capek dan capek. Pagi ini anak saya menangis karena sakit, hidung meler dan mau siap-siap jaga.

Anak saya ini orangnya serius dalam sekolah dan dalam tugas. Dalam menghadapi banyak pasien dia rela melakukannya sendiri atau bersama residen (calon dokter spesialis).  Karena itu dia heran jika ada teman-temannya yang santai-santai wae. Saya bilang ambil tengah-tengah nak.

Kau terlalu capek nak. Bayangkan satu bagian itu di setiap lantainya ada puluhan pasien yang harus dia periksa secara bergiliran. Selain itu anak saya memang punya sifat menghayati pekerjaan dengan sungguh-sungguh sehingga dia dalami persoalan dengan baik. Inilah yang menyebabkan dia kecapekan. 

Setelah saya tanya apakah coas lain juga sakit karena kecapekan? Dia menganggukan kepalanya.  Iya bi katanya. Saya bilang kalau begitu, nikmati wae nak. Kau bersyukur sekolah di sini praktek di sini. Di tempat lain sekolah di mana, praktek di mana dan bayarnya mahal. Nah, dalam kasus ananda ini ini semua baik nak. Kau praktek yang banyak pasien. Jadi kau jadi pintar. Allah akan menaikkan derajat orang-orang yang berilmu dan beriman beberapa derajat.

Sebagai ayah dan ibu dari seorang coas saya dan istri mencoba untuk tidak panik. Karena ini anak yang kedua yang bersekolah di fakultas yang sama. Istri yang saya panggil genma, menyiapkan pakaian, saya kebagian jadi dukun untuk membakar semangat anak ini. Nikmati aja nak. Jadi dokter memang capek tapi tugasmu mulia.

Sini Abi usir dulu syaithan yang menghinggapi tubuh dan jiwamu. Saya mulai baca-baca ayat ruqiyah yang saya mampu. Karena saya tahu ketika anak manusia sakit syaithan itu sedang mengobok-obok jiwa dan badan anak manusia. Karena itu sesudah dibacakan ayat-ayat ruqiyah saya tiupkan ke tangan lalu saya pukuli anak itu dengan gentle.

Saya suruh dia nangis sejadi jadinya biar lega dan puas. Setelah ingus keluar semua dan tubuhnya dipukul pukul ada terasa enak. Dia bilang terima kasih Abi. Mau makan dan mandi.

Begitulah perjuangan mengasuh anak yang bersekolah di Fakulti perubatan di manapun jua. Pembaca mungkin pernah mengalami apa yang kami alami. Tapi Alhamdulillah badai pasti berlalu. Modalnya jangan panik. Kita harus lebih sehat dan semangat dari anak-anak kita. Jangan lupa hafalkan doa-doa untuk memberi semangat jiwa manusia yang stres dan sakit karena kecapekan.

Coas juga manusia. Tepat sekali ungkapan untuk memahami keadaan. Jangan susah menghadapi orang susah. Jangan sedih menghadapi orang sedih. Dan jangan sakit menghadapi orang sakit. Jadi orangtua kerja harus ikhlas, harus kerja keras, dan harus kerja cerdas.

Menghadapi anak dengan berbagai kesulitan dan persoalan harus dilaksanakan dengan modal utama yakni sabar dan shalat. Kita mesti sabar dan sabar. Jaga shalat lima waktu karena itu adalah sumber kekuatan utama. Karena dalam shalat berlangsung transfer energi dari zat yang hebat kepada kita. Dalam shalat dibentuk kesabaran dan kebenaran serta kesungguhan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x