Supartono JW
Supartono JW Pengamat

Untuk apa sembuhkan luka, bila hanya tuk cipta luka baru? (Supartono JW.15092016) supartonojw@yahoo.co.id instagram @supartono_jw @ssbsukmajayadepok twiter @supartono jw

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Timnas Senior Menjanjikan, Timnas U-19 Mengkhawatirkan

11 Oktober 2018   09:52 Diperbarui: 11 Oktober 2018   10:23 840 1 0
Timnas Senior Menjanjikan, Timnas U-19 Mengkhawatirkan
Herka Yanis Pangaribowo/Tabloid Bola

Laga uji coba dua Timnas telah tersaji, sore dan malam hari kemarin, Rabu (10/10/2018). Hasilnya, Timnas U-19 yang akan turun dalam Piala Asia, tetap masih mengkhawatirkan. Sementara, Timnas Senior yang bersiap diri menghadapi Piala AFF, di tangan duet Bima dan Kurniawan, semakin menjanjikan.

Baik Timnas U-19 maupun Timnas Senior, masih akan melakoni uji coba sekali lagi.

Timnas U-19 akan meladeni Yordani Sabtu (13/10/2018) pukul 15.30 WIB.

Sedangkan Timnas Indonesia senior akan menghadapi Hongkong  Selasa (16/10/2018) pukul 16.30 WIB.

Kedua uji coba itu juga akan digelar di Stadion Wibawa Mukti.

Saat PSSI masih melakukan negosiasi perpanjangan kontrak  dengan Luis Milla yang belum terlihat menemui titik terang. Keberhasilan Timnas Senior menang beruntun dalam uji coba resmi FIFA, di tangan duet Bima dan Kurniwawan juga sudah memberikan harapan. Bima Sakti yang saat ini berstatus sebagai caretaker bukan mustahil naik kelas jadi pelatih permanen Tim Merah-Putih.

Yang pasti di tangan duet Bima Sakti-Kurniawan Dwi Yulianto, Timnas Indonesia meraih dua kemenangan di dua laga uji coba. Setelah mengalahkan Mauritius dengan skor tipis 1-0, semalam Tim Garuda menekuk Myanmar dengan skor 3-0.

Hanya sebagai catatan, saat laga uji coba meladeni Hongkong, Bima tidak terlalu banyak merotasi pemain. Bila ingin mencoba pemain lain di luar pemain utama yang kini sudah tergambar, paling banyak lakukan saja  pergantian pemain maksimal tiga orang.

Percuma melakukan rotasi pemain, namun pemain yang dirotasi, bermain bersama pemain yang juga tim rotasi. Hasilnya tidak maksimal, pemain rotasi juga tidak dapat mengeluarkan permainan terbaiknya, karena sudah tidak ada kerangka pemain utama yang menjadi roh permainan tim.

Seperti kejadian semalam, permainan babak kedua menjadi sangat tidak menarik untuk ditonton dan tidak membantu mengubah jalannya pertandingan.

Memang permainan tim utama masih sngat jelas tergambar hasil peninggalan Milla. Karenanya, program latihan serta strategi tidak ada perubahan dan  Timnas bermain dengan sistem yang sudah diterapkan   Milla selama dua tahun.

Untuk menuju Piala AFF 2018, 8 November--15 Desember 2018, memang sebaiknya tim dipercayakan saja ke Bima dan Kurniawan. Selain waktu yang sudah mepet, PSSI juga dapat menghemat pengeluaran untuk gaji pelatih.

Terlebih, lawan Timnas Indonesia juga sudah jelas, di Grup B bersama Thailand, Filipina, Singapura, dan Timor Leste, yang secara garis besar, sudah dapat dipetakan kekuatan masing-masing tim.

Timnas U-19 dipertanyakan

Hasil minor, kalah oleh Saudi Arabia akibat banyak melakukan kesalahan sendiri, terutama pemain belakang, lalu lambatnya transisi pemain dari bertahan ke menyerang atau sebaliknya, dan mandulnya barisan depan karena masih banyak yang bermain egois dan individualistis, cukup mengkhawatirkan keberadaan Timnas U-19.

Bila Indra berkelit, tidak memikirkan hasil dalam laga uji coba dan sesumbar kan memberikan bukti saat Piala Asia di gelar, rasanya terlalu membesarkan diri.

Kekalahan atas Saudi Arabia, menggenapi kegagalan Timnas  dalam laga uji coba tiga kali beruntun. Sebelumnya kalah dari China dan ditahan imbang Thailand.

Sebelum tiga uji coba ini, pasukan Indra juga melempem dan bahkan tak lolos dari babak kualifikasi Piala Asia, andai bukan mendapat jatah menjadi finalis karen bertindak sebagai tuan rumah.

Dengan hadirnya Egy, serta kemungkinan Egy dapat diturunkan saat meladeni Yordani Sabtu (13/10/2018) pukul 15.30 WIB, apakah menggaransi Timnas U-19 dapat keluar dari tekanan psikologi, karena lebih banyak menuai hasil buruk, meski dalam setiap laga, Timnas U-19 mendominasi permainan.

Tapi buat apa mendominasi permainan, hasil akhirnya imbang atau kalah. Untuk menembus semi final dan berharap lolos ke Piala Dunia U-20 rasanya Indra memang harus ke luar dari zona kepelatihan dan cara bertanding seperti yang diterapkan selama ini. Terutama, menjadikan pemain depan, tengah, dan belakang menjadi pemain yang dapat menyumbangkan gol, dengan tetap mengedepankan kolektivitas bermain, tidak individualis, tidak egois, cerdas intelegensi dan personaliti. Percuma unggul teknik dan speed, namun hasil minor.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2