Mohon tunggu...
Suparjono
Suparjono Mohon Tunggu... Administrasi - Penggiat Human Capital dan Stakeholder Relation

Human Capital dan Stakeholder Relation

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kemandirian adalah Hak Setiap Bangsa

29 September 2020   16:44 Diperbarui: 29 September 2020   16:52 186
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Entah sampai kapan pandemi ini berakhir atau sampai kapan hubungan interaksi sosial secara jaga jarak dan selalu menggunakan masker kembali normal. Kering rasanya interaksi sosial sekarang ini dan terasa jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang akrab dengan kemesaraan dalam berkomunikasi dan berinteraksi.

Kehidupan new normal atau kenormalan baru seolah mengubah beberapa kebiasaan manusia dalam setiap aktivitasnya untuk tidak mengatakan hampir semuanya. Kerinduan berinteraksi antar manusia yang dulu pernah ada seolah menjadi kenangan tak terkecuali dengan keluarga. 

Sebagian orang memandang kondisi saat ini menjadi bencana besar dan sebagian lagi masih berfikir bahwa pandemi ini pasti ada hikmahnya bahkan ada yang menjadikan kondisi pandemi ini sebagai peluang yang penuh tantangan. 

Dari tiga kondisi tersebut paling tidak bisa dilihat dari dua hal yaitu ada hikmah dalam kondisi pandemi dan pastinya ada peluang yang penuh tantangan dalam pandemi saat ini. Kita coba melihat kondisi pandemi ini sebagai sesuatu yang positif saja agar hidup ini bisa dijalani dengan penuh optimisme.

Mari kita melihat diri lebih dalam lagi tentang apa yang kita miliki secara pribadi, apa yang lingkungan kita miliki dan apa yang negeri ini kita miliki. Hingar bingar tentang resesi harusnya bisa kita kendalikan dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh negeri ini. 

Mungkin hanya untuk survive saja negeri ini bisa menghidupi kebutuhan pokok seluruh rakyatnya. Dengan catatan bahwa kita bisa melihat bahwa makanan pokok yang bermacam-macam seperti Nasi, Jagung, Sagu, Ubi Jalar, Singkong, Jelai dan Sorgum bisa dimanfaatkan dan diberdayakan agar bisa menjadi komoditas pangan alternatif. Makanan pokok merupakan contoh kecil, belum lagi resources yang ada di bumi, air dan udara. Sejatinya kalau pandemi ini dijadikan bahan renungan tentu negeri ini mampu melepaskan diri dari resesi dan perlambatan ekonomi.

Tentu perlu kerja bersama-sama dan sama-sama bekerja antara pemerintah, dunia industri, civil society dan akademisi. Hikmah pandemi bisa menumbuhkan kemandirian dan kebebasan dalam menentukan arah bangsa ini. 

Pemerintah memberikan peluang dengan mengeluarkan regulasi, dunia industri mendukung dengan kepeduliannya dengan lingkungan melalui community development, civil society bekerja dengan ide kreatifitasnya dan akademisi mendesain bagaimana keberlangsungan kemandirian ini mampu memberikan landasan filosofis yang saling terkait sehingga solusi yang diambil berdampak signifikan bagi negeri. 

Kolaborasi yang apik ini tentu tidak serta merta muncul dengan sendirinya perlu willingness diantara pemangku kepentingan agar mewujud dengan visi dan misi yang sama. Sehingga travel warning yang dikeluarkan oleh kurang lebih 59 negara kepada Indonesia tidak banyak berpengaruh.  

Keempat element tersebut merupakan salah satu kunci keberhasilan dari kuda-kuda yang dipakai dalam menghadapi pandemi yang berdampak pada resesi. Alih-alih pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tidak terukur malah akan menyebabkan misleading hubungan antar Lembaga menjadi kurang elok terlihat. Keempat element tersebut punya tugas dan fungsinya masing-masing agar harmonisasi dalam penyelamatan kondisi ekonomi vs kesehatan secara simultan bisa diatasi dengan apik. 

Dalam kondisi sekarang memang tidak ada yang bisa menjadi superman yang ada super team, karena kerjasama dan komunikasi menjadi salah satu kunci keberhasilannya. Masing-masing punya andil dan cara yang berbeda tetapi perlu disatukan oleh satu dirigen yaitu leadership sehingga keempat element tersebut bisa menjadi orchestra yang harmonis dalam menangani permasalahan ekonomi dan kesehatan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun