Suparjono
Suparjono Pekerja Swasta

Pekerja Swasta

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Ngarit, Kesederhanaan Mengelola Sumber Daya Alam

11 Juni 2018   05:26 Diperbarui: 11 Juni 2018   07:24 373 0 0

Pemandangan sering kali kita lihat di daerah pedesan diantara tanaman induk seperti padi dan palawija lainnya atau diluasnya padang tanah yang dilakukan oleh seseorang. Ngarit adalah nama aktivitasnya, sebuah gerakan sosial yang dilakukan secara rutin demi memenuhi kebutuhan mahluk lainnya.  

Ngarit merupakan spirit kearifan lokal (local wisdom) yang dapat kita kaji secara mendalam untuk menjadi khasanah pemikiran di era yang sudah menuju pada era pasca modern atau sering dikenal dengan postmodern. Ngarit adalah sebuah ikhtiar manusia dalam memberikan kasih sayang dan bentuk tanggungjawab kemanusiaan kepada sesama mahluk agar siklus alam ini tetap terjaga. 

Di sana ada nilai-nilai terkait dengan pemilihan tempat (place) yang baik, jenis suket (baca:rumput-->product) yang cocok lagi baik, alat (mechine) yang tajam seperti Cengkrong (semacam pisau yang khusus untuk memotong rumput), cara ngarit yang baik (method) sehingga Cengkrong yang digunakan untuk ngarit tidak menyentuh bebatuan yang membuat tumpul.

Ngarit tentunya tidak dilakukan sebagai bentuk eksploitasi alam secara besar- besaran dan membabi buta. ia merupakan aktivitas yang dilakukan secara berkala sesuai dengan kebutuhan mahluk yang dipelihara. ia merupakan praktek yang memperhatikan alur proses alam yaitu antara tumbuhan, hewan, manusia. ia akan membiarkan rumput itu tumbuh kembali hingga tak tercabut dari akarnya. Result atau hasil yang didapat dari aktivitas tersebut adalah berkembangnya ternak yang dimiliki oleh peternak sehingga alam raya juga tetap terjaga. seorang peternak akan mencari rumput yang hijau dan membiarkan rumput (yang sudah dilakukan proses ngarit) berkembang melalui proses alam.

Apa yang dapat kita ambil hikmah dari proses ngarit itu mungkin bisa renungkan. Kalau ditarik pada konteks kekinian maka disitu ada proses manajemen yang secara sadar maupun tidak sadar dilakukan oleh kalangan bawah dengan bahasa yang sangat sederhana. 

Memang ada beberapa prinsip yang sebagian dari mereka diabaikan, salah satu diantaranya adalah kepemilikan lahan. Namun dengan bahasa komunikasi yang sederhana mereka mampu menguasai lahan tersebut agar dapat dijadikan tempat untuk mendapatkan sumber penghidupan ternak mereka.

Lewat silaturahmi mereka bangun jaringan guna memperoleh apa yang mereka hendak capai atau dalam konteks kekinian mereka menggunakan teknik komunikasi yang sederhana dimana ada komunikan, informasi (baca:pesan) dan komunikator. Pola yang sederhana mampu mereka jalani dengan penuh kesabaran hanya untuk dapat bertahan hidup dan mencukupi papan pangan dan sandang.

Hubungan yang dilandasi dengan penuh kesederhaan tanpa transaksi yang berlebihan sungguh sangat indah dipandang. Hubungan dalam suasana yang penuh pengertian antara penggembala dengan tuan tanah. Keduanya tidak ada yang saling menegasikan satu sama lain. Imbalan secara langsung tidak nampak, tidak ada kapitalisasi dalam proses pemberian makan kepada ternak penggembala. 

Memberikan peluang kepada penggembala merupakan bentuk integible investment yang tidak bisa diukur dengan material sekalipun. Suasana ini memang agaknya sudah jarang kita temukan kembali tetapi mungkin masih ada. Hanya saja praktek -- praktek tersebut mungkin hanya dilakukan oleh orang -- orang  zaman old yang berada di daerah -- daerah pinggiran atau pedesaan.

Ada banyak kearifan lokal yang mempunyai nilai-nilai yang luhur kalau kita mau menilik lebih jauh kembali budaya kehidupan masyarakat nusantara ini.