Akhmad Sujadi
Akhmad Sujadi Wiraswasta

Entepreneur

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Pilihan

Kepindahan Ibu Kota dan Nasib LRT Jakarta

16 Mei 2019   07:38 Diperbarui: 16 Mei 2019   07:52 81 1 0

Jakarta  sebagai ibu kota negara memiliki sangat tinggi. Meskipun Jakarta sudah berusia lebih dari 491 tahun di 2018 lalu, Kota Jakarta yang konon lahir pada 22 Juni 1527 ini belum mampu menjadi kota yang nyaman bagi warganya. 

Meskipun demikian warga penjuru tanah air terus datang ke ibu kota. Jakarta masih menjadi magnet bagi masyarakat dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura dan berbagai suku bangsa dari seluruh nusantara  sebagian warganya mencari nafkah dan tinggal di Jakarta.

Menghapi beban Jakarta yang demikian berat Pemerintah Pusat berencana akan memindahkan ibu kota ke luar Jawa. Langkah pemerintah sangat logis. Membangun kota baru dengan serba baru mulai penataan bangunan gedung, jalan, infrastruktur  transportasi lebih mudah dibanding memperbaiki kondisi Jakarta yang kumuh. Membenahi Jakarta ibarat menjahit baju dengan bahan baju bekas namun harus dirajut kembali menjadi baju yang bagus.

Hanya PT KAI saja yang mampu  menjahit pelayanan  amburadul menjadi transportasi umum yang tertib, aman  dan nyaman. Untuk memberesi KAI, semua unsur bergerak, semua memperbaiki. Usaha serentak di semua lini berhasil menyulap kondisi pelayanan dalam lima tahun. 

Apakah Jakarta dengan 9 juta warganya bisa bergerak serentak untuk mengubah Jakarta menjadi lebih baik? Musthil. Karenanya upaya memindahkan ibu kota menjadi jalan terbaik menata ibu kota dan menata Jakarta lebih cantik.

Jakarta baru saja mengoperasikan Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta dari Hotel Indonesia ke Lebak Bulus. Transportasi yang aman, nyaman dan tepat waktu ini masih menjadi cikal bakal transportasi umum di Jakarta menuju kota modern yang aman, tertib dan nyaman. Jakarta akan melanjutkan pembangunan MRT ke berbagai penjuru kota.

Permasalahan  transportasi Jakarta terbebani dengan masalah menahun yang tidak diantisipasi dengan kebijakan berani, misalnya usia kendaraan di Jakarta dibatasi. Jepang sebagai negara produsen kendaraan dan pemasok utama kendaraan untuk Indonesia  negaranya tidak macet, lalu lintasnya lancar dan kotanya tidak polusi. 

Jepang berhasil mengendalikan jumlah kedaraan dengan pembatasan tahun pembuatan. Kendaraan usia lima tahun harus diganti. Kebijakan ketat ini memberikan efek kepada masyarakat untuk  memilih transportasi umum.

Sangat berbeda dengan negara kita, sangat mudah untuk mendapat kendaraan dengan DP yang ringan, sebuah mobil atau sepeda motor sudah tiba di rumah. Meningkatnya jumlah kendaraan di Jakarta dan sekitarnya menjadi belenggu bagi ibu kota dan daerah penyangganya seperti Bekasi, Depok, Tangerang dan Bogor.

Karena kemacetan itu kebutuhan transportasi umum massal perlu dibangun secara masif dan cepat. Pemerintah pun memilih busway, MRT, LRT Jakarta dan LRT Jabotabek sebagai pilihan moda yang akan dikembangkan di masa mendatang untuk melengkapi KRL Jabotabek yang sudah duluan hadir.

MRT merupakan sebuah sistem transportasi transit cepat menggunakan rel listrik. MRT Jakarta sebagian relnya ada didalam tanah dari Bundaran HI hingga Patung Senayan, kemudian sebagian yang lain dibuat melayang dari Patung Senayan hingga di Lebak Bulus.

Selain MRT, pemerintah juga membangun Light Rail Transit (LRT), sebuah sistem angkutan cepat dengan kereta api ringan.  MRT dan LRT sama-sama transportasi  berbasis rel. MRT akan operasional secara komersial sejak 1 April 2019 dan LRT Jakarta akan menyusul kemudian. Meskipun LRT Jakarta lintasanya masih sangat pendek, hanya 5,8 km dari kelapa Gading ke Velodrom Rawamangun, perangkat menageman MRT cukup kuat, dipimpin seorang direktur.  Hal ini menandakan BUMD DKI Jakarta ini memiliki masa depan gemilang dalam merajut transportasi berbasis rel di ibu kota.

Pembangunan MRT dan LRT juga dibiyai negara melalui pinjaman dari  pemerintah Jepang,  dana  pemerintah pusat dan pemerintah DKI Jakarta. MRT dan LRT Jakarta keduanya dikelola  BUMD, perusahaan berbentuk perseroan  milik Pemda DKI.  MRT merupakan perusahaan baru yang didirikan pada 17 Juni 2008. Sedangkan LRT akan dioperasikan PT LRT, anak yang saat ini masih dibawah   PT Jakarta Propertindo.

Pembangunan MRT dan LRT sebagai transportasi massal modern di ibu kota ini  merupakan upaya pemerintah mengurangi pengguna kendaraan pribadi. Dengan transportasi yang modern, cepat dan nyaman diharapkan dapat mendorong pengguna kendaraan pribadi beralih menggunakan angkutan umum.

Kehadiran transportasi massal MRT, LRT Jakarta, LRT Jabodetabek akan menjadi magnet bagi masyarakat. Kesan modern akan menjadikan MRT menjadi pilihan utama transportasi ibu kota. Menjadi harapan besar sebagian warga ibu kota berpindah dari kendaraan pribadi dengan kendaraan umum.

Negera-negara maju berhasil mencegah dan mengatasi kemacetak dengan transportasi massal, Indonesia cepat atau lambat harus mengarah transportasi massal. Generasi mellenial diharapkan tidak tertarik memiliki dan menggunakan kendaraan pribadi. Harapannya mereka akan menjadi  pionir pengguna transportasi umum sebagi pilihan utama.

Untuk mendobrak kemacetan sulit bila tidak ada tekad kuat dari pemerintah untuk membenahi transportasi Jakarta pemerintah telah dan akan terus  membangun kereta api modern di perkotaan. Masalahnya, sekarang, ibu kota akan dipindahkan ke luar Jawa. Masih perlukan LRT Jakarta dikembangkan? Untuk apa dan untuk siapa. Dengan pindah ke luar Jawa, masihkah Jakarta menjadi magnet bagi warga untuk menjejali Jakarta? ***