Mohon tunggu...
Akhmad Sujadi
Akhmad Sujadi Mohon Tunggu... Enterpreneur

Entepreneur

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Pilihan

Pengabdian Sejati dari Pedal Gas Bus antar Kota

3 Mei 2019   07:18 Diperbarui: 3 Mei 2019   07:34 0 1 0 Mohon Tunggu...
Pengabdian Sejati dari Pedal Gas Bus antar Kota
instagram/@hndrpprdn

Pekerjaan menjadi sopir bus antar kota sungguh pengadian mulia. Ia memacu waktu dengan menginjak pedal gas,  mengatur rem, kencang,  melambat dan berhenti dalam sigap ketika para penumpangnya terlelap dalam tidur. Mereka berusaha menahan kantuk untuk keselamatan dan kenyamanan para penumpangnya sampai tujuan.

Pekerjaan pengemudi bus bukan pekerjaan remeh temeh,  bukan pula pekerjaan nista. Mereka pengabdi sejati masyarakat. Mereka bukan abdi negara, bukan PNS yang digaji tetap dengan APBN atau APBD setiap bulan, tapi semangat mereka melebihi Anda PNS atau ASN.

Mereka pekerja yang dibayar bila berhasil dengan selamat mengantar para penumpangnya dari termnial awal hingga terminal tujuan. Beda dengan ASN yang digaji dimuka sebelum kerja. Meskipun demikian, tidak semua orang menadapat kesempatan untuk menjadi ASN. Jadilah sopir bus, pahala Anda lebih besar dari mereka.

Berapa besar gaji sopir bus antar kota? Bervariasi, tergantung kemampuan dan tingkat sehat tidaknya perusahaan pengelolanya. Mereka para kru bus umumnya mendapat uang saku untuk beli solar, bayar tol dan berbagai kebutuhan di perjalanan. Uang saku mereka untuk solar, sopir dan kernet biasanya Rp1.3 juta untuk rute Purbalingga-Jakarta.

Bila perjalanan mereka lancar, solar bisa lebih hemat. Namun sebaliknya bila macet dijalanan, uang saku akan tergerogoti oleh biaya solar sebagai biaya pokok yang menyita paling besar. Dari  uang saku mereka sering berhitung dan melihat situasi jalan yang akan dilalui. 

Untuk kelancaran, kerap mereka komunikasi sesama pengemudi untuk saling berbagi informasi, sehingga diharapkan perjalanan bus yang ia kemudikan bisa lancar dan solarnya hemat.

Setiap naik bus antar kota saya memesan atau memilih duduk di kursi satu baris dari kursi paling depan. Tempat ini lebih nyaman dibanding persis di belakang sopir. Kelebihan duduk dibaris kedua pertama bisa menguping setiap pembicaraan cerita-cerita lucu, menggemaskan hingga informasi rahasia para pengemudi. Kedua duduk di baris kedua mata terhalang jok kursi di depannya, sehingga pandangan tidak langsung bila ada sorot lampu dari kendaraan berlawanan arah.

Rabu kemarin, 1 Mei 2019 pas libur May Day, saya menumpang bus swasta dari Bobotasri-Jakarta. Bus yang baru sebulan persis ini mengambil jalur Purbalingga-Bobotsari-Pemalang-Brexit-Jakarta ini terasa cocok buat perjalanan pergi kerja ke Jakarta saat ini. Berangkat sore pukul 17.25 bus telah tiba di Grogol sekitar pukul 02.30, bisa istirahat sebelum kerja.

Naik bus sungguh asyik, kami bisa mendapatkan cerita para awaknya. Diantara sekelumit cerita, mereka ada yang memiliki sedikit kisah manis, dapat membina keluarga dan anak-anaknya berhasil menyelesaikan kuliah. 

Namun tak sedikit pula hasil kerjanya terbuang habis di jalan, mereka semua saling berbagi ketika kami menggunakan jasa bus malam dari Bobotsari ke Jakarta hampir dua minggu sekali.

Mendengar cerita para sopir bus sungguh menjadi pengalaman berharga. Salah satunya sebut saja Nanang seorang pengemudi bus jurusan Bobotsari-Jakarta. Pria 46 tahun ini mengisahkan pertama kali berkenalan dengan pedal bus bermula menjadi kernet, tidak langsung pegang setir, namun mengikuti, mengamati rekanya Tarto yang berprofesi pengemudi.

Dalam perjalanan karier Nanang, ketika menjadi kernet ia tergolong rajin memeriksa kondisi bus. Sesampainya bus tiba di tujuan ia tidak langsung istirhat, tapi  mengecek bagi-bagian penting yang perlu diperiksa secara harian, seusai menjalani rute. Dari ketekunan ini, ia mulai berani menghidupkan mesin, lalu mencoba maju dan mundur jalan lurus.

Hari berikutnya ia berani menggerakkan setir, belok memasuki jalan raya. Semakin hari Nanang semakin tahu, semakin lincah dan semakin terampil. Nanang lalu mencoba ikut ujian SIM, mula-mula SIM A, namun dalam waktu tidak terlalu lama ia sudah mendapatkan SIM B Umum.

Berbekal SIM B Umum, Nanag sudah berani membawa bus menyusuri jalanan dari Bobotasari ke Jakarta, baik lewat Purwokerto-Bumiayu-Jakarta maupun via Pemalang yang jalanya penuh tanjakan dan menantang, namun ketika masuk jalan tol, perjalanan lewat utara jauh lebih cepat.

Kisah Nanang berbeda dengan Jaelani, yang sudah malang melintang membawa truk tronton, truk gandeng hingga sebagai pengemudi bus antar kota sebagai profesinya saat ini. Jaelani bukan tergolong muda lagi. Usianya kini sudah kepala 55, suatu ukuran tua dikalangan penegmudi. Meskipun usianya menjelang senja, pria bertinggi badan sekitar 160 cm ini masih lincah dan terampil membawa bus, bahkan dia tidak berkamata.  

Pria murah senyum ini mengisahkan menjadi sopir enak jaman dulu ketika masih mengantar gula merah dari Bobotasri ke Pamanukan, Jakarta atau kota-kota lain sekitar ibu kota.

Dulu, kisahnya, sebelum ada jalan tol, dia bisa lebih hemat waktu. Dari Bobotasri ke Jakarta Cuma paling lama 10 jam sudah termasuk waktu istirahat. Sekarang, sudah ada jalan tol, waktu tempuhnya lebih lama, bisa molor hingga 12 sd 14 jam untuk membawa truk.

Dulu, lanjutnya, belum banyak mobil. Kendaraan masih sedikit terlebih motor di jalan raya, masih bisa dihitung dengan jari, sehingga ketika ngebut di jalur pantura, ia merasakan kenyamanan. Tapi kini, bila lewat jalur pantura, terlebih siang hari, hati dagdigdug, karena motor sering memotong jalan yang kadang bisa berujung ajal sang pengendara motor.

Saat menjadi pengemudi truk, ketika pulangnya kosong seringkali di jalan mendapatkan muatan bailk. Ada pelanggan bawang merah. Ada sayuran dan aneka hasil bumi yang bisa menjadi penghasilan tambahan. Karenanya menjadi sopir saat itu, menjadi sumber penghasilan yagn tinggi. Ia pun tidak menyia-nyaiakan penghasilanya saat itu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2