Akhmad Sujadi
Akhmad Sujadi wiraswasta

Entepreneur

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Artikel Utama

"Trans Ciliwung", Transportasi Air untuk Jakarta Lebih Baik

10 Januari 2019   10:07 Diperbarui: 11 Januari 2019   06:23 1147 12 6
"Trans Ciliwung", Transportasi Air untuk Jakarta Lebih Baik
Bassin de la Villette di Paris (kompas.com/shutterstock)

Beberapa negara maju yang telah dikunjungi penulis di antaranya Jepang, Perancis dan Belanda memanfaatkan sungai, kanal di tengah-tengah kota sebagai sarana transportasi. Ketika berkunjung ke Jepang pada 2005, penulis menikmati kapal wisata sungai yang sangat mengasyikkan. Kapalnya bertingkat, tempatnya nyaman kapasitasnya sekitar 60 orang.

Transportasi air di Jepang terkoneksi dengan pusat keramaian dan dengan stasiun kereta bawah tanah, sehingga ketika penumpang turun penumpang cukup berjalan kaki, lalu  menuju stasiun subway. dengan integrasi antar moda  sangat memudahkan pengguna transportasi umum.

Demikian pula ketika berkunjung ke Perancis dan Belanda pada 2012, penulis hampir tidak pernah menggunakan kendaraan darat berbasis non rel kecuali untuk perjalanan  dari bandara sewaktu datang dan ketika akan kembali ke Jakarta menggunakan bus. Kegiatan sehari-hari untuk pelatihan hospitality menggunakan transportasi massal kereta api, baik subway, tram kota maupun kereta kecepatan tinggi, TGV.

Penulis merasakan transportasi kapal pesiar di Sungai dengan latar belakang Menara Eiffel di Perancis yang ditata rapih  dapat mendukung wisata dan pendapatan masyarakat. Pelancong di sepanjang sungai akan menyaksikan menara yang menjadi salah satu  keajaiban dunia ini dari atas kapal yang juga dilengkapi dek terbuka.

Selain Menara Effel, bangunan di kanan kiri sungai juga tertata rapi. Gedung bertingkat terpampang sepanjang mata memandang dari atas kapal pesiar yang kali itu berjalan pelan menjelang senja.

Jakarta sebagai ibu kota memiliki problem, kemacetan lalu lintas yang parah. Kemacetan ini dikarenakan jumlah kendaraan pribadi tak sebanding dengan jalan. Jumlah kedaraan terus bertambah sementara panjang jalan stagnan. Penambahan ruas jalan hanya di jalan tol saja.

Untuk mengatasi kemacetan pemerintah telah mengoperasikan TransJakarta atau Busway. Selain itu ada pula KRL dan dalam waktu dekat akan hadir MRT dan LRT Jakarta akan beroperasi di tahun 2019. Transportasi massal berbasis rel ini diharapkan dapat mengalihkan sebagian besar pengguna kendaraan pribadi ke transportasi massal.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah pusat dan daerah untuk mengatasi  problem lalu lintas. Upaya ganjil genap menjadi solusi jangka pendek sebagai pendorong pengguna kendaraan pribadi beralaih ke bus-bus Trans Jabodetabek.

Namun tetap saja pengguna mobil pribadi belum beralih ke bus. Keberadaan transportasi massal yang masih diluar harapan menjadi alasan pengguna moil pribadi tetap memakai kendaraan pribadi.

Transportasi Sungai Jabodetabek
DKI Jakarta memiliki beberapa sungai yang dapat dimanfaatkan untuk memobilisasi orang atau barang. Jakarta memiliki Sungai Ciliwung yang berhulu di Bogor melewati Depok, hingga masuk ke Jakarta. Sungai Ciliwung terkenal bila banjir. Ciliwung selama ini menyisakan nestapa.

Kondisi di sepanjang kanan kiri sungai dipergunakan untuk pemukiman dengan bangunan kumuh tidak teratur. Selain itu Ciliwung juga menjadi alternatif sebagian warga membuang sampah. Pada musim hujan Ciliwung membawa duka, banjir menggenangi sebagian wilayah ibu kota. Upaya menaklukan Ciliwung hingga saat ini belum juga berhasil.

pemukiman bantaran Ciliwung (Ft.Tribun)
pemukiman bantaran Ciliwung (Ft.Tribun)
Agar tidak membawa nestapa, kita harus menaklukkan Ciliwung agar menjadi sahabat yang membawa keberkahan dan kebahagiaan bagi warga sekitar dan seluruh warga Jabodetabek di sepanjang sungai dari Bogor-Depok hingga Jakarta.

Untuk menaklukan Ciliwung kita harus menata kawasan bantaran sungai yang kumuh menjadi bagus. Yang ruwet menjadi mudah dan yang kurang nyaman disulap lebih enak dipandang untuk dirasakan.

Selain Ciliwung Jakarta juga memiliki sungai Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Sungai buatan ini menjadi solusi mengatasi luapan Sungai Ciliwung bila debit air meninggi. Sayangnya Sungai Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur airnya tidak stabil, sehingga bila musim hujan air berlimpah namun di saat kemarau airnya hampir kering.

Untuk menciptakan transportasi air Sungai Ciliwung dan Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur perlu rekayasa buatan. Caranya dengan membuat petak-petak atau zona sungai. Dengan memetak sunagi  maka debit air pada suatu petak akan bertambah dan air dapat dikendalikan. Jadi Sungai Ciliwung bakal banyak bendungan yang ditata rapi.

KemenPUPR
KemenPUPR
Dengan  membuat zone, maka  debit air mencukupi untuk kebutuhan transportasi. Misalkan dalam satu zone jaraknya 5 km. Dalam jarak tersebut dibuat bendungan. Lalu disambung zone berikutnya  dibuat bendungan lagi.

Dengan memanfaatkan sungai sebagai sarana transportasi air, masyarakat tidak akan membuang sampah ke sungai. Spot-spot terntentu dibikin teman, tempat pemberhentian kapal. Penumpang bisa foto, ngopi bahkan makan-makan.

Pada masa Gubernur Sutiyoso di Sungai Banjir Kanal Barat di dekat Stasiun Karet pernah ditaruh perahu beberapa buah oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Maksudnya, Dishub akan membuat transportasi air dari Karet ke Dukuh Atas, sehingga dapat menghubungkan daerah Tanah Abang ke Sudirman lewat sungai.  Namun kondisi air yang tidak stabil menyebabkan transportasi air Jakarta gagal.

Kegagalan pada era lama perlu diperbaiki di era Anies Baswedan. Mantan Menteri Pendidikan ini bisa memulainya dengan menata kawasan pinggir sungai, membuat bendungan untuk menambah debit air sungai Banjir Kanal Barat dengan rekayasa mengalirkan air dari Ciliuwung untuk mempertahankan debit air agar tetap tinggi, sehingga kapal memenuhi draft atau batas minumun kapal bisa mengapung dan berlayar.

Transportasi sungai di DKI Jakarta bisa diwujudkan. Jakarta punya dana, punya ahli dan memiliki potensi. Transportasi air bisa menggerakkan pariwisata, ekonomi, hingga membangkitkan budaya tertib dan menjadi bersih ibu kota.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2