Akhmad Sujadi
Akhmad Sujadi wiraswasta

Entepreneur

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Transaksi Tunai Jual Beli Sapi Generasi Milenial

7 Maret 2018   19:25 Diperbarui: 8 Maret 2018   09:07 857 1 0
Transaksi Tunai Jual Beli Sapi Generasi Milenial
Bayar Tunai di pasar hewan (dok pribadi)

Penulis berkunjung ke Pasar Hewan Blora, Sokaraja dan Randu Dongkal,  Jawa Tengah. Selain melihat dan memilih bibit-bibit sapi untuk penggemukan, penulis juga mengalami dan mengamati cara jual beli dan pembayaran sapi yang masih tradisional. Penjual sapi menjual dengan menjajakan sapi-sapinya ditautkan di besi pancang yang disiapkan pengelola pasar, Pemda setempat. Para pembeli dapat memilih sapi sesuai selera. Yang juga harus disiapkan  pembeli adalah uang tunai dalam jumlah besar, kadang dibawa pakai tas, bahkan ada yang pakai karung goni.

Cara berjualan dan cara pembayaran sapi sistem tradisional dengan uang tunai berisiko. Cara menjual, sapi-sapi akan dibawa peternak atau juragan sapi dengan truk, terkadang sapi tidak laku dan harus pulang balik dari dan ke  pasar. Harga sapi juga tergolong  mahal minimal Rp 5 juta, bahkan ada harga sapi hingga Rp 23 juta, tergantung jenis, besar, kecil dan kondisi sapi.

Harga yang mahal hingga jutaan rupiah dan  mengharuskan pembeli membawa uang tunai  dalam jumlah banyak tentu beirisiko, bahkan dapat menimbulkan niat tindak kriminal. Kalau membeli 1 ekor harganya tidak seberapa, namun kalau membeli  hingga 10, 20 atau 30 ekor tentu bisa ratusan juta uang tunai harus disiapkan. Biasanya pembeli dalam jumlah besar untuk menyuplai perusahaan atau jagal di kota-kota besar, mereka kulakan atau mencari sapi di daerah yang harganya lebih murah.

Pasar hewan di beberapa daerah berbeda hari pasarannya. Pasar Sokaraja, Banyumas mengambil hari Sabtu sebagai hari pasar hewan. Pasar Hewan Randu Dongkal hari Minggu, dan Pasar Hewan Blora biasanya hari Kamis. Pada hari pasaran hewan, para peternak kecil dan para juragan sapi akan membawa sapi atau kerbau untuk dijual di pasar. Ratusan sapi pedet, sapi hamil, sapi beranak, sapi kurus, sapi gemuk semua ada ketika hari pasaran. Pembeli tinggal memilih sesuka hati dan sesuai kemampuan kantong.

Harga sapi di pasar hewan tradisional ditentukan oleh tawar menawar, negosiasi antar pemilik, para calo sapi atau tukang sodok menawarkan sapi penuh bujuk rayu. Para tukang sodok biasanya berkelompok lebih dari 2 orang. Memegang tali sapi saja, dia  akan mendapatkan bagian bila sapi yang dipercayakan oleh pemilik sapi kepada para tukang sodok ini laku. Profesi tukang sodok sudah mendarah daging dan menahun menjadi mata pencaharian di pasar hewan tradisional.

Para juragan sapi biasanya akan menjual sapi-sapinya tidak hanya di satu pasar hewan. Mereka datang dengan truk dengan para karyawannya. Dalam satu truk bisa berisi 4 sampai 8 ekor sapi, tergantung ukuran truk. Mereka akan berjualan di pasar-pasar hewan sesuai hari pasaran. Sapi yang belum terjual di hari Sabtu di Sokaraja, mungkin akan kita temui lagi di Pasar Hewan Randu Dongkal atau Pasar Hewan Ajibarang.

Generasi terus berganti, dan saat ini banyak generasi milenial, anak-anak muda di kampung yang secara turun temurun mewarisi orang tua menjadi tukang sodok atau perantara penjual sapi di pasar hewan. Meskipun generasi berganti di pasar hewan, namun sistem jual beli sapi di pasar hewan tradisional belum tersentuh aplikasi online. Bahkan perbankan juga belum masuk dan mereka masih mengandalkan transaksi tunai.

Kehadiran aplikasi online dan keterlibatan generasi milenial di pasar hewan akan dapat mengubah cara jual beli dan cara pembayaran tunai? Dalam situs jual beli online memang sudah ada model jual beli online, namun belum merambah pasar hewan tradisional. Untuk lebih praktis dan hemat perlu dilakukan perubahan cara jual beli dan cara bayarnya.

Ke depan untuk efisiensi, kemudahan transaksi perlu dilakukan perubahan cara jual beli sapi di pasar hewan. Bila sistem aplikasi merambah jual beli  sapi, maka sapi dapat ditawarkan dan dibeli dengan aplikasi. Keunggulan aplikasi salah satunya dapat dilihat kapan saja, di mana saja sepanjang ada internet, namun  baru dalam bentuk foto.

melihat peternaakan sapi (foto pribadi)
melihat peternaakan sapi (foto pribadi)

Sedangkan di pasar hewan pembeli dapat melihat sapi secara langsung sehingga lebih puas dan mendapatkan sapi sesuai keinginan. Kelemahanya sistem jual beli sapi tradisional masih menggunakan taksiran harga, bukan dengan bobot sapi hidup, sehingga para peternak pemula sering kena tipu, belinya menjadi mahal.

Sedangkan dengan aplikasi, akan lebih transparan, biasanya sapi dijual dengan memperhatikan  bobot sapi dengan cara ditimbang atau sesuai kesepakatan. Yang lebih praktis, sapi tidak perlu bolak balik diangkut dengan truk ke pasar. Sapi akan dipindahkan kalau sudah pasti laku, transaksi dan barang akan dikirim ke alamat. Model ini lebih praktis dan tidak membuat sapi menjadi stres yang mengakibatkan bobot sapi menjadi turun.

Kepraktisan jual beli online di satu sisi memudahkan, menyederhanakan berbagai kegiatan. Namun di sisi lain akan menghilangkan mata pencaharian ratusan bahkan mungkin ribuan orang. Para tukang sodok yang jumlahnya ratusan mungkin harus menjadi pengangguran,  tidak dapat lagi mengais rezeki dari membantu menawarkan sapi. Pasar hewan akan sepi dan akhirnya tutup karena sapi tidak perlu lagi dibawa ke pasar hewan, sapi akan tetap dan belum dipindahkan dari  kandang sebelum trasnsaksinya beres.  

Setiap hari pasaran hewan juga banyak penjual berbagai peralatan perawatan sapi seperti sabit, tali pengikat sapi, tudung (alat pelindung kepala dari bambu), jamu untuk sapi hingga warung makan akan gulung tikar dengan hadirnya aplikasi online bila telah menyentuh pasar hewan tradisional. Generasi milenial yang berkecimpung di peternakan dan jual beli sapi bersiaplah. Zaman akan terus berubah. Belum tentu makin baik, kesulitan lebih berpihak bila kita tidak bijak membaca zaman. ***