Mohon tunggu...
suherman agustinus
suherman agustinus Mohon Tunggu... Dum Spiro Spero

Menulis sama dengan merawat nalar. Dengan menulis nalar anda akan tetap bekerja maksimal.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Protes Boleh tapi Jangan Menghakimi Tuhan

29 Maret 2020   15:08 Diperbarui: 29 Maret 2020   15:05 55 7 0 Mohon Tunggu...

Di saat manusia mengalami banyak persoalan dalam hidup, pertanyaan-pertanyaan teodise seringkali dilontarkan. Misalnya kalau Tuhan Mahapenyembuh, mengapa tidak segera menyembuhkan orang-orang yang sedang dalam kondisi kritis? Kalau benar bahwa Tuhan itu Mahapenyayang dan pengasih mengapa membiarkan orang-orang menderita kelaparan. Atau pertanyaan yang paling relevan saat itu, kemanakah Tuhan ketika jutaan nyawa orang beriman dan tidak beriman di seluruh dunia hilang lantaran dibunuh oleh Covid-19? Jangan-jangan Tuhan yang diagung-agungkan setiap waktu oleh umat beragama telah mati sebagaimana yang diungkapkan oleh Nietzche.

Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak hanya ditanyakan oleh orang-orang yang tak mengakui adanya Tuhan tetapi juga oleh umat yang mengakui eksistensi Tuhan. Hemat saya, pertanyaan-pertanyaan seperti itu wajar-wajar saja. Apalagi ketika kita  berada pada situasi sulit, merasa bahwa doa-doa kita, teriakan-teriakan minta tolong seakan-akan sia-sia dan tak didengarkan Tuhan. Di saat seperti itu, tidak sedikit umat beragama yang kemudian berubah haluan untuk memperbanyak barisan para ateis. Mereka beranggapan bahwa Tuhan itu hanya ciptaan pikiran manusia. Sesungguhnya Tuhan itu tidak ada.

Saya sendiri pun pernah mengalami situasi tersulit bahkan pernah berada pada titik terendah dalam hidup. Namun saya menyadari bahwa kadang-kadang  Tuhan bekerja diluar pikiran manusia. Barangkali ada benarnya apa yang diungkapkan oleh para filsuf bahwa kalau kita dapat memikirkan Tuhan, berarti dia bukan Tuhan. Artinya rasio atau pikiran manusia tidak akan pernah bisa menjelaskan kemahakuasaan Tuhan. Dengan kata lain, Tuhan tak dapat dibahas tuntas oleh pikiran manusia yang terbatas. Ada banyak hal di dunia ini yang takkan bisa dijelas oleh akal budi, tapi hanya bisa dihampiri oleh iman. Misalnya mukjizat-mukjizat penyembuhan, keteraturan letak benda-benda di alam semesta, penampakan-penampakan Tuhan Yesus dan Bunda Maria, dan masih banyak peristiwa lainnya.

Peristiwa-peristiwa iman seperti yang itu setidaknya mematahkan beberapa pertanyaan yang saat sebutkan di awal tulisan ini.  Namun, pertanyaan-pertanyaan itu sangat mungkin diungkapkan kembali saat ini, dimana kita mengalami ketakutan, kegelisahan dan kecemasan yang hebat. Berangkat dari kecemasan yang sama  mendorong pemimpin umat Katolik di dunia, Paus Fransiskus untuk memberikan berkat " Urbi et Orbi" kepada (Kota Roma dan Dunia) pada Jumat, 27 Maret yang lalu.  Paus Fransiskus berharap bahwa dengan berkat tersebut, badai ini akan segera berakhir. Paus memohon kepada Tuhan agar bangun dari tidur  dan segera menolong umat manusia yang sedang berkesusahan di dunia yang sedang bergejolak.

Belajar dari Nabi Ayub

Dalam situasi gawat darurat sekarang ini, barangkali kita perlu bercermin pada pengalaman salah satu tokoh yang paling sabar dalam cerita Kitab Suci, yakni Nabi Ayub. Seperti yang dilukiskan dalam Kitab Suci bahwa Ayub adalah orang yang sangat kaya.  Dia memiliki banyak hewan peliharaan seperti kambing, unta dan kuda. Dia juga memiliki tanah yang banyak dan luas. Ayub juga memiliki banyak anak yang sangat takut akan Allah. Suatu ketika seluruh harta kekayaan dan bahkan anak-anaknya diambil Tuhan.  Namun, Ayub tetap tabah dan percaya pada Allah. Alhasil Allah pun memuji kesabaraan Ayub. "Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia yang demikian jujur dan saleh dan menjauhi kejahatan" (Ayub 1: 8).

Ayub adalah simbol kesabaran manusia. Pertanyaannya apakah kita bisa sesabar Ayub? Tentu saja tidak semua orang bisa. Hanya orang yang memiliki iman yang lebih  yang bisa seperti Ayub. Faktanya kita acapkali menggerutu, galau dan bahkan cepat menyerah tatkala  masalah  datang silih berganti dalam kehidupan kita. Bahkan banyak orang yang memaki-maki Tuhan. Seolah-solah Tuhan tidak pernah terlibat dalam kehidupannya. 

Padahal, kita tahu bahwa tak ada seorang pun di dunia ini luput dari masalah. Kapan dan dimana pun kita berada pasti selalu berhadapan dengan masalah dan penderitan. Bisa dikatakan bahwa penderitaan adalah bagian dari hakikat keberadaan manusia di planet bumi ini. Oleh karena itu, adalah tidak tepat kalau kita dengan cepat menghakimi dan menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada, hanya karena melihat banyak yang meninggal karena Covid-19.

VIDEO PILIHAN