Mohon tunggu...
Sugiyanto Hadi Prayitno
Sugiyanto Hadi Prayitno Mohon Tunggu... Lahir di Ampel, Boyolali, Jateng. Sarjana Publisistik UGM, lulus 1982. Pensiunan Pegawai TVRi tahun 2013.

Pensiunan PNS, penulis fiksi. Menulis untuk merawat ingatan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Bikin Terenyuh, Ternyata Mereka yang Minta Digunduli

27 Februari 2020   09:07 Diperbarui: 27 Februari 2020   13:09 601 3 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bikin Terenyuh, Ternyata Mereka yang Minta Digunduli
sumber gambar: https://regional.kompas.com/

Trenyuh (Jw), entah apa padanannya dalam Bahasa Indonesia. Hanya hati yang dapat merasakan, ada rasa haru, sedih, dan menyesalkan; menjadi satu. Hingga tanpa terasa mata ini digenangi air. Entah harus mnengungkapkannya dengan kata-kata apa, hanya "trenyuh".

Itulah yang saya rasakan pagi ini begitu membuka  berita di Kompas.com, dengan judul "3 Tersangka Susur Sungai Sempor Minta Digunduli  untuk Keamanan". Ketiga tersangka yaitu IYA, R, dan DDS. Mungkin pembaca pun akan merasakan seperti apa yang saya rasakan. Termasuk ketika sebelumnya ada perasaan geram dan benci.

Terlebih ketika membaca pemberitaan sebelumnya, yang menyebutkan bahwa para Pembina sudah diperingatkan warga agar mengurungkan rencana melakukan kegiatan susur sungai karena di hulu hujan deras dan kemungkinan ada banjir, tetapi justru dijawab dengan nada tidak mengindahkan. Judul beritanya, "Sempat Diperingatkan Warga Tak Susur Sungai, Pembina Jawab "Kalau Mati di Tangan Tuhan"

Sebelum lanjut perlu penulis kemukakan, tulisan ini terkait dengan peristiwa susur Sungai Sempor oleh siswa-siswi SMP Negeri I Turi, Sleman, Yogyakarta, yang berakibat 10 siswa tewas dan belasan siswa lainnya luka-luka.

Dengan mengetahui hal-hal di atas mungkin pembaca pun punya tanggapan yang sama dengan saya. Tunggu dulu sampai pemberitaan cukup lengkap dan jelas, baru memberi tanggapan. 

Sehingga tidak seperti kasus nyata yang sering terjadi: sudah terlanjur di media sosial memberi ucapan "inna lillahi wa inna ilaihi ro'jiun" atas kematian seseorang, padahal ternyata orang yang dimaksud masih segar bugar. Ternyata yang meninggal orang lain (ada kesamaan nama, salah informasi, tidak melakukan cek dan ricek, salah pengertian, dan berbagai salah yang lain).

*

Mengapa sampai ada perubahan dari geram dan benci menjadi trenyuh? Sekali lagi ini ihwal perasaan dan hati, mengenai sesuatu yang terdalam dalam diri kita karena pemberitaan yang kita terima.

Betapa orang tidak marah ketika si pemberi ide dan sekaligus Pembina Pramuka satu kegiatan yang melibatkan 250 siswa/siswi untuk melakukan susur sungai justru "punya urusan lain", dan tidak berada di tempat saat peristiwa terjadi. Akibatnya ia tidak dapat mengambil keputusan cepat yang mestinya dilakukan pada detik-detik terakhir ketika air Sungai Sempor meninggi dan menjadi semakin deras menjadi banjir tak terkendali.

Tidak adanya tanggungjawab itu yang menjadikan bukan hanya para orang tua yang putera/puteri mereka menjadi korban (luka-luka, atau tewas) menyesali perbuatan Pak Pembina. Menyesali, mungkin pilihan kata yang sangat lunak. Sebab  bisa saja para orang tua sebenarnya menyumpahi, melontarkan sumpah-serapah, mengancam, mengutuk, mengamuk, bahkan hendak mencederai si biang kerok.

Adakah yang dapat menggantikan semua bentuk kemarahan itu selain dengan pasrah, minta maaf, mengakui kesalahan, dan lalu dengan ikhlas hendak mengikuti hukum yang berlaku. Dan bahkan yang membuat trenyuh: ketiga tersangka tidak mau dibeda-bedakan dengan tahanan yang lain, yaitu diperlakukan tanpa alas kaki, mengenakan kemeja berwarna oranye, dan kepala digunduli. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x