Sugiyanto Hadi Prayitno
Sugiyanto Hadi Prayitno Pensiunan pns

Pensiunan PNS, penulis fiksi. Menulis untuk merawat ingatan.

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Pilihan

Idulfitri Jumat Besok, Sidang Isbat, dan Khotbah

14 Juni 2018   23:35 Diperbarui: 15 Juni 2018   00:04 1235 1 0
Idulfitri Jumat Besok, Sidang Isbat, dan Khotbah
pemantauan hilal tanggal 1 Syawal (nasional.kompas.com)

Semalam merupakan malam ke tiga puluh, malam genap -malam terakhir Ramadan- dan keadaan itu seperti banyak disebut para Penceramah agama, cari pada sepuluh hari terakhir terlebih pada malam-malam ganjil Lailatul Qadar; dan itu sebabnya meski menulis 'Tebar Hikmah Ramadan' dan cari gambar pendukung  tidak gampang hingga mempostingnya terasa mirip suasana arus mudik yang 'padat merayap susul-menyusul' (jangan dipendekkan) akhir berhasil juga: lima belas menit sebelum hari berganti.

Lumayan, satu kalimat 67 kata sekaligus. Apakah itu menunjukkan satu bentuk kelelahan menulis, atau justru sebaliknya masih tingginya stamina untuk meneruskan 'satu hari satu tulisan'? Rasanya dua-duanya tidak. Hanya karena ada tantangan saja sesekali merasa tertantang untuk ikutan. 

Selebihnya akan kembali pada kebiasaan lama, menulis itu soal minat - kesempatan dan kesenangan melakukannya. Bila tidak ada salah satu jangan berharap bakal terwujud sebuah tulisan seberapapun buruknya. Nah.

Petang tadi setelah memimpin sidang isbat, Menteri Agama mengumumkan bahwa tanggal 1 Syawal 1439 Hijriah jatuh pada hari Jumat besok. Itu berarti besok pagi, sekitar pukul 06.30 WIB akan dilakukan shalat sunah Idul Fitri berjamaah di lapangan terbuka di daerah kita masing-masing.

*

Ahya, kali ini temanya 'Aktivitas Idul Fitri.  Tetapi karena aktivitas itu baru akan berlangsung hari Jumat besok, maka bagus judulnya ditambah satu kata 'jelang, sehari sebelum, atau rencanaku', atau kata lain semacam itu.

Dan saya harus segera menuliskannya cepat-cepat agar masih punya waktu bertakbir-ria di masjid sebelum didera ngantuk untuk segera tidur untuk mempersiapkan shalat subuh berjamaah dan dilanjutkan shala Idul Fitri di tempat terbuka  yang telah ditentukan pengurus masjid Baabussalam.

*

Pergi pagi-pagi ke pasar selalu menyenangkan., tapi kali ini tidak ke pasar, tapi cukup ke warung sayur. Sayur-mayur dan sembako serta dagangan lain lengkap,  harganya justru lebih murah dibandingkan dengan pasar desa. Kemarin, harga sekilo ayam pedaging 40 ribu, tapi di pasar 46 ribu. Daging sapi 120 ribu per kilo. Cabe mencapai 100 ribu perkilo. Naik, dan para ibu maklum. Dulu sebelum puasa pun harga-harga sudah merambat naik hingga puncaknya jelang Idul Fitri.

Itu sebabnya tadi sekitar pukul 06.00 WIB setelah sekitar satu jam terlelap di sofa sepulang dari shalat subuh dan mendengarkan tausyiah pak Ustadz Ferdi, saya mengantar isteri ke warung Ceppy di ujung kompleks perumahan untuk berbelanja.

Warung itu tak ubahnya pasar seperti pasar, tempatnya sempit tapi pembelinya berjubel. Isteri si Ceppy merupakan anak campuran orang Batak dengan orang Tasikmalaya, kedua etnis itu ulet dalam berdagang, terbukti sangat populer sebutan warung Batak dam tukang kredit orang Tasik.

Dan pagi itu para ibu sudah berjubel, selepas subuh bahkan. Namun daging ayam yang akankami beli masih ada.

Sesampai di rumah isteri segera memasak opor ayam, rendang dading sapi, dan sekliagus membuat ketupat. Siang hari diteruskan dengan menggoreng kacang bawang, emping, dan entah apa lagi.

Saya kebagian bersih-besih rumah ala kadarnya. Sebagian waktu untuk meneruskan tidur, sebab semalam tidur  sekitar dua jam saja.

*

Sudah saya sebutkan pada tulisan terdahulu, tahun ini saya tidak mudik ke Wetan. Ke kampung ibu-bapak dan kakek-nenek. Saya dan anak bungsu justru mau pergi ke kampung halaman isteri pertama dan sudah enam tahun meninggal dunia di seberang pulau, sekaligus menengok makamnya dan makam mertua perempuan.

Ke Wetan biasanya kami berkumpul di rumah salah satu adik. Sebab rumah keluarga besar telah tergusur, dan dikembalikan kepada pihak kraton sebagai pemiliknya. Pada hari kedua atau ke tiga biasanya kami berangkat ke dusun perbatasan Jateng-Jatim, ke kampung halaman dan makam kakek-nenek di sana.

Dengan demikian satu lagi fenomena Lebaran, yaitu mudik atau pulang kampung,  menengok bapak-ibu dan kakek-nenek meski tinggal batu nisan. Itu berarti pula menengok kampung halaman kelak bila akhirnya saya dan keluarga saya telah menghabiskan jatah umur di dunia ini. Lebaran berarti pula menengok tempat kembali, secara fisik disebut makam, sedangkan dalam agama disebut alam kubur (alam lain yang et\ntah dimana keberadaannya).

*

Di tengah keramaian orang-orang bertakbir pada sejumlah masjid yang mengelelilingi kompleks perumahan saya di kawasan Selatan kota pegunungan ini, saya membaca beberapa berita terkait mudik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2