Mohon tunggu...
Dion Arisa
Dion Arisa Mohon Tunggu... Indonesia

Saya suka rebahan

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Beradaptasi adalah Salah Satu Jalan dalam Menghadapi Virus Corona

27 September 2020   09:01 Diperbarui: 27 September 2020   09:08 531 6 0 Mohon Tunggu...

Virus Corona memperlihatkan eksistensinya pada awal tahun 2020. Virus ini tidak menampakkan diri secara kasat mata, tetapi dia ada dan berbahaya. Banyak fenomena dan perubahan sosial yang lahir karena virus ini. Misalnya, orang-orang diharuskan untuk melakukan protokol kesehatan, yaitu menggunakan hand sanitizer, memakai masker, dan melakukan physical distancing. 

Bila ada individu yang tidak melakukan protokol tersebut, maka ada hukuman dari aparat atau sanksi sosial dari masyarakat. Dalam Sosiologi, fenomena tersebut disebut fakta sosial karena ada kekuatan eksternal yang memaksa individu dalam melakukan sesuatu diluar kesadarannya.

Sudah ada sekitar tujuh bulan sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melakukan physical distancing. Banyak orang yang terkena dampak dari kebijakan tersebut, dampaknya mempengaruhi sebagian besar bidang, seperti perekonomian, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. 

Dunia perkuliahan saya pun ikut terkena dampaknya. Saya dan teman-teman perkuliahan dituntut untuk melakukan pembelajaran daring, secara sederhananya, yaitu kuliah melalui internet. Menurut saya, ini merupakan suatu perubahan sosial yang cepat dan tidak terencana/dikehendaki yang mengakibatkan culture shock; kaget karena belum siap menerima perubahan metode pembelajaran dan culture lag; ketertinggalan budaya teknologi. Namun, kami sekarang sudah terbiasa dengan dinamika kehidupan kuliah yang baru ini karena sudah bisa beradaptasi.

Dalam kehidupan, terkadang, manusia dipaksa untuk menyesuaikan dirinya dengan situasi dan kondisi tertentu. Memang pada awalnya kita menganggap hal itu sebuah masalah. Namun pada akhirnya, kita berhasil beradaptasi untuk melewati rintangan tersebut. 

Menurut Wikipedia, adaptasi adalah sebuah cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup. Berdasarkan pandangan saya sendiri, adaptasi merupakan salah satu hakikat manusia yang dengannya kita semua tidak akan dilenyapkan oleh perubahan-perubahan zaman (seleksi alam). Kita membutuhkan adaptasi sebagai cara untuk menghadapi pandemi ini.

Selama pandemi, saya hampir setiap hari melakukan perenungan terhadap kehidupan. Ada beberapa aliran/paham kehidupan yang saya telusuri, tetapi sepertinya yang paling tepat untuk saya adalah Absurdisme dan nihilisme. A

bsurdisme adalah suatu pandangan yang didasarkan pada hidup ini hanya kesia-siaan saja dan kita akan terus mengalami kegagalan dalam mencapai makna/arti kehidupan yang sesungguhnya, sedangkan nihilisme merupakan pandangan hidup bahwa hidup ini tidak bermakna (hidup ini tidak bermakna, tetapi saya memaknai kehidupan ini dengan hidup ini memang tidak mempunyai makna). Dalam menghancurkan sebuah motivasi hidup, saya menggunakan pisau-pisau tersebut untuk menusuk jantung optimisme. 

Dalam kaitannya dengan konteks adaptasi, saya menyamakan adaptasi dengan motivasi hidup. Saya bertanya pada diri saya sendiri "mengapa kita harus mempunyai motivasi hidup? Mengapa kita harus beradaptasi pada kehidupan yang tidak bermakna ini? mengapa kita hidup? Toh, pada akhirnya kita juga akan mati, hilang, dan dilupakan juga dalam sejarah". 

Menurut saya, tiga pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang sukar untuk dijawab dan tidak ada jawaban yang mutlak absolut untuk menjawabnya. Saya juga tersadar bahwa pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan itu absurd.   

Jadi, apakah adaptasi (optimis) adalah sebuah jalan dalam menghadapi Corona? Silahkan dijawab sendiri karena pendapat setiap orang itu berbeda-beda tergantung dengan perspektif apa yang akan dia gunakan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x