Mohon tunggu...
Edukasi Pilihan

Istana Prawoto, Mengupas Jejak Sejarah Kesultanan Demak dan Nusantara

18 Januari 2019   21:04 Diperbarui: 18 Januari 2019   21:36 448 1 0 Mohon Tunggu...

Beijing (16/1/19), Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok kembali mengadakan  Buku berjudul Istana Prawoto "Jejak Pusat Kesultanan Demak" karya Ali Romdhoni, Dosen Universitas Wahid Hasyim . Kegiatan webinar ini menghadirkan pemateri yaitu Ali Romdhoni selaku penulis merangkap peneliti serta Bapak Joko Tri Haryanto dari Peneliti Balai Litbang Agama Semarang.  

Pada sesi pertama, Bapak Ali Romdhoni MA selaku penulis buku Istana Prawoto ini menjabarkan "Prawoto diduga sebagai didirikannya bangunan tempat kerajaan. Daerah dengan kumpulan pegunungan dengan susunan gunung-gunung kecil, yaitu gunung kendeng. Di Prawoto juga menunjukkan identitas tempat dan tokoh tersohor pada kerajaan Demak. " Di daerah sejauh 3 KM dari Prawoto terdapat daerah Glagah yang mengingatkan pada Glagah Wangi" Papar Penulis.  

Melalui buku yang kaya data tersebut, Beliau menyuguhkan jejak pusat kesultanan di Demak yang termuat pada Serat dan Babad. Uraian buku menyebutkan Prawoto ialah pusat keraton. Disisi lain peneliti juga menemukan jejak purbakala, jejak strategis dan historis. Kisah   pendahulu mencatat di kawasan Prawoto pernah berdiri kerajaan.

Penulis yang juga berprofesi sebagai Dosen Unwahas memulai penelitian jejak dari gerbang utama di Istana Prawoto dan melakukan napak tilas. " Dari titik ini kita bisa menatap puncak Gunung Muria" Sambungnya. 

Satu fakta yang mengejutkan yakni Peneliti menemukan keunikan bahwa Gunung Muria, Merapi dan Lawu membentuk piramida. Hal unik lain ialah Posisi Prawoto, Kudus, Bajakan hingga Pajang terlihat menyatu. Hal ini mengingatkan kepada kosmologi pada masa keraton modern. Peneliti berasumsi bila Prawoto merupakan kerajaan di selat Muria yang maju dalam ekonomi dan politik pada masa kerajaan Demak

Di Prawoto ada 19 makam yang memiliki hubungan simetris dan memiliki pendopo Kawedanan sebagai saksi bisu berakhirnya perang Diponegoro. Dalam tesisnya, tempat bernama Kutuk Semarangan, hingga saat ini belum banyak literatur mengkaji lebih dalam tentang arti semarangan ini. 

Satu fakta menarik lain, peneliti memnemukan jejak batu bernanam Lingga dan Yoni dari reruntuhan batu jejak Kerajaan Demak. Peneliti kemiripan bentuk Yoni di Prawoto dan Tuban  . Dan mengejutkannya, artefak Yoni tersebut sangat mirip dengan benda di depan masji Niu Jie  Beijing.

Sedangkan pemateri kedua Bapak Joko Tri Haryanto kKajian ini bukan hanya unik tapi dapat menambah khazanah kerajaan di Indonesia terutama kerajaan Demak yang berkaitan dengan Prawoto. " Penulisan sejarah ini sangat penting. Kita menjadi tahu apa yg dilakukan oleh para pendahulu kita" Jelasnya

Menurut sejarah Prawoto memang tidak begitu dikenal namun hanya menjadi pelengkap dari kerajaan Demak. Namun Prawoto tidak bisa disingkirkan dan keberadaan Prawoto itu sendiri sama pentingnya dengan kerajaan Demak. 

Beliau mengatakan "Penelitian ini mungkin akan menimbulkan kontroversi karena berbenturan dengan pandangan kesejarahan umum tentang Kerajaan Demak." Selanjutnya beliau menambahkan "karena penelitian ini berawal dari hipotesis keingintahuan, kemudian pencarian dan eksplanatori untuk menafsirkan relativitas data. Kalau sudah ditemukan maka kita perlu melakukan rekonstruksi untuk dijadikan kisah yang tertulis, itulah yg dinamakan sejarah" , imbuhnya.

Peneliti Balai Litbang Agama Semarang ini juga menjelaskan bagaimana sistem sosial saat itu tidak hanya fokus pada keberadaan Prawoto yang penting. Contoh lainnya yaitu menjelaskan bagaimana Hubungan kesultanan Demak dengan kesultanan lain contohnya Prawoto, Gresik, Cirebon yang dikelompokan sebagai kerajaan kesatuan atau federal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x