Stephen G. Walangare
Stephen G. Walangare

Kunang-kunang kebenaran di langit malam.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Yang Tidak Berubah Adalah Perubahan Itu Sendiri

3 Februari 2018   21:46 Diperbarui: 19 Mei 2018   02:37 672 1 0
Yang Tidak Berubah Adalah Perubahan Itu Sendiri
5911811-change-wallpaper-5aff2e705e1373375033f355.jpg

Berjuang mempertahankan iman yang ortodoks di dalam dunia kontemporer bukanlah perkara yang mudah. Ortodoks di sini bukan mewakili sebuah aliran di dalam kekristenan. Karena kalau kita belajar di dalam kekristenan maka kita tahu ada gereja timur yang mayoritas disebut sebagai gereja ortodoks dan ada gereja barat yang pada akhirnya akan menjadi Gereja Roma Katolik, Gereja Protestan, Pentakosta, Karismatik, dan sebagainya. Gereja timur itu misalnya gereja ortodoks di Rusia, gereja ortodoks di India, gereja ortodoks di Syria, dan sebagainya. 

Pemakaian kata ortodoks di sini bukan merujuk pada gereja-gereja yang ada atau masuk pada kategori di dalam gereja timur. Ortodoks di sini berarti berbicara tentang iman yang benar, berbicara tentang iman yang sudah lama sekali ada (ancient faith),ini tentang bagaimana iman yang sudah lama ada, yang kuno ini, bisa dipresentasikan dengan cara yang relevan, untuk dunia yang kontemporer, dan itu merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi kita. 

Sebetulnya jauh di lubuk hati kita, dan jauh juga di dalam benak kita, kita sebetulnya setuju, dan hal itu memang tak terelakkan, bahwa dunia ini selalu mengalami perubahan, karena memang yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. 

Kita juga setuju bahwa untuk mempresentasikan sesuatu dengan bijaksana, kita perlu melihat keadaan. Tapi, hal yang sangat mengherankan adalah, gereja-gereja tertentu kadangkala terlambat untuk menyadari hal ini. Ada beberapa gereja yang cenderung, entah disadari atau tidak, merasa bangga dengan tradisinya, menganggap bahwa mereka, termasuk tradisinya, adalah tradisi yang tidak lekang oleh zaman. Tapi mereka lupa, mereka bukan hanya tidak lekang oleh zaman, tetapi juga ketinggalan zaman.

Meskipun demikian, ada beberapa orang yang begitu membanggakan gerejanya, karena dalam segala hal gereja itu katanya seperti gereja mula-mula. Mereka ingin meniru semua yang dilakukan gereja mula-mula. Menarik sekali ucapannya. Seolah-olah gereja mula-mula adalah gereja yang sempurna. Padahal kalau kita melihat gereja mula mula, disitu ada ketidaktulusan Ananias dan Safira (Kis 5:1-11), yang kelihatannya baik dan saleh, namun memberikan persembahan karena ketidaktulusan. 

Beberapa orang mengatakan jemaat mula-mula juga tidak mau keluar menjadi saksi Kristus di Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Mereka hanya menikmati pertumbuhan di Yerusalem sehingga Tuhan perlu untuk memberikan penderitaan, supaya mereka tersebar dan menggenapi rencana Tuhan. Bukan hanya itu, ternyata para pemimpinnya juga bertengkar dengan hebat. Paulus dan Barnabas bertengkar dengan hebat sehingga mereka harus berpisah dalam pelayanan (Kis 15:35-41). Siapa bilang gereja mula-mula adalah gereja yang sempurna? Pasti salah kalau kita ingin menjadi seperti gereja mula-mula dalam segala sesuatu.

Gereja mula-mula bukanlah gereja yang sempurna, tapi kasih karunia Tuhanlah yang sempurna untuk gereja mula-mula. Makanya kalau ada orang yang ingin gerejanya atau komunitasnya menjadi seperti gereja mula-mula dalam segala sesuatu, kita perlu memastikan kepada mereka, "Apakah di gerejamu ada alat pengeras suara? Apakah ada listrik? Apakah ibadahnya menggunakan proyektor? Apakah ada alat musik elektronik? 

Apakah pendetanya dan jemaatnya menggunakan mobil kalau datang ke gereja? Mari kita berpikir. Kita ini kadangkala terlalu bangga dengan hal-hal yang kuno di dalam diri kita dan sering kali kita lupa membuka diri pada situasi yang baru sehingga kita kehilangan relevansi kita. Padahal, injil pasti selalu relevan sepanjang masa, tapi sayangnya cara kita memberitakan injil seringkali ketinggalan zaman. Saat ini mari kita belajar dari satu teks Alkitab yaitu Kisah Para Rasul 16:1-5. Dari sini kita akan belajar bagaimana kita membawa iman yang kuno, yang ortodoks itu, yang benar itu, ke dalam dunia yang kontemporer.

LAI:TB memisahkan ayat 1-3 dari ayat 4-5, tapi menurut beberapa penafsir, ini sebaiknya digabungkan. Tapi kita tidak akan membahas itu karena artikel ini tidak ditulis untuk itu. Seharusnya kita membaca pasal 16 juga disertai dengan membaca pasal 15, karena kalau kita tidak membaca dari kacamata pasal 15, kita tidak mungkin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di pasal 16. Misalnya ketika kita membaca ayat ke-4, apakah kita tahu ada keputusan-keputusan apa yang telah diambil? Mengapa keputusan itu diambil? 

Pasal 16 tidak memberi tahu, tapi pasal 15 memberi tahu latar belakangnya. Pasal 15 membahas tentang sebuah persoalan yang muncul karena ada perbedaan budaya. Jadi pada waktu injil mulai menyebar di luar lingkungan Yahudi, setelah sebelumnya menyebar di kalangan orang-orang Yahudi di Yerusalem, lalu menyebar ke Yudea, ke Samaria, lalu ketika mulai di pasal 11 menyebar ke Antiokhia, ke daerah diaspora lainnya. Mulai pasal 13 Paulus dan Barnabas diutus untuk keliling ke semua daerah, maka injil bukan hanya menjadi milik orang Yahudi, tetapi juga menjadi milik orang-orang non Yahudi.

Ketika injil dikemas dalam sebuah situasi yang baru, pasti selalu tidak mudah, ada perbedaan bahasa di sana, paling tidak orang-orang Yahudi sudah bisa bahasa Aramik dan Yunani, tapi kalau orang-orang non Yahudi hanya bisa bahasa Yunani. Kalau hanya beda bahasa mungkin tidak terlalu masalah, karena mereka sama-sama bisa bahasa Yunani. 

Tapi yang paling parah adalah, kita kadangkala membawa suku kita, yang berarti ada muatan-muatan kultural di dalam diri kita, sehingga pada waktu kita berinteraksi dengan orang lain, kita seringkali tanpa sadar mengalami gesekan secara kultural. Tanpa bermaksud mendiskreditkan suku manapun, kalau misalnya ada seorang Batak, kemudian pacaran dengan seorang Jawa, maka itu tidak akan membuat prosesnya berjalan mudah. Karena dua suku ini secara umum, sekali lagi secara umum, berbeda. 

Orang Batak itu suka terus terang, jadi kalau ada masalah dia langsung omong, to the point, kalau to the point  tetap tidak bisa, dia tunjuk poin, supaya semuanya menjadi jelas di awal. Tapi orang Jawa itu cenderung untuk menghindari konflik, sebisa mungkin dia akan menerima, sebisa mungkin mereka menempatkan diri sebagai korban, tapi kemudian orang Jawa akan mengelus dada terus. Makanya kalau ketika kita melihat ada orang Batak, tapi halus, kita sebutnya itu bakso, Batak Solo. Karena kita sebetulnya sudah punya padangan, kalau orang Batak itu bicaranya kasar-kasar, keras-keras, lalu ketika melihat orang Batak yang halus, langsung kita bilang pasti kamu bukan Batak, kamu bakso. 

Karena kita punya pikiran bahwa orang Solo adalah orang yang lembut-lembut, walau kadang belum tentu benar. Ada seorang yang ketika sedang liburan di Solo, kemudian ia terkejut karena ada sekumpulan orang-orang yang bicaranya keras-keras, ternyata itu adalah orang Batak yang sedang liburan ke Solo. Pada saat perbedaan budaya ini kemudian bersentuhan, maka biasanya menimbulkan masalah, termasuk masalah teologi, dan itu yang terjadi di pasal 15. 

Karena ada beberapa orang Yahudi yang menuntut sesuatu di 15:1. Jadi ada masalah budaya yang bercampur dengan teologi ternyata. Karena orang Yahudi sudah terbiasa sunat dan orang non Yahudi tidak terbiasa sunat, sehingga kita melihat di sini, ada sebuah persoalan yang muncul pada saat injil berada dalam situasi yang baru.

Kita semua juga harus sadar bahwa kita berada dalam situasi yang baru. Dunia terus mengalami perubahan dan berarti kita juga berada dalam sebuah perubahan. Kalau dahulu misalnya, pertanyaan orang adalah "what is truth?" seperti pertanyaannya Pontius Pilatus kepada Yesus di dalam Yohanes 18:38a. Tetapi sekarang pertanyaan orang bukan lagi "what is truth", pertanyaan orang adalah "is there any truth?" "Apa benar ada kebenaran?"

 Kalau dulu dunia kita adalah dunia yang disebut immoral world  (dunia yang tidak bermoral), maka sekarang dunia kita getting worst, bukan cuma dunia kita immoral, tetapi dunia kita adalah dunia yang non moral. Apa artinya? Kalau dulu kita bisa mengatakan kepada orang lain, "Perbuatanmu itu salah, tidak sesuai dengan moral". Kalau sekarang kita mau mengatakan hal yang sama kepada orang lain, orang akan tanya, "Untuk apa kita hidup sesuai dengan moral?" Jelas sekali bahwa dunia kita adalah dunia yang non moral, yang anti terhadap moral. Banyak orang menganggap morality is a personal choice, personal preference  untuk kita.

Dunia kita adalah dunia yang serba relatif dan kadang sulit sekali menemukan guilt  (rasa bersalah) dalam masing-masing orang. Karena orang merasa begitu moralitas diambil dari masyarakat, maka budaya rasa bersalah sudah tidak diperlukan lagi. Karena mereka menganggap everything that we do, is up to us. As long as you feel good, do it. That's fine. Sehingga pada waktu kita mau memberitakan injil, ketika kita mau mengemas teologi kita, kita harus memahami prosedurnya, kita harus tau caranya untuk mengemas injil dalam dunia yang kontemporer, dan berdasarkan Kis 16:1-5 kita akan belajar beberapa poin yang penting.

Pertama, kita harus melakukan yang namanya dekontekstualisasi esensi. Kontekstualisasi itu bicara tentang bagaimana kita bicara sesuai konteks. Dekontekstualisasi itu berarti kebalikannya. Kita menyadari bahwa teologi itu bersifat kultural juga. Memang ada muatan-muatan yang bersifat kekal dan bersifat universal, itu yang dapat kita katakan bersifat esensi. Tetapi di dalam teologi juga ada muatan-muatan yang bersifat lokal, bersifat temporal, bersifat kultural. Sehingga pada waktu kita mau mengemas teologi dalam dunia yang kontemporer, kita perlu mengadakan dekontekstualisasi esensi, jangan sampai sesuatu yang nilainya tidak universal, kita anggap nilainya universal, jangan sampai sesuatu yang universal malah kita anggap kultural dan kita buang. Mari ambil satu contoh kesulitan di sini.

Pada waktu injil masuk ke tanah Jawa, yang membawa injil itu adalah orang-orang dari luar negeri, dari budaya barat, dan itu ternyata menimbulkan masalah. Pernah dicatat pada waktu injil masuk ke tanah jawa, ada dua kelompok misionaris yang melakukan kesalahan, dua-duanya sama-sama salah. Kesalahan pertama adalah anggapan bahwa ketika orang sudah bertobat menjadi Kristen, maka harus ikut dansa, tidak boleh jaipongan lagi, tidak boleh pakai sarung lagi, bajunya itu harus memakai jas. 

Mengapa? Karena para misionaris ini ternyata memikirkan bahwa budaya Kristen identik dengan budaya barat. Tapi di periode berikutnya, ada kelompok misionaris yang memang tidak mempermasalahkan pakaian maupun tarian, tetapi mereka telah mengambil langkah yang terlalu jauh dengan tidak menganggap penting perjamuan kudus. Mereka ini menganggap perjamuan kudus itu budaya barat. Ini juga keliru, karena perjamuan kudus bukan budaya barat, tapi ajaran dalam kekristenan.

Sebelum kita mempresentasikan teologi yang benar, yang kuno, ke dalam dunia kontemporer, kita perlu melakukan dekontekstualisasi esensi. Segala sesuatu yang bernilai kultural, lokal, kita tidak boleh paksakan itu dalam dunia modern, sebab pasti injil tidak akan terlihat relevan bagi mereka. Cara berpakaian itu adalah hal yang sifatnya kultural. Beberapa orang memaksakan kalau pendeta yang mau serius berkhotbah, maka ia akan selalu berkhotbah dengan memakai jas dan kemeja berdasi. Lalu bagaimana dengan gereja-gereja di Amerika yang mayoritas jemaatnya juga memakai jas dan kemeja berdasi kalau beribadah? 

Bagaimana membedakan pendeta dengan yang bukan pendeta? Apakah pendeta di sana perlu pakai jas rangkap dua? Atau perlu pakai dasi di depan dan di belakang supaya orang tahu bahwa dia adalah pendeta? Sekali lagi, cara kita berpakaian itu kultural. Kalau kita berada dalam sebuah gereja yang suka dengan gaya formal dan mereka nyaman dengan gaya seperti itu, tentu kita sebaiknya ikuti sesuai dengan keadaan di situ.

Kalau di poin pertama tadi, hanya memerintahkan kita untuk tidak membuang bahwa hal-hal yang bersifat universal, maka yang kedua lebih dari itu, yang kedua kita harus mengadakan kontekstualisasi ekspresi. Pada waktu orang-orang Yahudi bersikeras dalam hal sunat di pasal 15, siapa yang paling keras menentang itu? Paulus. Tapi Paulus di sini (Kis 16:3) justru menyuruh Timotius untuk bersunat. Paulus bukan tidak konsisten. Pada saat Paulus menentang sunat, yang ditentang bukan sunatnya, yang ditentang Paulus adalah konsep esensial yang keliru, bahwa untuk selamat itu perlu berbuat baik, perlu disunat. 

Itu bertentangan dengan injil. Tapi kalau sunat itu hanya dalam arti ekspresi kultural, Paulus justru memerintahkan Timotius untuk bersunat. Sebab kalau Timotius tidak bersunat, lalu bertemu dengan orang-orang Yahudi yang menganggap sunat itu penting sekali, maka itu akan menjadi hambatan dalam pemberitaan injil. Sunat dalam kasus Timotius itu sifatnya kultural, tapi sunat di pasal 15 yang dipaksakan oleh orang-orang Yahudi kepada orang-orang non Yahudi, supaya mereka diselamatkan, itulah yang ditentang oleh Paulus. Di sini Paulus mengadakan kontekstualisasi ekspresi. Esensinya di dekontekstualisasi, setelah itu yang sifatnya kultural (ekspresif) diadakan kontekstualisasi.

Tentu kita ingat, pada waktu para rasul dan para penatua di Yerusalem mengambil keputusan, keputusan itu berkaitan dengan teologi dan kultural. Keputusan itu nanti akan dibawa kepada orang-orang Yahudi dan orang Yunani. Siapa yang paling tepat untuk berbicara kepada orang Yahudi dan Yunani, kalau bukan Timotius? Karena ayahnya adalah seorang Yunani (16:3) dan ibunya adalah seorang Yahudi (16:1). Sehingga pada saat Timotius menyertai Paulus dan memberitakan itu kepada semua orang baik Yahudi maupun non Yahudi, maka Timoitus menjadi agen pemberita yang paling cocok. Sebenarnya Paulus juga adalah agen yang cocok. Paulus secara etnis dia adalah orang Yahudi, tetapi Paulus tinggal lama di perantauan, jadi dia tinggal lama di antara orang-orang yang non Yahudi.

Injil tidak pernah boleh dikompromikan. Allah Tritunggal, dwi natur Kristus, predestinasi, itu semua esensial. Keselamatan hanya ada di dalam Yesus, itu tidak boleh dikompromikan. Alkitab itu firman Tuhan, itu tidak boleh dikompromikan. Kita diselamatkan karena anugerah dan bukan karena perbuatan baik, ini esensi sekali maka tidak boleh dikompromikan. Tetapi kalau kita bicara tentang ekspresi, misalnya bagaimana gaya memuji Tuhan, jenis alat musik yang kita pakai, pemilihan lagu-lagu, buatlah kesepakatan yang bijaksana tentang hal-hal itu.

Ketiga, selain dekontekstualisasi esensi dan kontekstualisasi ekspresi, kita juga harus mempertahankan kesalehan kristiani. Perhatikan ayat ke-1, Timotius disebut seorang "murid", bukan hanya seorang yang percaya. Kemudian di ayat ke-2 ia disebut dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium. Jika kita mau teologi yang kuno, yang benar itu bisa relevan dengan dunia kontemporer, tidak bisa tidak, kita harus melakukan teologi itu untuk menjadi sebuah kesalehan. 

Sebab di manapun situasi berubah, kesalehan tetap akan dihargai. Di dalam dunia ini yang senantiasa berubah cara berpikirnya ini, orang-orang saleh akan selalu dihargai, walaupun tidak selalu dicintai. Di dalam dunia post-modern  yang tidak suka perdebatan, yang menganggap kebenaran itu relatif, tidak merasa perlu berdiskusi untuk menentukan benar salah, apalagi memberitahu mana salah mana benar, di tengah situasi seperti ini, cara penginjilan yang bijaksana adalah pemberitaan injil melalui hidup kita. Di tengah situasi yang berubah, kesalehan kita seharusnya tetap dipertahankan. Kalau kita menghadirkan teologi yang bagus tapi tidak menunjukkan hidup yang cocok dengan teologi itu, orang tidak akan peduli dengan injil.

Keempat, kita juga harus menjaga antara keluasan dan kedalaman kekristenan. Dalam 16:5 ada kedalaman iman, iman mereka semakin dikuatkan, tapi lalu ada keluasan juga, yaitu mereka jumlahnya ditambahkan oleh Tuhan. Banyak gereja modern hanya memikirkan perluasannya saja, hanya pusing memikirkan bagaimana supaya jemaatnya bertambah banyak. Mereka memulai dari apa yang disukai banyak orang lalu menyediakan hal yang semua orang sukai itu. Ini namanya hanya mengejar perluasan, tetapi tidak mengejar kedalaman dari kekristenan. Seharusnya yang paling penting bukan masalah angkanya ditambah, tetapi imannya dikuatkan.

Karena itu di 16:5 yang disebutkan duluan adalah kedalamannya, yaitu iman jemaat dikuatkan, baru setelah itu jumlahnya ditambahkan. Gereja-gereja modern yang ingin supaya terlihat relevan, terlihat fashionable, terlihat futuristik, seringkali meninggalkan hal yang paling penting, yaitu iman. Bagi mereka yang paling penting itu ornamen. Tentu kita tidak boleh juga anti terhadap permianan lampu, panggung yang indah. Hal itu dapat menjadi sarana yang cocok untuk menjangkau anak muda. Tapi kalau kita mulai dari yang begitu, lalu mengabaikan pengajaran yang mendalam, lupa dengan pemabahasan Alkitab yang teliti, mengabaikan teologi yang solid, maka kita telah mementingkan sesuatu yang sebetulnya kurang penting.

Semua gereja yang mau membawa teologi yang benar ke dalam dunia yang kontemporer, harus memulai dengan iman yang esensi tadi, diperkuat, diperkuat, dan terus diperkuat. Lalu kemasannya bisa dibuat sekontemporer kebutuhannya, bukan sekontemporer mungkin. Sehingga yang terjadi adalah, pengajaran kita semakin mendalam, dan jangkauan kita juga semakin meluas. Jangan hanya pilih salah satu. Karena ada gereja-gereja tertentu yang hanya menekankan pentingnya pengajaran mendalam, tidak bertambah jumlah jemaatnya tidak apa-apa. "Kalau iman gereja itu semakin mendalam masa sih tidak bertumbuh secara kuantitas? 

Gereja yang sehat menjaga keseimbangan antara kedalaman dan keluasannya. Gumulkan dengan serius keduanya, maka iman kita akan terlihat lebih menarik bagi orang-orang di zaman kontemporer. Jangan jadi orang Kristen seperti katak dalam tempurung, tapi jangan juga terlalu ceroboh dengan hal-hal yang baru sehingga menjadi gajah dalam tempurung, nanti tempurungnya pecah. Berpikir yang wajar, menghargai tradisi yang esensial, tetapi juga harus berani membuka diri dengan hal yang sifatnya tidak esensial. Untuk menjaga kesimbangan ini diperlukan Roh Kudus, diperlukan pengetahuan Alkitab yang baik.