Mohon tunggu...
Stephen Sihombing
Stephen Sihombing Mohon Tunggu... mengabdi bagi kemanusian dengan keteladanan Yesus

mengembangkan narasi iman bagi kebahagiaan umat http://sgrsihombing.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Berdamai

14 Juni 2020   07:31 Diperbarui: 14 Juni 2020   07:36 18 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berdamai
timesofisrael.com

Renungan Minggu

Kejadian 31:43-50

Kisah keluarga Yakub begitu dramatis dan sarat pelajaran rohani. Yakub beserta keluarganya memutuskan untuk meninggalkan Laban, dan pulang ke rumah ayahnya Ishak di Tanah Kanaan. Keberangkatan Yakub dan keluarga berlangsung secara diam-diam, tanpa diketahui sama sekali oleh Laban. Yakub mengambil keputusan itu sebab dia sudah mendapat wahyu dari Tuhan untuk pulang ke tengah keluarga besarnya. Selain itu Yakub mendapati kebencian bapa mertua dan iparnya sebab kekayaan Yakub yang bertambah banyal. Yakub membicarakan keputusan dan rencananya itu kepada keluarganya dan mendapat dukungan penuh. Mereka pun berangkat untuk menempuh perjalanan panjang ke Kanaan.

Percakapan Yakub dengan Laban terjadi di Gilead yang jauhnya  600 km dari kota Haran, kediaman Laban. Laban mengejar rombongan Yakub tujuh hari lamanya. Laban mengungkapkan kemarahannya sebab Yakub telah pergi tanpa berbicara; tanpa permisi. Yakub menyebut Yakub sebagai orang yang tidak jujur dan tindakannya sebagai kebodohan. Selain itu Yakub dituduh sebagai pencuri patung sesembahan Laban (terafim, dewa penjaga rumah). Laban pun melakukan penggeledahan dan tidak menemukan patung sesembahannya itu.

Yakub pun berkomentar keras bahwa tindakan Laban sudah berlebihan. Yakub membuka semua perlakuan kejam bapa mertuanya selama bekerja sebagai pengembala kawanan kambing domba. Dua puluh tahun Yakub menghadapi penderitaannya dan dia selalu melakukan yang terbaik kepada Laban. Yakub menganti setiap ternak yang dicuri, yang dimakan binatang buas atau yang gugur saat lahir. 

Yakub bekerja tekad bekerja dengan maksimal tanpa mengeluh atau meminta keringanan. Yakub bahkan sudah sepuluh kali aturan tentang uahnya diubah. Artinya, upahnya Yakub di luar batas kewajaran. Yakub mengalami kerugian finasial saat bekerja dengan bapa mertuanya. Hanya karena berkat Tuhan yang membuat seluruh pekerjaan Yakub berhasil. Dan karena Tuhan berkehendak, maka waktunya sudah tiba untuk meninggalkan kota Haran kembali ke Kanaan, ke rumah orang tuanya: Ishak dan Ribka.

Situasi yang memanas itu menjadi dingin saat Laban membuka percakapan untuk berdamai. Laban mengajak Yakub untuk mengikat perjanjian damai dengan timbunan batu sebagai kesaksian bahwa pertama, Yakub memperlakukan baik kedua istrinya dengan tidak mengambil istri lain. Rupanya Laban menyampaikan isi hatinya yang paling dalam agar Yakub sungguh-sungguh mengasihi kedua anaknya, Lea dan Rahel. Yang kedua, timbunan batu dan tugu itu tidak boleh dilanggar dengan maksud jahat. Artinya, hubungan kedua benar-benar berdamai; tidak ada lagi kebencian; tidak ada lagi prasangka buruk; tidak ada lagi niat jahat.    

Kisah ini mengajarkan kita hal penting dalam hubungan antar keluarga dan sesama yakni berdamai. Tanpa berdamai hubungan yang sudah buruk bertambah buruk bahkan selamanya buruk sampai kematian datang. Bagaimana kita bisa berdamai? pertama, berdamai tidak bisa dilakukan salah satu pihak. Yang punya kekayaan dan jabatan tidak dapat memaksakan perdamaian tanpa mendengar apa yang dirasakan orang lain. Dibutuhkan kerendahan hati dan bukan keegoisan. Orang egois tidak bisa berdamai sebab dia tidak pernah mau mendengar apapun apalagi belajar sesuatu dari orang lain. Laban mendengar dari Yakub sendiri apa yang sudah dikerjakannya dengan tulus. Laban menerima perkataan Yakub dengan pikiran terbuka dan bukan dengan kemarahan.

Dengan berdamai maka masalah dalam keluarga dapat diselesaikan sebab masing-masing mau saling mendengar dan menerima. Hanya dengan sekali pertemuan, Laban dan Yakub berdamai. Laban menghentikan kemarahan dan kebenciannya dan melihat dengan pola pandang yang baru: kasih terhadap keluarga; kasih terhadap anak cucu; kasih terhadap menantunya sendiri. Berdamai bisa dilakukan tanpa perlu waktu lama dan proses yang berbelit-belit. Asal ada kemauan maka tidak ada yang mustahil untuk berdamai segera.

Yang kedua, berdamai menjamin kebahagiaan hidup. Saudara mau lihat kebahagiaan hidup keluarga maka berdamailah. Jangan ada lagi maksud jahat. Jangan lagi hidup seperti orang yang tidak mengenal Allah. Laban mendengar pesan Tuhan Jagalah baik-baik, jangan engkau mengatai Yakub dengan sepatah katapun (31:29). 

Coba saudara bayangkan penyembah berhala ini masih mau mendengar firman Tuhan untuk tidak berkata jahat! Untuk menghormati Yakub meskipun dia anak menantunya. Tuhan berbicara kepadanya dan Laban mendengar suara Tuhan. Kadang kita yang hari-hari baca Alkitab dan dengar firman Tuhan malah hidup dengan berkeras hati; tegar tengkuk; kepala batu dan sombong rohani. Dengan mendengar suara Tuhan ada kedamaian dalam hati untuk juga melakukannya. Laban berpikir panjang tentang kebahagiaan keluarga besarnya. Dengan berdamai ada jaminan kebahagiaan dalam hidup.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x