Mohon tunggu...
Stanley Bratawira
Stanley Bratawira Mohon Tunggu...

Lahir di Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Stop Menggunakan Kata “AUTIS” Sembarangan! Memang Kenapa?

15 September 2011   17:39 Diperbarui: 26 Juni 2015   01:56 0 0 0 Mohon Tunggu...



Stop Menggunakan Kata “AUTIS” Sembarangan! Memang Kenapa? 

 

Belakangan ini kita sering mendengar, membaca atau melihat, ada sebagian anggota masyarakat yang menggunakan kata “Autis” dengan demikian mudah dan enaknya, untuk mengambarkan keadaan orang yang asyik dengan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya, bahkan ada pula yang menggunakan kata autis itu dalam konteks untuk mengejek atau mengolok-olok orang lain. Kata “autis” misalnya sering digunakan untuk menggambarkan orang yang sedang keranjingan atau asyikchating menggunakan handphone (HP). Demikian juga terhadap oknum pejabat atau politikus atau orang biasa yang asyik dengan kepentingan dirinya dan tidak peduli dengan kepentingan masyarakat di sekitarnya, acap kali ada yang mengumpamakannya sebagai Autis. Selain itu, kita juga masih sering menjumpai adanya orang yang mengejek atau mengolok-olok orang lain dengan kata “autis”, termasuk juga terkadang kita masih menjumpai adanya pembawa acara yang melakukan hal seperti itu di layar televisi.




Penggunaan kata “autis” seperti itu tentunya tidak dapat dibenarkan atau diterima oleh kalangan yang cukup memahami dan peduli dengan autisme, terlebih lagi oleh penyandang autisme dan keluarganya. Mengapa demikian? Untuk menjelaskannya kiranya ada baiknya kita simak uraian berikut ini.



Autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks, yang ditandai oleh adanya gangguan komunikasi, gangguan interaksi sosial dan adanya tingkah laku tertentu yang khas serta dilakukan secara berulang, yang  gejalanya itu sudah timbul pada anak sebelum berusia tiga tahun.
Keadaan penyandang autisme memang sering disebutkan seperti hidup di dunianya sendiri, namun sebetulnya tidak sesederhana itu. Autisme lebih komplkes daripada itu. Autisme adalah suatu diagnosa y
ang ditegakkan berdasarkan sejumlah gejala yang ada pada seseorang, dan berdasarkan kriteria diagnosa tertentu.
Jadi pengertian autisme tidak lain dan tidak bukan mengarah kepada adanya ketidakmampuan tertentu atau gangguan yang dialami oleh seseorang. Diagnosa autisme biasanya dan seyogianya juga ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan yang seksama, dan label autis itu digunakan dengan maksud untuk memahami keadaan gangguan yang dialami seseorang dan untuk tujuan memperbaiki hambatan atau gangguan yang ada tersebut, bukan dengan maksud untuk melecehkan, mengolok-olok ataupun memojokkan.



Autisme bukanlah suatu keadaan yang diinginkan, bukan sesuatu yang secara sengaja dipilih dan bukan sesuatu yang menyenangkan serta diharapkan oleh keluarga. 

Autisme dapat terjadi karena adanya permasalahan pada susunan syaraf pusat (ketidaksempurnaan secara neorobiologis), dan hal ini dapat dialami oleh individu siapa saja tanpa memandang asal usul suku, latar belakang sosial ekonomi, pendidikan orangtua maupun negara atau tempat asal. Asal mula terjadinya autisme bukan pula disebabkan oleh kesalahan orangtua dalam mengasuh atau mendidik anaknya.



Mengacu pada penjelasan tersebut di atas, maka kiranya dapat dimengerti bahwa, orang yg demikian asyiknya chating menggunakan handphone sehingga tidak peduli dengan lingkungan sekitar, seakan-akan hidup dalam dunianya sendiri karena keasyikannya itu, jelas berbeda dengan keadaan yang sebenarnya dari individu autistik. Demikian juga orang yang tidak peduli dengan lingkungan masyarakat di sekitarnya, yang cuma asyik memikirkan kepentingan dirinya atau kelompoknya, juga jelas tidak tepat kalau diumpamakan seperti individu yang hidup dengan autisme. Apalagi jika diingat bahwa pengguna HP atau orang yang tidak peduli dengan orang lain itu, biasanya mereka melakukannya dengan sengaja atas kesadaran dan pilihannya sendiri, sedangkan pada penyandang autisme, mereka terlihat seperti hidup dalam dunianya sendiri itu karena mengalami gangguan dalam perkembangannya. Dengan demikian mengumpamakan pengguna HP

sebagai “autis”, atau mengatakan bahwa orang yang tidak peduli dengan kepentingan orang lain itu sebagai “autis”, secara obyektif dan dari segi definisinya juga sudah tidaklah tepat. Dalam hal ini terlihat, meskipun mungkin saja orang yang menggunakan kata “autis” seperti itu memang semula tidak bermaksud menyinggung atau melecehkan penyandang autisme dan keluarganya, tetapi yang jelas ialah telah terjadi kekeliruan dalam menasfsirkan kata “autis” itu.



Di samping itu, sebagai mahluk sosial yang seyogianya juga peka terhadap perasaan orang lain, kita dapat memahami bahwa autisme bukanlah keadaan atau kata yan

g boleh dengan seenaknya dipakai untuk bahan gurauan, mengolok-olok atau mengejek orang lain, apalagi jika hal itu disampaikannya secara terbuka kepada publik melalui media massa.



Demikian rumit dan banyak permasalahan dalam hal kemampuan berkomunikasi, interaksi sosial dan tingkah laku serta emosi, yang mungkin dialami penyandang autisme. Banyak para orangtua atau keluarga dari penyandang autisme, sehari-hari dan secara terus-menerus berjuang dengan segala daya dan upaya, untuk mengatasi atau memperbaiki kekurangan yang ada pada anaknya. Tak terhitung betapa banyak waktu, tenaga dan perhatian serta biaya bahkan juga air mata, dicurahkan orangtua dalam rangka menanggulangi masalah gangguan autisme pada anaknya. Selama ini, komunitas autisme juga terus-menerus berjuang mengusahakan supaya penyandang autisme dapat lebih diterima dan memperoleh perlakuan secara wajar di dalam masyarakat.
Maka, bisa kita bayangkan, betapa sedih dan betapa hati terasa seakan disayat-sayat, bila sementara itu, ada orang lain yang dengan seenaknya menggunakan kata “autis” sebagai bahan olok-olokan misalnya.


Demikian kiranya dapat dipahami, betapa penggunaan kata “autis” yang tidak pada tempatnya di dalam masyarakat memang perlu dihentikan. Sebaliknya, jika kita dapat bersikap lebih bijaksana dan peduli serta menghargai keberadaan orang-orang yang hidup dengan kebutuhan khusus termasuk autisme, maka hidup ini akan terasa lebih bermakna. Bukankah demikian?


Penulis: Stanley Bratawira