Mohon tunggu...
Johanes Krisnomo
Johanes Krisnomo Mohon Tunggu... Penulis

Penulis, fotografer, pemerhati lingkungan hidup, teknologi pangan, kesehatan, kimia pangan. Alumnus Kimia ITB dan praktisi di Industri Pangan. https://www.kompasiana.com/stalgijk

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sebutan Mas, Mbak, Kecuali Pak Tjiptadinata

12 Januari 2019   11:35 Diperbarui: 12 Januari 2019   12:08 0 68 45 Mohon Tunggu...
Sebutan Mas, Mbak, Kecuali Pak Tjiptadinata
Sumber : www.kompasiana.com

Santai! Akhir pekan maunya santai. Tak bahas masalah sulit ataupun rumit. Nampaknya menarik bila kita berceloteh tentang sebutan nama antar sesama Kompasianer.

Meski belum tentu benar-salahnya, biasa saya gunakan sebutan Mas, Mbak selain Pak untuk Pak Tjiptadinata.

Standar sebutan yg saya terapkan saat memberi komentar di laman artikel Kompasiana adalah Mbak atau Mas, untuk kawan lama maupun baru.

Sebutan itu, bukan berarti saya lebih muda, tapi mengarah ke sikap hormat antar kawan. Apalagi hampir kebanyakan kawan-kawan Kompasiana belum pernah dijumpai wujud aslinya.

Perasaan saya sich, saya-nya hampir pasti lebih senior dari yang lainnya, kecuali Pak Tjiptadinata.  Senior dari segi umur, penghalus kata lebih tua, dan bukan status kepangkatan di Kompasiana.

Pak Tjiptadinata Effendi, siapa tak kenal beliau. Dialah yang benar-benar atau asli disebut senior. Bayangkan, sekitar 3888 artikel telah diposting dalam kurun waktu 6 tahun, bergabung sejak Okt 2012.

Bila dihitung-hitung, adalah sekitar 1,7 atau 2 artikel tiap harinya. Ya, ampyun! Malu-lah kita-kita nich, maaf ada juga kawan-kawan lain yang mampu menayangkan tiap hari 1 artikel.

Saya pribadi belum konsisten, lebih sering libur daripada menulis-nya. Bergabung sejak Juni 2010, lebih dulu 2 tahun dari Pak Tjiptadinata, total 274 artikel, dengan hasil rata-rata 2 minggu 1 artikel. Cuma, sekitar tengah tahun lalu, sudah mulai kejar tayang dua hari 1 artikel.

www.kompasiana.com
www.kompasiana.com
Tepatlah sudah, apa yang saya lakukan, panggilan Pak untuk Pak Tjiptadinata. Selain ungkapan hormat yang mendalam, di jelang usianya yang 76 tahun, kreatifitas menulisnya mengalir begitu deras, kaya dengan inspirasi berdasarkan apa yang dilihat dan dirasakan, sejak dulu waktu tinggal di Padang -- Indonesia hingga kini bermukim di Australia.

Jangan lupa, Ibu Roselina, yang merupakan istri Pak Tjiptadi juga Kompasianer yang produktif. Mereka berdua, pasangan bahagia yang sangat menikmati hidup dengan aktif menulis di usianya yang tak lagi muda.

Lain soal kalau menyebut hanya nama-nya, tanpa embel-embel Mas atau Mbak, selain tak tega juga ada perasaan kurang sopan atau kurang hormat.

Bila tak ada nama di akun, seringnya disikapi dengan cara  menyebut kawan atau sahabat. Semisal sahabat Putri Malu, untuk akun Kompasiana dengan nama Putri Malu. Maaf, hanya  contoh saja, karena belum tentu ada nama akun tersebut.

Tentang sebutan Mas dan Mbak, nyatanya aman-aman saja, tak ada yang protes. Beberapa kawan Kompasianer yang sudah senior pun, dari segi umur maupun karya, terkadang ada perasaan risih, dan segan saat memulai dengan Mas dan Mbak.

Semoga panggilan sopan dan hormat kepada kawan-kawan penulis Kompasiana, Mbak dan Mas, tetap berlanjut, sepanjang ada kenyamanan suasana hati. Demi terciptanya keterjalinan nilai-nilai persahabatan yang berlandaskan saling asah, salih asih dan saling asuh.

Bandung, 12 Jan 2019