Mohon tunggu...
Tomson Sabungan Silalahi
Tomson Sabungan Silalahi Mohon Tunggu... Penulis - Seorang Pembelajar!

Penikmat film dan buku!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menghantar Anak pada Dunia (yang Benar-benar) Baru

4 Juli 2016   15:16 Diperbarui: 4 Juli 2016   15:32 70 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber: radio.itjen.kemdikbud.go.id

Hari pertama sekolah, biasanya, para orang tua antusias menghantarkan anak-anak mereke sampai ke sekolah masing-masing, terutama anak yang masih pertama sekali menginjakkan kaki ke dunia sosial baru mereka, PG (Play Group), TK (Taman Kanak-Kanak) dan SD (Sekolah Dasar). Pemandangan reaksi anak umur 4 tahun sampai 7 tahun masuk sekolah pada hari pertama sangat beragam. Ada dua ekspresi yang umum yang sangat bertolak belakang. Ada yang sangat menikmati, sangat senang  dengan dunia barunya, ada justru yang menunjukkan rasa takut, takut ditinggal orang tua di tempat barunya.

Gambaran di muka boleh saja menimbulkan pertanyaan.  Pertanyaannya, pertama adalah apakah orang tua perlu menghantar anak-anaknya itu?, kedua perlukah anak SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan anak SMA/SMK (Sekolah Menengah Atas/Kejuruan) bahkan yang hendak memasuki dunia Kampus dihantarkan seperti ketiga kategori di atas? Jawaban dari semuanya adalah perlu. Kemudian muncul pertanyaan yang datang dari rasa terkejutnya, mahasiswa juga perlu? Sekali lagi, ya, kenapa tidak?

Berdasarkan pengalaman penulis, seorang yang masuk ke dunia kemahasiswaan, akan merasa bahwa dia sudah benar-benar dewasa untuk memutuskan apa yang terbaik baginya. Cenderung tidak mau didikte. Namun, persepsi mereka yang menganggap bahwa mereka sudah benar-benar dewasa dalam mengambil keputusan dalam diri mereka sendiri tidak selamanya benar. Baik, sebelum jauh, kita sedang membahas keadaan regular yang pada umumnya terjadi, selesai SMA/SMK masuk kuliah, bukan, seperti penulis yang kuliah setelah 5 tahun mencari pekerjaan kemudian masuk Kampus pada tahun keenam pasca SMK.

Kecenderungan mahasiswa baru adalah ingin bebas dari kekangan orang tua yang selalu mendikte mereka, hingga kalau tidak dikontrol bisa jadi kebablasan. Nah, untuk langkah awal adalah menghantar mereka pada hari pertama mereka memasuki kuliah. Bisa terkesan “anak mami” dan mereka akan malu, tapi jika mereka benar-benar hormat dan sayang kepada orang tuanya, hal ini tidak akan jadi masalah, bukan bencana besar, selain bahwa orang tuanya benar-benar mendukung perkembangan hidupnya. Kalaupun tidak bisa menghantar anaknya pergi kuliah, setidaknya orang tua tahu di mana anaknya akan belajar, fakultas apa, jurusan apa, dosennya siapa saja. Seperti pengalaman penulis memang parah, sekali pun orang tua tidak pernah datang ke kampus dan terkesan tidak peduli dengan dunia kampusku, tapi memang penulis juga tahu bahwa selain mereka sibuk dengan pekerjaan mereka di Ladang yang hampir setiap hari, mereka sudah menganggap saya cukup dewasa dan mereka tidak tamat bahkan SD hingga merasa tidak pantas untuk ikut campur selain memberi dukungan moral dan material.

Lain lagi dengan pengalaman teman penulis, mereka bahkan menganggap bahwa dunia kampus mereka tidak perlu diketahui dan tidak penting untuk orang tua mereka ikut campur selain memberi materi, bekal mereka di kampus, karena kalau diketahui selain mereka menganggap bahwa orang tua merekea tidak tamat SD dan tidak akan mengerti dunia kampus juga akan susah untuk meminta uang tambahan yang ditambah-tambahkan. Pertanyaan kedua kiranya sudah dijawab, kalau seorang mahasiswa juga perlu dihantarkan maka apalagi dengan anak SMP dan SMA/SMK.

Mengapa perlu menghantar anak pada hari pertama mereka masuk sekolah adalah untuk mengenal lebih jauh seperti apa dunia baru anaknya nanti. Selain memang anak PG dan TK pun SD masih sangat membutuhkan perhatian, banyak dari anak-anak jika memasuki dunia baru kurang Percaya Diri, maka di situlah andil dari para orang tua untuk memberi dukungan agar percaya diri anak meningkat, setidaknya di awal-awal dia memasuki dunia baru.

Rasa aman ketika dihantarkan oleh orang tua ke dunia baru menambah semangat bagi anak untuk menimba ilmu di sekolah. Orang tua wajib tahu dengan siapa anaknya berinteraksi, teman-temannya, orang tua temannya, guru-gurunya dan apa yang mereka pelajari untuk boleh memberikan masukan yang diperlukan anak sesampainya di rumah. Karena pendidikan anak bukan semata-mata tugas dari guru mereka di sekolah formal tapi juga orang tua di rumah, karena waktu mereka banyak dihabiskan di lingkungan rumah.

Beberapa kasus bahwa orang tua tidak bisa menghantar anak-anak mereka ke sekolah di hari pertama meraka memasuki dunia baru itu karena harus masuk kerja di jam yang sama dengan anak-anak mereka masuk sekolah menjadi masalah khusus. Maka jika pemerintah menganggap bahwa ini sangat penting, maka bolehlah dikeluarkan izin datang terlambat atau cuti satu hari kepada orang tua yang sedang menghantar anaknya bersekolah di hari pertama. Sudah selayaknya semua pihak mendukung gerakan ini, demi anak-anak bangsa kita yang akan menjadi penanggungjawab kelak jika sudah dewasa nanti menggantikan  yang sudah tua, demi generasi emas yang akan membawa perubahan yang baik bagi negara kita.

Baik, untuk lebih meyakinkan kita, mari kita posisikan diri kita masing-masing pada anak yang sedang menangis karena takut ditinggalkan orang tua di tempat yang benar-benar baru bagi kita, atau kita adalah seorang mahasiswa yang salah melangkah karena menganggap diri sudah cukup dewasa untuk membuat keputusan sendiri yang belum tentu tepat itu. Semua orang membutuhkan perhatian dan kasih sayang, salah satunya ya dengan menghantarkan anak pada hari pertama memasuki dunia barunya.

Jakarta, 4 Juli 2016

Tomson Sabungan Silalahi

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan