Sri Rumani
Sri Rumani Pustakawan

Rakyat kecil, bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa kecuali Alloh SWT yang sedang berjalan dalam "kesenyapan" untuk mendapatkan pengakuan "profesinya". Sayang ketika mendekati tujuan dihadang dan diusir secara terorganisir, terstruktur, dan konstitusional... Email:srirumani@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Posyandu di Dusun, Upaya Mewujudkan Hak Hidup Sehat

10 Oktober 2018   22:53 Diperbarui: 15 Oktober 2018   17:37 1688 9 3
Posyandu di Dusun, Upaya Mewujudkan Hak Hidup Sehat
Ilustrasi: kompas.id

Kesehatan sebagai hak setiap orang, sebagai investasi, sehingga perlu diupayakan, diperjuangkan dan ditingkatkan oleh setiap individu dan oleh seluruh komponen bangsa, agar masyarakat dapat menikmati hidup sehat, mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal (pasal 28 H ayat 1 UUD 1945, dan UU No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan). Oleh karena itu pelayanan kesehatan yang holistik dan berkesinambungan menjadi tanggung jawab pemerintah, masyarakat, dan swasta.

Pelayanan kesehatan dilakukan untuk seluruh tahapan siklus hidup manusia (life cycle), sejak masih dalam kandungan, lahir, balita, anak usia sekolah, remaja, dewasa muda (usia produktif) dan lansia.

Posyandu sebagai sistem pelayanan terpadu antar program yang dinamis seperti program KB, kesehatan, dan berbagai program lainnya, dengan tujuan memberikan kemudahan dan keuntungan bagi masyarakat (BKKBN, 1989 dan Depkes, 1990).

Posyandu sebenarnya sangat penting dan bermanfaat, namun kurang berjalan lancar. Maka perlu ditingkatkan pemberdayaan masyarakat untuk memberikan pelayanan kesehatan bayi atau balita, ibu hamil atau ibu menyusui, remaja dan lansia. Program posyandu di Dusun menjadi garda terdepan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dengan melibatkan puskesmas. Sayang tidak mesti ada petugas dari puskesmas yang datang ketika ada posyandu di dusun. 

Kegiatan posyandu sebagai kegiatan swadaya dari, oleh, dan untuk masyarakat. Ada posyandu balita dan/ batita, posyandu remaja, dan posyandu lansia. Selama ini posyandu balita dan posyandu lansia lebih aktif dibandingkan dengan posyandu remaja. Padahal sama pentingnya andaikan posyandu remaja juga diselenggarakan.

Cuma jam pelaksanaannya, bila siang (antara jam 10.00 - 12.00) mereka sedang belajar di sekolah. Kalaupun hari libur, kendalanya petugas kesehatan dari puskesmas harus kerja lembur, karena di luar jam kerja. Untuk posyandu balita (belum sekolah), dan lansia (sudah pensiun kalau pegawai), pelaksanaannya di hari kerja tidak ada kendala.

Dalam pelaksanaan posyandu, modal sosial menjadi energi untuk menggerakkan dan memberi semangat mengadakan posyandu.  Kader posyandu yang melaksanakan kegiatan ini patut mendapat apresiasi, karena telah mendonasikan tenaga, pikiran untuk acara posyandu. Pengertian modal sosial menurut Prusak L (Field, 2010:26) adalah "Hubungan yang terjadi dan diikat oleh suatu kepercayaan (trust), saling pengertian (mutual understanding), dan nilai-nilai bersama (shared value) yang mengikat anggota kelompok untuk membuat kemungkinan aksi bersama secara efisien dan efektif".

Dalam posyandu yang diselenggarakan PKK Dusun setiap bulan, modal sosial itu berasal dari anggota Dasa Wisma (Dawis) adalah kelompok ibu-ibu minimal dari 10 Kepala Keluarga (KK), dan maksimal 20 KK rumah yang bertetangga untuk mempermudah pelaksanaan posyandu. Tugasnya menyiapkan menu makanan sehat untuk balita dan snack serta minuman untuk lansia. Kemudian kader kesehatan yang mendaftar, menimbang, mengukur tinggi badan, mencatat dalam Kartu Menuju Sehat (KMS), dan memberi penjelasan. Inilah sebenarnya inti dan ujung tombak posyandu, berupa dawis sebagai modal sosial.

Dalam satu Rukun Tetangga (RT) 2 - 3 dasa wisma, dan dalam satu dusun ada 7 RT, berarti total ada 21 dasa wisma, yang secara bergiliran untuk mengadakan posyandu setiap bulannya. Sejatinya kelompok dasa wisma ini yang menggerakkan kegiatan PKK Dusun, dengan kegiatan posyandu dan program lainnya. Untuk mendapatkan fasilitas makanan sehat dan snack sehat baik yang mempunyai balita maupun yang sudah lansia dikenakan biaya sebesar Rp 2.000,-.

Acara dilaksanakan di rumah kepala dusun (kadus), dan khusus untuk lansia ada ceramah kesehatan, yang diisi oleh kader posyandu sebagai penyambung lidah petugas kesehatan dari puskemas. Disinilah sebenarnya program pemerintah itu langsung dapat didengarkan, dilihat, dan dirasakan manfaatnya oleh para anggota posyandu. Posyandu sebagai garda terdepan untuk mewujudkan hak hidup sehat.

Kader posyandu yang sudah dikenal oleh anggota, lebih dipercaya ucapannya, dipatuhi perintahnya, dan tidak ada rasa sungkan untuk bertanya tentang sesuatu yang belum dipahami. Oleh karena itu dalam memilih kader posyandu, bukan saja orang yang bersedia untuk bekerja ikhlas, senang, dalam mengabdikan diri untuk lingkungannya, tetapi perlu sikap dan pribadi yang ramah, berkata dengan sopan santun, beretika tetapi berkarakter dan berkepribadian.

Tidak jarang ada kader yang mempunyai sikap kurang baik, sehingga ucapan, tindakan, dan perilakunya justru dapat melukai petugas dari dasawisma, yang menyediakan makanan, minuman, dan snack. Dalam posyandu semua mempunyai kedudukan yang sejajar, tidak pimpinan yang dapat main perintah seenaknya dengan sesama orang.

Terselemggaranya posyandu adalah kerja tim yang solid, kompak, saling percaya, hasilnya balita, lansia mempunyai hak untuk hidup sehat jasmani, rohani, sosial, ekonomi, dan spiritual. Perlu dipikirkan untuk dihidupkan posyandu remaja, karena ketika balita sehat, dimasa remaja dapat mengalami kendala kesehatan karena pengaruh lingkungan yang kurang baik, misalnya merokok, narkoba, klitih, geng motor, dan lain-lain.

Yogyakarta, 10 Oktober 2018 Pukul 22.53