Sri Rumani
Sri Rumani Pustakawan

Rakyat kecil, bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa kecuali Alloh SWT yang sedang berjalan dalam "kesenyapan" untuk mendapatkan pengakuan "profesinya". Sayang ketika mendekati tujuan dihadang dan diusir secara terorganisir, terstruktur, dan konstitusional... Email:srirumani@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan

Meminta Maaf Itu Perlu Jiwa Besar

14 Juni 2018   23:31 Diperbarui: 15 Juni 2018   00:12 284 0 0

Keramaian dan kesibukan Idul Fitri dimulai sejak H-10 karena bertepatan dengan cuti bersama, yang lebih panjang dan tidak mengurangi cuti tahunan. Perjalanan para pemudik mendapat perhatian dari pemerintah dengan menyiapkan infrasrktur jalan tol, perbaikan jembatan, jalan rusak, melengkapi rambu-rambu lalulintas dan penerangan jalan. Polisi lalu lintas, pramuka, tenaga medis, montir semua merek kendaraan telah siaga untuk membeli pelayanan prima bagi pemudik.

Serangkaian aktivitas bulan Ramadan telah dilalui, kini tibalah saatnya untuk merayakan hari kemenangan dengan penuh berharap keridhoan Illahi. Suasana lebaran di kota kelahiran sangat mengusik kenangan masa lalu ketika masih anak-anak, bermaian, bertengkar, rujuk lagi, main loncat, lari-lari di masjid ketika tarawih dan dimarahi “nenek lampir” (sebutan nenek yang bawel, galak, jutek). 

Namun kreativitas dan daya imaji anak-anak itulah yang membawa kesuksesan, dalam perjalanan study dan kariernya. Mereka pergi merantau karena tuntutan pekerjaan dan tugas negara. Kini masjid itu menjadi sepi oleh celotehan anak-anak, artinya mereka sudah menjadi dewasa, mandiri, dan bekerja di kota lain,bahkan luar negeri.

 Malam takbiran pun tidak ada barisan membawa oncor (bambu diisi minyak tanah diberi kain bekas), untuk takbiran keliling kampung,  menyambut hari yang fitri. Obor telah diganti dengan lampu kerlap kerlip diberi baterai disebut lampion

Pagi hari jam 06.30 aktivitas sholat Idul Fitri, dengan baju, sandal.sepatu baru, mendengarkan khutbah dan doa, dan diakhiri dengan berjabat tangan untuk meminta maaf. Di hari yang Fitri semua kembali ke titik nol, artinya kosong (empty), tidak ada dendam, sakit hati, benci, permusuhan, saling menyakiti, mendzolimi, mengkhianati, menusuk dari belakang, menghancurkan.

Di Indonesia ini sedikit orang yang secara ksatria mengakui kesalahannya, sudah jelas berbuat dzaolim saja masih bersilat lidah untuk membuat argumen yang “kadang” tidak masuk akal, dan semakin menunjukkan kualitas dirinya. Hal ini karena “budaya malu” sudah tidak dimiliki, kulit mukanya tebal, kalau orang Jawa menyebut dengan “rai gedhek”/muka tembok, artinya tidak punyai malu. 

Kalau sudah begini jiwanya kebas, sehingga kaki susah  melangkah, tangan berat mengulur, dan mulut tidak mampu berucap, dan lidahnya kelu untuk sekedar berucap maaf. Diam seribu bahasa, tidak peduli nasib orang lain akibat ketidak berdayaannya.  

Sebaliknya orang berjiwa besar dengan mantap, tegas meminta maaf meskipun tidak di posisi salah, karena meminta maaf lebih mulia daripada yang memberi maaf. Orang yang meminta maaf, rasanya “plong”, dan jiwanya menjadi tenang. Melangkahkan kaki, mengulurkan tangan untuk berjabat dengan melafalkan permohonan maaf lahit batin, lebih gagah berani dibandingkan orang yang “merasa”paling benar, paling hebat, paling berkuasa. Sesunguhnya orang yang meminta maaf itulah yang berhak mendapatkan kemenangan di hari Raya Idul Fitri. Inilah kemenangan hakiki, yaitu “menang tanpo ngasorake” (bahasa Jawa, artinya menang tanpa merendahkan, namun elegan dan berjiwa besar).  

Sementara orang yang tidak bersedia memberi maaf, walau jelas dengan sengaja mempunyai unsur kebencian yang kasat mata/dapat terlihat oleh mata jiwanya tidak tenang karena batinnya berontak akibat telah mencelakakan orang lain dengan sengaja. Kondisi ini sangat menyiksa walau seakan meraih kemenangan, tetapi kemenangan semu. Pada saatnya, atas skenario Aloh SWT orang yang tidak pernah meminta maaf walau bersalah, akan bertekuk lutut dihadapan orang yang pernah disakiti hatinya tetapi memberi maaf. 

Kalaupun tidak di dunia yang fana ini, di alam akherat pasti ada sidang pengadilan terbuka untuk umum dengan hakim yang seadil-adilnya, tidak bisa disuap dan diintervensi oleh siapapun.

Tanpa ada unsur politik, karena semua hal bila ada intervensi  politik masuk di lubang jarum sekalipun dijamin yang benar bisa jadi salah, dan yang salah bisa jadi benar. Sangat tergantung dari “selera” “juragan besar”. Kalau sudah begini apa yang bisa dilakukan oleh orang yang berjiwa besar tetapi pengaruhnya tidak signifikan, bahkan cenderung bikin kacau yang berpotensi mengganggu skenarionya.

Jadi jiwa-jiwa besar itu justru ada di hati sanubari orang-orang kecil yang sangat sederhana, polos, jujur, berkomitmen tinggi. Sebaliknya di relung para punggawa yang arogan, justru bersemayam jiwa-jiwa kerdil, karena sekedar meminta maaf pun tidak ada niat, apalagi melaksanakan. Alasannya sangat ketakutan pundi-punci yang selama ini dimiliki akan tercerabut dari rekeningnya.

Yogyakarta, 14 Juni 2018 Pukul 23.27