Mohon tunggu...
Sri Rohmatiah Djalil
Sri Rohmatiah Djalil Mohon Tunggu... Wiraswasta - Ibu rumah tangga suka cerita

People Choice dan Kompasianer Paling Lestari dalam Kompasiana Awards 2023.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tasyakuran Purna Tugas Kepala Dusun, Gelar Kesenian Daerah

15 Mei 2024   11:26 Diperbarui: 15 Mei 2024   16:57 130
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto Jogoboyo Desa Sidomulyo terima tanda kasih dari karang taruna Dusun Wadeng (Komunitas Dongkrek). Foto dokpri

"Saya sudah 30 tahun menjadi perangkat desa, tentunya banyak salah dan kekurangan dalam melayani masyarakat. Bapak ibu mau memaafkan saya?" Kalimat  itu dituturkan oleh Sri Yatini Asih kepada warga yang hadir dalam acara tasyakuran purna dari jabatannya sebagai perangkat desa. 


Sri Yatini Asih, sering disapa Bu Jogoboyo pada 11 Mei 2024 resmi purna dari jabatannya sebagai Kepala Dusun Wadeng, Desa Sidomulyo, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Madiun. 

Sependek ingatan saya, ini pertama kali ada perangkat desa  purna mendapat apresiasi dari masyarakat dengan diadakan tasyakuran. Tasyakuran diisi dengan berbagai hiburan khas Kabupaten Madiun, seperti dongkrek, reog, campursari. Kesenian ini hasil kreatifitas warga dusun. Harapannya selain nguri-nguri warisan leluhur juga bisa menjadi sumber penghasilan. 

Baca juga Kesenian Daerah

Ketika saya datang ke rumah Bu Jogoboyo pada Sabtu pagi, dapur yang begitu luas sudah dipenuhi warga yang rewang. Begitu juga ruang dalam rumah. Sebagian ibu-ibu memasak, membuat es campur dan mengisi kotak kecil dengan aneka kue. Sementara kaum bapak-bapak yang sebagian besar ketua RT siap melayani penonton. 

Acara hiburan dimulai sejak pukul 08.00 waktu setempat dengan menampilkan kesenian dongkrek dari karang taruna Dusun Wadeng. Anak-anak dukuh piawai memainkan alat musik tradisional, begitu juga penarinya. Siang hari, sekitar pukul 13.00 WIB dilanjutkan dengan seni pertunjukkan reog.


 

Foto Kepala Dusun Wadeng yang purna (jilbab biru) dan Kepala Dusun Sidorejo (jilbab hijau).  foto dokpri/Ribut A Sumaryati
Foto Kepala Dusun Wadeng yang purna (jilbab biru) dan Kepala Dusun Sidorejo (jilbab hijau).  foto dokpri/Ribut A Sumaryati

Kesenian reog ini yang dinanti-nanti warga, karena jarang sekali ada tanggapan reog. Seperti kita ketahui reog merupakan kesenian khas Ponorogo yang semula bernama Barongan. Kesenian ini dikenalkan oleh Ki Ageng Suryongalam dari Bali. 

Pada malam hari acara tasyakuran dimeriahkan oleh artis daerah dengan lagu-lagu yang syahdu. Selain itu, warga sekitar dan tamu undangan juga mendapat suguhan atraksi kucingan. Kesenian kucing-kucingan mirip dengan Reog Ponorogo. Perbedaannya hanya pada alur dan penarinya. Dalam kesenian Kucing-kucingan tidak dilengkapi dadak merak, hanya bujangganong dan barongan. 

Purna tugas, Bu Jogoboyo memberi sambutan. Foto dokpri
Purna tugas, Bu Jogoboyo memberi sambutan. Foto dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun