Sofia Amalia
Sofia Amalia mahasiswa

want to be a writer

Selanjutnya

Tutup

Bahasa

EYD menjadi EBI? Berubah Namanya, Belum Benar Penggunaanya

29 September 2018   06:49 Diperbarui: 29 September 2018   09:54 339 4 1
EYD menjadi EBI? Berubah Namanya, Belum Benar Penggunaanya
pinsdaddy.com

Hai the reader!, Khususnya buat kalian para KOMPASIONER sejati. kali ini saya akan menulis sebuah artikel yang mudah-mudahan bermanfaat untuk kalian semua.

Sebagai seorang manusia, pastinya kita semua pernah dan bahkan sering melakukan kesalahan, begitu pun para kompasioner sekalian. Untuk semua para penulis, tentunnya ketika menulis sebuah karya, kita semua pasti sering melakukan kesalahan, dan bahkan dalam tulisan saya ini juga pasti banyak kesalahannya.

Kesalahan tersebut tidak lain tidak bukan adalah dalam penulisan "Ejaan Bahasa Indonesia". Ejaan Bahasa Indonesia sendiri merupakan aturan-aturan atau kaidah dalam penulisan. Kesalahan ini sering tidak  perhatikan oleh penulis pada umumnya. Kesalahan-kesalahan tersebut baik dari segi penggunaan huruf, penulisan kata, dan penggunaan tanda baca.

KESALAHAN DALAM PENGGUNAAN HURUF

Kesalahan yang biasa ditemukan dalam pemakaian huruf adalah pemakaian huruf kapital. Contohnya penggunaa huruf kapital dalam sebuah nama (baik nama orang ataupun lembaga), biasanya dalam penulisa nama yang memiliki kata yang berarti putra/i seperti binti, van, boru, dan lainnya. Kata-kata tersebut dalam pedoman ejaan bahasa Indonesia, harus menngunakan huruf kecil. Namun,  ditemukan dibeberapa tulisan kata-kata tersebut ada yang menggunakan huruf capital.

Kesalahan lain yang  biasa ditemukan adalah dalam penulisan sebuah judul. Peraturan penulisan sebuah judul seharusnya kata penghubung atau cunjuction (dan, dari, serta, sedangkan, namun,...) tidak boleh menggunakan huruf kapital, melainkan menggunakan huruf kecil.

Contoh penggunaan nama yang benar seperti Siti Fatimah binti Salim, Indani boru Sitanggang, Charles Adriaan van Ophuijsen. Contoh penulisan judul yang benar Ayam Jantan dari Timur, dana Mutiara dari Selatan

KESALAHAN DALAM PENGGUNAAN KATA

Pastinya kita semua tidak menyadari kesalahan-kesalahan dalam berbagai tulisan. Namun, jika kita sudah memahami pedomannya, kita akan mampu membedakan ejaan yang benar dan ejaan yang salah. Contoh dari kesalahan penggunaan kata yang sering ditemukan adalah penggunaan partikel. Partikel -lah, -kah, dan --tah seharusnya dalam penulisannya disambung dengan kata utamanya. Contohnya  Bacalah buku itu baik-baik!, Apakah yang tersirat dalam surat itu?, Siapakah gerangan dia?, Apatah gunanya bersedih hati?.

Adapun partikel yang penulisannya tidak boleh disambung dengan kata utamanya, yaitu partikel pun, dan per. Untuk partikel pun sendiri hanya bisa disambung jika dalam kata hubung seperti adapun.

Sebagian besar tulisan sering ditemukan beberapa kesalahan penulisan partikel pun, dan per. Partikel tersebut sering ditulis sambung denga kata utamanya. Contoh penulisan artikel yang benar, Jika kita hendak pulang tengah malam pun, kendaraan masih tersedia ,Mereka masuk ke dalam ruang rapat satu per satu.

KESALAHAN DALAM PENGGUNAAN TADA BACA

Kesalahan dalam penulisan tanda juga sering ditemukan dalam sebuah tulisan. Tanda baca yang belum benar penggunaanya antara seperti kurung siku ( [...] ), petik tunggal ('...'), dan tanda pisah ()

Penggunaan kurung siku yang benar adalah apabila sebuah kalimat yang diberikan tanda kurung dan didalam kalimat tersebut diberikan tanda kurung lagi, maka harus menggunakan kurung siku. Contoh: Persamaan kedua proses itu (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 3538]) perlu dibentangkan di sini).

Selain itu kurung siku juga digunakan apabila untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan atas kesalahan atau kekurangan di dalam naskah asli yang di- tulis orang lain. Contoh: Ulang tahun [Proklamasi Kemerdekaan] Republik Indonesia dirayakan secara khidmat.

Adapun penggunaan petik tunggal yang benar adalah dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat dalam petikan lain. Contoh: Tanya dia, "Kaudengar bunyi 'kring-kring' tadi?"

Selain itu petik tunggal juga digunakan apabila untuk mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan. Contoh: tergugat = 'yang digugat'.

Kesalahan yang sering terjadi adalah penggunaan tanda pisah, biasanya penulis lebih sering menggunkan tanda hubung seperti "hal 35-38", tapi seharusnya "hal 3538". Sedangkan tanda hubung sendiri digunakan untuk menghubung bukan untuk memisah contohnya seperti anak-anak, warna-warni dan lainnya.

Mungkin hanya itu penjelasan dari saya. Untuk lebih memahami ejaan bahasa Indonesia teman-teman semua bias mendownload e-book dengan link ini.

semoga bermanfaat..