Zulfikar Akbar
Zulfikar Akbar Jurnalis

Peminat isu-isu sosial politik dan humanisme | Pemilik tularin.com

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Jadi Pengerat, Orang Dekat Presiden Pun Takkan Selamat

16 Maret 2019   00:43 Diperbarui: 16 Maret 2019   08:17 544 13 5
Jadi Pengerat, Orang Dekat Presiden Pun Takkan Selamat
Kedekatan dengan Jokowi tidak menjanjikan keselamatan bagi sosok Romi ketika ia melakukan kecurangan - Foto: PPP

Hari Jumat acap dianggap sebagai berkah, tapi justru tak membawa tuah bagi Muhammad Romahurmuziy. Ia justru menjadi buah bibir, jadi bahan berita berbagai media, hingga membuat lawan-lawannya tertawa. 

Operasi Tangkap Tangan (OTT) dilancarkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat hari Jumat yang diyakini membawa berkah, terasa sebagai hari musibah bagi sosok yang terkenal dengan sapaan Romi ini. Bahkan untuk mengangkat dagu saja baginya kini tidak lagi mudah.

Foto-foto yang memperlihatkan bagaimana Romi harus menutup wajah dengan masker dan juga topi, cukup menegaskan perasaan malu menderanya. Satu sisi, di tengah badai menghantamnya, ada pemandangan berbeda di sini: Romi masih memperlihatkan rasa  malunya, saat lazimnya kita disuguhkan pemandangan banyaknya koruptor yang masih mampu tersenyum hingga tertawa.

Oh, maaf, ini juga tidak bisa sepenuhnya dibilang bahwa ia menjadi korban dari badai yang menghantamnya. Namun ini bisa jadi adalah cerita tentang bagaimana buaian angin semilir sempat membuatnya begitu nyaman, bermain-main dan berpikir takkan ada badai yang menghantamnya.

Agak mirip dengan cerita Setya Novanto, yang juga berangkat dari posisi sebagai petinggi partai sekelas Golongan Karya (Golkar). Bedanya, sosok yang acap disapa Setnov ini justru mengawali dengan begitu banyak drama dan cerita. Agaknya Setnov sempat rajin mengikuti cerita telenovela buat menghibur diri di tengah kepenatan di dunia politik, hingga ia pun membangun drama saat ia mencium gelagat akan mengalami situasi di mana ia takkan bisa berkutik.

Romi nyaris tak bisa menyusun drama selayaknya yang disusun oleh Setnov. Di sini bisa dibilang Romi tidaklah selihai Setnov yang memang terkenal memiliki seribu satu cara untuk berkelit, berkilah, hingga membuat publik sempat gregetan dengan jalan ceritanya yang berujung ke jeruji besi.

Apa yang terjadi terhadap Romi jauh lebih cepat, lebih senyap, hingga karier politiknya pun diramalkan akan sepenuhnya lenyap. Mungkin akan mengikuti cerita Suryadharma Ali, pemimpin PPP yang digantikan olehnya, yang juga harus terpental dari pusaran politik karena kasus mirip. 

Imbas ke Jokowi

Adakah imbasnya terhadap Joko Widodo (Jokowi) setelah kasus ini? Banyak yang berpendapat, pastilah ada imbas itu. Tidak sedikit juga yang berpandangan, takkan terlalu berimbas atau tidak akan ada sama sekali, karena sikap partai itu sendiri sudah jelas terhadap Jokowi menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Bagaimana pengaruh terhadap citra Jokowi? Toh, ia kan salah satu pendukung kuat hingga Jokowi akhirnya melenggang kembali ke Pilpres sebagai petahana? 

Di sinilah ada benang tegas, bahwa Romi bukanlah Jokowi. Sekalipun mereka dekat, namun kedekatan di sini tidak berarti sepenuhnya bersatu.

Kedekatan keduanya bahkan tak bisa dikatakan sebagai "persetubuhan" karena apa yang merekatkan mereka hanya kepentingan. Romi mendekat ke Jokowi demi perahu partainya tetap dapat mengarungi ganasnya samudera politik, sedangkan Jokowi pun mendekat dengannya karena memang harus menjaga kedekatan dengan siapa saja yang mendukungnya. 

Kira-kira begitulah kalkulasi politik sederhana. Tidak jauh-jauh dengan pandangan, bahwa apa yang paling dipentingkan dalam politik bukanlah kedekatan atau pertemanan, tetapi kepentingan. 

Lagi-lagi, mirip halnya dengan Setnov, sebelum terjungkal dari perjalanan politiknya, ia pun sempat dekat dengan Jokowi. Terlepas jelang Pilpres 2014 lalu berseberangan, namun akhirnya mereka berdekatan, dan ending-nya adalah Setnov terpental.

Kenapa figur-figur yang sejatinya dapat dikatakan sebagai "orang kuat" tadi yang pernah di lingkaran Jokowi terpental? Ini jadi pertanyaan menarik.

Satu sisi, di sini justru kian menegaskan, bahwa Jokowi bukanlah figur yang menjalin pertemanan untuk kemudian pasang badan sebagai benteng untuk mengamankan semua teman. Tidak. 

Justru, Jokowi memperlihatkan bukti, bahwa ia bukanlah figur yang genit hingga keluar dari perannya sebagai presiden (eksekutif). Ia tidak ingin mendikte yudikatif dan perangkat yang terkait dengan itu. Jika ada yang salah, bahkan yang terdekat atau paling kuat di dekatnya pun takkan dibentengi jika mereka memiliki masalah serius, seserius korupsi yang masih menjadi musuh bagi negeri ini.

Apakah Jokowi sosok tega? Ia rela membiarkan temannya tersandung masalah hukum?

Ini bukan cerita tentang tega atau tidak tega. Bukan juga soal rela atau tidak rela. Sepanjang seseorang memang memiliki catatan baik, sejauh ini Jokowi sudah menunjukkan sikap yang tak kalah baik. Bahkan kepada pihak yang bersikap buruk terhadapnya pun, ia acap membalas dengan baik.

Ada pengecualian, hanya ketika seseorang bersikap buruk terhadap negara. Ya, semisal cerita Setnov dan Romi tadi. Di sinilah Jokowi memilih bungkam, takkan memberikan uluran tangan untuk membuat sang teman termanjakan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2