Mohon tunggu...
Zulfikar Akbar
Zulfikar Akbar Mohon Tunggu... Praktisi Media

Founder tularin.com | Kompasianer of the Year 2017 | Wings Journalist Award 2018 | A good world needs knowledge, kindliness, and courage - Bertrand Russell

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Kebohongan Kini Jadi Citra Prabowo-Sandi

12 Januari 2019   12:09 Diperbarui: 12 Januari 2019   12:38 0 2 0 Mohon Tunggu...
Kebohongan Kini Jadi Citra Prabowo-Sandi
Semestinya ada yang mengingatkan Prabowo-Sandi untuk berpolitik dengan cara lebih terpuji - Foto: Tribunnews.com

Tahun 1998 menjadi tahun tak terlupakan bagi siapa saja yang menyimak apa yang terjadi  saat itu. Tidak sekadar bahwa di tahun itu Soeharto tumbang, tapi di tahun itu juga, Indonesia pun nyaris tumbang.

Tak ayal tahun itu menjadi contoh terdekat dari bagaimana ketika kebohongan demi kebohongan dibiarkan membudaya, menular, dan menjadi kebiasaan di mana-mana. Sebab apa yang dihasilkan adalah pejabat-pejabat korup, petinggi-petinggi negara rakus, dan kerakusan ini menular ke mana-mana. 

Potret itulah yang berkelebat di benak saya ketika menyimak pemandangan telanjang dipamerkan salah satu pasangan calon presiden-calon wakil presiden. Ya, karena kebohongan demi kebohongan yang makin ke sini makin terasa disengaja.

Kesengajaan yang bikin saya merasa yakin, bahwa kebohongan itu tampaknya memang sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari sosok Prabowo dan juga Sandi. Sesuatu yang sangat disayangkan karena kebohongan-kebohongan ini menjadi kebiasaan dari dua figur yang sejatinya sedang di titik sangat menentukan.

Pasalnya mereka adalah calon pemimpin sebuah negara yang sempat lama tenggelam dalam tradisi buruk berupa kecurangan, keculasan, hingga wabah korupsi yang hingga hari ini masih terus diperangi. Bagaimana peperangan terhadap kebusukan itu bisa tetap dilanjutkan untuk menyelamatkan negara, jika misalnya mereka yang melazimkan kebohongan akhirnya sampai memimpin negeri ini.

Dugaan saya, ketakutan disebarkan Prabowo bahwa Indonesia akan punah pada 2030, tampaknya benar. Benar terjadi jika ia sendiri yang memimpin negeri ini. Sebab dengan kebiasaan yang dipamerkannya bersama pasangannya, identik dengan kebohongan, memang rentan membawa negara ini ke jurang kehancuran. 

Kenapa bisa berpikir begitu? Sebab apa yang pernah terjadi masa lalu, jelas menjadi pelajaran sangat penting untuk negeri ini. Belajar dari masa lalu, terbukti memang bahwa kebohongan yang pernah menjadi budaya itu pernah hampir menumbangkan negeri ini. Kasihan sekali jika pelajaran yang terpampang terang begitu tidak terbaca dengan baik untuk melahirkan sikap lebih baik: menentang dan melawan kebohongan.

Apalagi jika seorang calon pemimpin sudah menunjukkan bagaimana kegemarannya dalam menyebarkan kebohongan hingga berakibat pada lahirnya gonjang-ganjing, kebencian, dan berbagai kebiasaan buruk lainnya di tengah masyarakat banyak. Menjadi bukti, bahwa ia tidak mampu menghadirkan sesuatu yang paling dibutuhkan masyarakat, yakni kedamaian dan ketenangan.

Selain itu, Anda masih ingat saat Prabowo berbicara asal-asalan tentang 99 persen masyarakat hidup pas-pasan? Bahkan ia mengklaim kurang dari 1 persen rakyat di negeri ini yang menikmati kekayaan yang ada di Indonesia. 

"Yang menikmati kekayaan di Indonesia adalah kurang dari 1 persen bangsa Indonesia dan yang 99 persen mengalami hidup pas-pasan bahkan bisa dikatakan sangat sulit," kata dia, melansir Tempo.
Presiden Joko Widodo akhirnya mempertanyakan klaim Prabowo tersebut. "Ada yang ngomong 99 persen rakyat kita hidup miskin, pas-pasan. Itu 99 persen angka dari mana," kata Jokowi, Sabtu, 10 November 2018.
Tak ketinggalan Menteri Keuangan Sri Mulyani pun menegaskan bahwa saat ini telah ada sejumlah program khusus untuk penduduk dengan 40 persen terbawah dalam hal kekayaan.
Bahkan, melansir Tempo, intervensi yang dilakukan pemerintah untuk menjawab masalah kemiskinan ada Kartu Indonesia Pintar, Dana Desa, Program Keluarga Harapan, Kartu Indonesia Sehat, hingga Bidik Misi.
Segala gonjang-ganjing hingga kebencian dan amarah yang lahir dari kebohongan yang ditebarkan, membuat energi masyarakat tersita hingga mereka tak bisa fokus pada urusan hidup mereka masing-masing. Mereka jadi terseret justru untuk memikirkan urusan seorang calon presiden yang bahkan tidak tahu mau ngapain kalau terpilih--terbukti dari bagaimana urusan visi misi saja pasangan Capres/Cawapres ini masih terlihat kebingungan. 
Alhasil saat kesusahan mereka alami, alih-alih bisa berkonsentrasi memecahkan masalah hidup mereka, justru terbawa untuk turut larut dalam keluhan demi keluhan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3