Zulfikar Akbar
Zulfikar Akbar Jurnalis

Bekerja di surat kabar olahraga | Pemilik tularin.com | Bukan perjaka |

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Air Mata Buffon dan Italia Sang Raksasa Terluka

14 November 2017   15:02 Diperbarui: 14 November 2017   15:07 984 4 3
Air Mata Buffon dan Italia Sang Raksasa Terluka
Saat Buffon tak dapat membendung air matanya - Gbr: The Guardian

Banyak jalan menuju Roma. Namun Italia yang merupakan negara di mana kota Roma berada akhirnya tak menemukan jalan untuk dapat lolos ke Piala Dunia 2018. Gianluigi Buffon yang terkenal sangar di depan lawan-lawannya, tak dapat membendung air mata setelah Gli Azzurridipastikan gagal untuk dapat bertarung di pesta sepak bola terbesar tersebut.

Jangan lupa. Italia adalah salah satu negara paling sukses di Piala Dunia sepanjang sejarah turnamen tersebut. Sejak mengangkat trofi Piala Dunia pada 1934, mereka juga meraihnya pada 1938. Sejak meraih dua gelar secara beruntun itu, mereka pun kembali menjuarainya pada 1982 dan terakhir pada 2006. Di sela-sela itu, bahkan ada dua kali mereka juga tampil lagi di final pada 1970 dan 1994.

Catatan itu cukup menjadi bukti, Gli Azzurribukanlah "anak kemarin sore". Jadi bukan hal berlebihan jika Buffon meratapi fakta di tengah ia berencana pensiun setelah Piala Dunia, namun akhirnya harus memutuskan gantung sepatu dari timnas setelah negaranya dinyatakan gagal. "Ini jelas sangat menyedihkan, saat di laga terakhir saya jalani justru kami tidak lolos ke Piala Dunia," katanya. "Saya minta maaf. (Permintaan maaf) ini bukan untuk saya, tapi juga Italia--yang selama ini turut saya bela. Kami kehilangan sesuatu yang semestinya sangat berharga bagi kami. Yang paling menyedihkan adalah fakta bahwa semua berakhir seperti ini."

Buffon sendiri telah membela Gli Azzurrisejak Oktober 1997, atau persis 20  tahun ia menjadi bagian tim tersebut. Cukup dipahami bagaimana kesedihan dirasakannya, hingga memuncak pada keputusan untuk pensiun. Namun dalam kesedihan mendalam, Buffon sempat menegaskan sebuah sikap penting untuk menunjukkan karakter mengagumkan. "Tak ada yang perlu dikambinghitamkan. Kami bersama-sama meraih kemenangan, dan kami juga kalah bersama-sama."

Sekarang, tak hanya Buffon, melainkan beberapa nama besar lain yang juga selama ini tak asing dari Gli Azzurri pun memutuskan gantung sepatu, seperti Daniele De Rossi sampai Andrea Barzagli. Bahkan Giorgio Chiellini pun disinyalir akan mengikuti langkah mereka.

Kekalahan 0-1 lawan Swedia di legpertama, dan kegagalan melakukan pembalasan di legkedua yang berlangsung di San Siro, menandai kegagalan tim asuhan Giampiero Ventura ke Piala Dunia 2018. Saat sederet bintang memutuskan gantung sepatu dari timnas, Ventura memilih sikap berkarakter dan keinginannya untuk dapat membayar pukulan terburuk dialami Italia.

Ya, Ventura telah menegaskan takkan mundur. "Saya belum mengambil keputusan untuk mundur, karena saya pun belum berbicara dengan Presiden--Badan Sepak Bola Italia (FIGC), Carlo Tavecchio, " dia menegaskan. Di sisi lain, berbagai desakan di tengah publik Italia menyeruak agar dia mundur. Beberapa nama pelatih lain muncul, agar ditunjuk untuk melatih Italia, seperti Carlo Ancelotti atau Antonio Conte.

Ventura sendiri tak terlalu memusingkan akan dipecat atau tidak. Sebab dia mengaku sangat memahami bagaimana perasaan terpukul dialami timnya, pihak FIGC, terutama publik Italia dan penggemar mereka di seantero dunia.

"Saya sudah menggeluti dunia sepak bola bertahun-tahun dan bisa merasakan semua ini," katanya seperti dikutip football-italia.net(13/11/2017). "Saya juga kecewa, karena saya bisa merasakan bagaiman semangat Nazionale--perasaan memiliki Azzurri--begitu bermakna bagi banyak orang. Saya juga berterima kasih kepada semua yang telah turut meramaikan San Siro hingga menit terakhir. Ini istimewa dan luar biasa."

Patut dicatat, Italia telah 18 kali berkiprah di Piala Dunia sejak 1934 dan juara sejak kali pertama tampil di ajang kelas dunia itu. Sekarang, tak ada lagi Italia di antara negara-negara yang akan bertarung di Rusia.*