Zulfikar Akbar
Zulfikar Akbar Jurnalis

Bekerja di surat kabar olahraga | Pemilik tularin.com | Bukan perjaka |

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Setya Novanto Terjerat, Beringin Tua Tak Sakti Lagi?

13 November 2017   10:25 Diperbarui: 14 November 2017   09:46 3581 11 8
Setya Novanto Terjerat, Beringin Tua Tak Sakti Lagi?
Setya Novanto akan tetap mengayunkan tinju-tinjunya - Gbr: Rappler.com

Nama Setya Novanto saat ini dapat dipastikan jauh lebih banyak dibincangkan. Setelah sempat menghirup napas lega karena "terbantu" oleh praperadilan yang sempat membuatnya bebas dari jeratan Komisi Pemberantasan Korupsi. Novanto pun disebut-sebut sebagai politikus ulung, licin, lihai, cerdik, dan berbagai julukan bernada kekaguman terlepas ada yang menaruh kejengkelan besar atasnya. Sekarang, ia teruji lagi untuk membuktikan, seberapa sakti dirinya atau setidaknya "Beringin Tua" alias Partai Golongan Karya yang selama ini menjadi tempat bertapanya.

Selama ini Novanto tak hanya dibenci oleh mereka yang berdiri di posisi rakyat kebanyakan, atau mereka yang memang tak punya kepentingan politik kecuali hanya menginginkan agar setiap mereka yang terbukti secara meyakinkan terlibat korupsi bisa dibuat kehilangan nyali. Di luar itu, lawan-lawan politiknya di luar Golkar pun menunggu-nunggu ia sepenuhnya terjerat masalah, sebab dengan itu peluang untuk menjatuhkan partai itu pun lebih besar. Di sisi lain, juga ada banyak orang yang separtai dengannya pun menginginkan dia tumbang, dan kekuatan lain naik ke atas dan menjadi penguasa.

Golkar menjadi partai paling menarik perhatian, karena memang mereka masih menjadi salah satu partai terkuat, yang memiliki akar yang tak mudah untuk dicerabut. Jika partai ini bisa ditumbangkan, maka peluang merebut jutaan suara akan lebih besar. Selama ini, hal itu masih sangat sulit, karena memang sejak awal reformasi pun mereka terbilang tenang-tenang saja, bahkan sempat menang setelah sempat tersalip oleh PDIP.

Orang-orang mau melabeli Golkar sebagai partai Orde Baru, atau lebih parah ada yang menyandingkan kekuatannya dengan PKI di era Orde Lama, namun partai yang diotaki Soeharto ini jelas jauh di atas partai-partai yang pernah ada. Bahkan partai-partai yang katakanlah diotaki Soekarno langsung sekalipun, entah Marhaen atau bahkan Partai Nasional Indonesia yang pernah berdiri pada 4 Juli 1927 harus melakukan revolusi pada 1971 hingga lahir Partai Demokrasi Indonesia.

PDI yang belakangan dikenal dengan PDIP, meskipun acap diklaim sebagai wajah lain PNI tetap saja berbeda, dari bungkus hingga isinya. Kalaupun ada beberapa kesamaan adalah di sisi ajaran Marhaenisme, namun sejatinya PNI tetap saja tak berwujud lagi. PDIP tetap menjadi PDIP dengan segala warnanya tersendiri.

Apalagi PNI di masa lalu memang telah berulang kali menunjukkan ketidakberdayaan dan berkali-kali berganti wajah, dari PNI Massa Marhaen, PNI Supeni, PNI Marhaenisme, PNI Baru, Partai Indonesia, hingga PDI dan kini PDIP. Berbeda halnya dengan Golkar, ada banyak sempalan namun masing-masing telah membawa identitas masing-masing, sementara partai beringin ini tetap dengan identitasnya sendiri bersama kekuatannya sendiri yang tak mampu diusik secara serius dari luar atau bahkan dari dalam.

Di sinilah mencuat pertanyaan, setelah kini berbagai senjata mematikan tertuju ke Novanto, apakah Golkar akan tetap memiliki kesaktian seperti dulu? Apakah ekspektasi dari sebagian lawan mereka jika ini bisa menjadi awal untuk menumbangkan beringin secara lebih serius dapat terjadi?

Ekspektasi itu normal saja. Diibaratkan pertandingan sepak bola, semua lawan menginginkan lawan mereka tumbang, jika perlu terdegradasi dari pertarungan. Namun patut pula dicatat jika Golkar menjadi salah satu partai yang mampu menancapkan akar mereka hingga jauh ke berbagai pelosok. Saat partai-partai lain berusaha menguatkan kaderisasi hingga ke sel-sel terjauh, Golkar telah lebih dulu melakukan itu sejak Soeharto menggantikan Soekarno, dan bahkan setelah Soeharto sendiri mangkat.

Kekuatan Golkar itulah yang membuat mereka tak lantas mati setelah otak di balik keberadaannya lebih dulu mati. Golkar masih memiliki banyak otak lain yang tak kalah jeli, tajam, atau bahkan licin dan licik. Apa pun kesimpulan dari luar mereka, partai yang mengawali perjalanan mereka dari nama Sekber Golkar ini tetap berdiri dengan identitas, sebagai beringin yang tak gampang dirobohkan.

Apakah dengan kekuatan itu bisa membuat Novanto tetap selamat, seperti halnya Akbar Tanjung di masa lalu pun selamat ketika orang-orang jamak mengira ia akan terjerat? Yang pasti, di sinilah kesaktian Beringin Tua itu akan teruji, masih tetap sakti atau mungkin telah menumpul. Atau, karena di partai itu saat ini lebih banyak terisi dan dipengaruhi kalangan tua, maka mereka hanya dapat bergantung pada "obat kuat"? 

Kalaupun itu lantas mereka andalkan, dengan usia tua mereka, maka jantung takkan sepenuhnya dapat beradaptasi dengan "obat kuat" tersebut. Maka itu, bagaimana kekuatan kalangan muda di dalamnya dan inisiatif mereka, sedikitnya akan membantu partai ini tetap kuat, termasuk melindungi ketua mereka. Atau, boleh jadi mereka takkan melakukan perlawanan apa-apa di tengah adangan beraroma masalah hukum? 

Yang pasti, mereka tetap saja telah menjadi beringin yang tak mudah diukur lawan, dan masih dapat membawa ancaman serius bagi lawan. Mereka punya ketenangan sebagai "pohon" yang telah menua namun menyimpan "kesaktian" yang masih cukup mampu menggentarkan lawan. Kecuali, jika memang akhirnya mereka menunjukkan luka-luka serius di setiap akarnya, boleh jadi tumbangnya Novanto menjadi awal tumbangnya beringin tua itu.

Eh, Anda tahu, beberapa pekan lalu ada pesan lho dari Setya Novanto. Apa itu? Jangan ada dari kader Golkar yang korupsi!*