Wanita

Purwakarta dalam Hembusan Nafas Garuda

11 Agustus 2017   11:20 Diperbarui: 11 Agustus 2017   11:29 338 0 0
Purwakarta dalam Hembusan Nafas Garuda
sumber: kumparan.com

Tidak diragukan bahkan terbantahkan lagi kalau Purwakarta merupakan miniatur Indonesia. Negeri majemuk dengan perbedaannya yang sangat kaya raya. Padahal permasalahan perbedaan suku, agama, ras mapun budaya telah selesai sejak 28 Oktober 1928.

Permasalahan Kebhinekaan tersebut kembali di uji setelah keragaman Bangsa yang indah ini ingin seragamkan. Pancasila yang menganut asas tunggal perbedaan jelas-jelas tidak bisa menyerapnya.

Berbeda dengan di Kabupaten Purwakarta, Kota kecil di Jawa Barat. dimana Perbedaan menjadi spirit pembangunan manusia maupun pembangunan daerah dengan 'Budaya' sebagai Ruh dan Pondasi utamanya.

Maka tidak salah kalau Kementrian Keagamaan menganugrahkan kalau 'Purwakarta Merupakan daerah yang paling Toleran' Dinegri ini saat Provinsi Jawa Barat dinyatakan sebagai daerah dengan kasus Intoleransi paling tinggi berdasarkan salah satu lembaga survey. Jadi Purwakarta itu bagaikan oase di Jawa Barat.

Menarik kalau berbicara tentang kebijakan Bupati Dedi Mulyadi dalam menjaga kebhinekaan di Purwakarta, Kebijakan yang di keluarkan sangat akurat. karena Beliau memang paham betul permasalahan yang melanda masyarakat yang manjemuk.

Pertama dengan Sekolah Ideologi, siswa sebagai generasi penerus ditanamkan nilai-nilai Pancasila sebagai Ideologi Bangsa yang sudah final. Ini penting bagi siswa untuk menangkis doktrin radikal

Kedua ruang ibadah disekolah sekolah atau orang sunda menyebutnya Padepokan tempat 'tapa Brata' Kontemplasi keilmuan dan ketuhanan. Sekolah adalah tempat yang nyaman untuk memahami disiplin keilmuan, tetapi di daerah lain karena adanya masyarakat yang berbedaan dengan mereka dari ras, budaya, maupun agama terkadang menjadi bahan Bullyan dan olok-olokan temannya.

Ketika itu terjadi, maka secara langsung kita sudah melukai nilai-nilai Pancasila. Dibuatnya ruang ibadah di setiap sekolah agar siswa selain sekolah juga bisa beribadah menurut agamanya masing-masing.

Ketiga Saat hari besar keagamaan lain, berbaur satu dengan lainnya tidak ada batas, tidak ada sekat. Semunya tersenyum bercanda gurau, saling menyuapi dan mengasih dengan rasa silih asah, asih dan asuhnya.

Itu untuk generasi Penerus, bagaimana dengan yang sudah dewasa, atau Bung Karno menyebutnya generasi senior?

Yang paling utama adalah kecerdasaan seorang Pemimpin daerahnya ketika memimpin untuk mempersatukan kemajemukan, yang kedua adalah kedewasan masyarakatnya, yang dimana agama adalah urusan Pribadi anatara manusia dengan Tuhannya (Habluminallah) dan manusia dengan Negaranya (Habluminanas). Permasalahan Negara merupakan permasalahan anatara manusia dengan manusianya.

Mereka bersepakat kalau permasalahan Negara diselesaikan secara bersama-sama dan di jaga secara bersama-sama yang tergabung dalam 'Satgas Toleransi'. Yang tugasnya merawat, menjaga, serta memelihara Perbedaan secara bersama dengan menyampingkan segala kepentingan Pribadi karena kepentingan Negara diatas kepentingan apapun.

Inilah 'Kebhinekaan Purwakarta'  yang saya pahami. Dimana Pancasila itu menjadi kekuatan Persatuan bukan kekuatan kehancuran, dimana Perbedaan itu menjadi Rahmat, bukan menjadi Laknat. Seperti kata pepatah, 'Puncak dari Ibadah adalah Akhlak, Puncak tertiggi dari akal adalah Toleran'

"Dia yang bukan saudaramu dalam Iman adalah saudaramu dalam Kemanusiaan" Imam Ali Bin Abi Thalib.