Budaya Pilihan

Pesona Cantik dari Kota Udang

24 Mei 2018   14:22 Diperbarui: 24 Mei 2018   14:53 407 1 1
Pesona Cantik dari Kota Udang
Dokumentasi Pribadi

 Cirebon berasal dari kata "ci" dan "rebon" yang berarti "ci" itu adalah "air" sedangkan "rebon" adalah "udang kecil", patung udang yang dibuat lalu ditempatkan di Balai Kota menjadi ikon karena patung itu hanya ada di Kota tersebut. 

Cirebon adalah kota yang penuh dengan keberagaman bahasa, yaitu ada bahasa Jawa dan Sunda, percampuran itu yang menjadi pelengkap ciri khas Cirebon, keberagaman yang ada di sana menjadi sesuatu keindahan yang tak ternilai.

Sebelum menjelajahi Kota Udang Rebon ini dan sesampainya di Stasiun Cirebon, matahari telah memanasi kota, banyak becak berlalu lalang dan terlihat di ujung jalan patung kereta yang menjadi ikon Stasiun Kereta Api Cirebon. 

Jalanan di kota ini sangatlah lancar atau bisa dikatakan Kota anti macet; semua kendaraan dengan bebasnya berjalan, tertib akan lalu lintas hingga orang-orang di sana pun sangatlah ramah-ramah.

Stasiun Cirebon yang letaknya di Pusat Kota berdekatan dengan Balai Kota dan Alun-Alun. Konon katanya patung udang yang ada di Balai Kota itu hanya ada di sana, seperti pada kantor umumnya di dalam Balai Kota terdapat orang-orang yang bekerja dan sedang ada pembangunan di belakang pintu masuk utama. Arsitektur bangunannya sama seperti Balai Kota pada umumya hanya saja ada patung udang sebagai pelengkapnya.

Lanjut ke Taman Budaya Hati Tersuci yang merupakan tempat ibadah non muslim (Gereja). Tempat ini sangatlah nyaman, indah, serta sejuk. Banyak patung sejarah awal Yesus menyelamatkan umatnya di taman tersebut. Pemberian nama taman berdasarkan dari bentuk taman yang menyerupai hati. 

Tidak hanya itu saja, di sana disajikan makanan khas Cirebon yaitu Nasi Jamblang, mungkin terdengar sederhana tetapi ada yang berbeda yaitu alas dari tempat makan dan nasinya di bungkus dengan daun jati.

Penjelajahan ini belum usai, karena ada tempat yang menarik hati yaitu Keraton Kasepuhan yang memiliki fakta unik yang berada di sana salah satunya; penyambutan dari 2 Singa yang sedang duduk untuk menjaga Kerajaan Kasepuhan. Terlihat juga Masjid Agung Tirtayasa yang disebut dengan Masjid Merah di sana 7 orang yang mengumandangkan adzan secara bersamaan. 

Di dalam Keraton juga ada Museum yang menyimpan Kereta Singa Barong sebagai kendaraan Sunan Gunung Jati. Sedangkan di luar Keraton Kasepuhan banyak orang yang berjualan makanan sampai cinderamata. 

Makanan yang dijual rata-rata khas Cirebon dan di samping Keraton Kasepuhan masih banyak rumah warga di sekelilingnya. Desa Gerabah Sitiwinangun merupakan tempat yang unik karena terdapat para perajin gerabah yang sudah menjadi tradisin turun-menurun. 

Tidak hanya itu saja, seorang pemuda sebagai pengerak masyarakat tersebut untuk mengikuti pameran dan hasilnya menjadikan desa itu terkenal karena sudah mengikuti pameran 3 kali di Jakarta.

Selain itu kegiatan masyarakat setempat sangatlah tradisional karena masih ada yang mandi dan mencuci baju di kali di sekitar wilayahnya, raut wajah anak-anak di sana sangatlah senang saat mereka berenang di kali tersebut, penerangan desa tersebut juga kurang. 

Namun di antara mereka tidak ada yang mengeluh sedikit pun bahkan mereka menikmatinya. Desa ini juga sangatlah rukun dan warga saling gotong-royong kepala desanya pun sangat menghargai serta mendukung usaha Desa Gerabah ini.

Perjalanan ini tetap berlanjut dan saat ini dikenalkan dengan Desa Batik Trusmi yang masyarakatnya mayoritas pembatik. Tetapi masyarakat tersebut sangatlah ramah dan mereka membatik di salah satu rumah lalu berkumpul membatik yang menandakan jika mereka sangatlah menjalin kekeluargaan dan banyak jenis Batik yaitu salah satunya Batik Megamendung.

Adapun alasan nama khas Batik Cirebon ialah Megamendung menurut para warga mereka menilai dari motif yang seperti awan ketika ingin turun hujan, awan yang tidak teratur dan berwarna biru gelap, Batik Megamendung sudah sangatlah terkenal di seluruh Indonesia. Para warga membatik juga mendapatkan hasil yang lumayan karna warga tak hanya melayani pembeli nasional saja bahkan internasional pun ia bisa.

Tak sampai di situ saja kearifan lokal Kota Cirebon karena sekarang akan membahas salah satu daerah bernama Bondet, tempat pelelangan ikan. Jika ingin masuk dan melihat harus jalan kurang lebih 5 Km, tetapi selama perjalanan akan menemukan banyak sampah tempurung kerang menumpuk di bahu jalan.

Ketika menjelang sore tiba-tiba permukiman warga menjadi sepi, maka dari itu jika ingin pergi atau pulang setelah perahu nelayan karena akan lebih menikmati lagi suasana Bondet yang sebenarnya jauh lebih indah karena dapat melihat aktivitas warga lebih dekat lagi, agar tidak terlalu lelah di jalan, serta tidak terlalu sore di sana karena batas kunjungan sampai jam 17.00 WIB.

Di sisi lain, ada cerita mistis yang diceritakan oleh warga setempat. Ketika batas jam 17.00 WIB bahwa di daerah pesisir harus dikosongkan, sebab ada pergantian penghuni di sana bahkan ada seorang warga bercerita mengenai pengalamannya bahwa saat Maghrib sekitar pukul 18.00 WIB ia masih berada di sana untuk menuju arah pulang.

Namun sudah sebanyak 3 kali dia dibuat berputar-putar daerah itu saja tanpa menemukan jalan keluar tetapi setelahnya ia dapat keluar dari sana. Oleh karena itu, percaya atau tidak percaya terkadang kita harus menghargai kebudayaan daerah tersebut karena mereka telah menjaga dan melanjutkan tradisinya dan larangan yang telah dibuat tentu harus dipatuhi sebagaimana mestinya.

Berlanjut ke Pantai Kajawanan, di sini bisa menikmati sunrise yang sangat indah serta menawan karena di saat melihat sunrise ada juga Gunung Ciremai yang menjadi latar belakang dari pemandangan tersebut. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2